Children Crisis Center Gagas Perwali Perlindungan Anak Korban Kekerasan

Children Crisis Center (CCC), lembaga yang fokus pada perlindungan anak korban kekerasan, menggelar Working Group.

Children Crisis Center Gagas Perwali Perlindungan Anak Korban Kekerasan
Istimewa
Children Crisis Center mengadakan Working Group di Hotel Grand Prana, Bandar Lampung, Rabu (31/1/2018). 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG BENI YULIANTO

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Children Crisis Center (CCC), lembaga yang fokus pada perlindungan anak korban kekerasan, menggelar Working Group di Hotel Grand Prana, Bandar Lampung, Rabu (31/1/2018).

Working Group berupa pertemuan lintas satuan kerja perangkat daerah terkait perlindungan anak ini bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP & PA) Bandar Lampung.

CCC mengadakan Working Group ini untuk menggagas terbitnya Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Perlindungan Anak Korban Kekerasan.

Manajer Program CCC Dewi Astri Sudirman menjelaskan, pelik dan rumitnya masalah perlindungan anak menuntut pemerintah dan masyarakat untuk terus berupaya melakukan tindakan-tindakan yang terstruktur dan sistematis.

"Kebutuhan aturan turunan dari Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 tentang Sistem Perlindungan Anak di Bandar Lampung sangat penting untuk mengimplementasikan amanat undang-undang dan perda sebagai turunannya," jelas Dewi melalui rilis.

"Ini mengingat pelanggaran terhadap UU Pelindungan Anak semakin tahun terus bertambah, baik secara kualitas maupun kuantitas," sambungnya.

CCC menilai, perkembangan pelanggaran terhadap hak anak inilah yang mesti diantisipasi melalui aturan-aturan yang bisa menjerat dan meminimalisasi pelanggaran hak anak.

"Bandar Lampung sebagai kota yang terletak di pengujung Pulau Sumatera serta pusat perdagangan dan hiburan untuk kabupaten/kota sekitarnya tentu akan berdampak pada perilaku dan gaya hidup masyarakatnya. Konsekuensi dari perubahan tersebut juga akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yang merupakan bagian dari masyarakat. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus mengantisipasi dan menjaga tumbuh kembang anak," kata Dewi.

Dari pengamatan CCC, setiap tahun angka pelanggaran terhadap hak anak cenderung meningkat. Khususnya pada kasus kekerasan seksual yang angkanya selalu berada di atas angka kekerasan terhadap anak lainnya.

Halaman
12
Penulis: Beni Yulianto
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved