Pasutri Bunuh Pelajar SMA Pasrah Dituntut 20 Tahun Penjara

Jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Bandar Lampung menuntut dua terdakwa dengan pidana 20 tahun penjara.

Pasutri Bunuh Pelajar SMA Pasrah Dituntut 20 Tahun Penjara
istimewa
Pasutri Bunuh Pelajar SMA di Rajabasa menjalani sidang dengan agenda tuntutan. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sidang perkara pembunuhan siswa SMA di Rajabasa kembali berlanjut di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (13/3/2018).

Jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Bandar Lampung menuntut dua terdakwa dengan pidana 20 tahun penjara.

Kedua terdakwa yang merupakan pasangan suami istri (pasutri), Agus Nawi dan istrinya Rita Lia Epiyana (22) alias Fita hanya bisa pasrah mendengar tuntutan tersebut.

Baca: Lampung Jadi Tuan Rumah Konferensi Pemuda Islam Internasional untuk Palestina

Baca: PP Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 17 Mei dan Idul Fitri 15 Juni 2018

Dalam tuntutannya, Jaksa Alex Sander Mirza menyatakan, kedua terdakwa terbukti melakukan pembunuhan terhadap Merdi Irawan dan terbukti melanggar Pasal 340 KUHP ayat 1 ke-1 tentang Pembunuhan Berencana Jo Pasal 55 KUHP.

Setelah jaksa selesai membacakan tuntutannya, Hakim Ketua Mansur bertanya kepada kedua terdakwa apakah penjelasan jaksa sudah jelas.

"Jadi sudah dengar kan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, kalau kalian dituntut 20 tahun penjara. Kalian bisa mengajukan pembelaan atau permohonan bisa sendiri atau diwakili oleh kuasa hukum, jadi bagaimana kalian?" tanya Mansur.

Menanggapi pertanyaan hakim, kedua terdakwa kompak menjawab sembari mengangguk. "Ya kami akan mengajukan pembelaan."

Merdi Irawan, pelajar SMA Mutiara, Natar, Lampung Selatan ditemukan tewas bersimbah darah di dalam kontrakan Agus dan Fita, di Jalan Kapten Abdul Haq, Kelurahan Rajabasa, Bandar Lampung, Minggu (24/9/2017) malam.

Di hadapan ketua majelis hakim Mansur, Agus Nawi dan Fita mengaku telah merencanakan pembunuhan Merdi Irawan.

Mereka pun sudah meyiapkan palu dan pisau sebelum menghabisi nyawa korban dengan cara memukul dan menggorok lehernya.

Agus mengaku awalanya dendam kepada korban karena dalam kejadian sebelumnya korban tidak memberikan pertolongan saat dikeroyok di salah satu rumah remang-remang di Kota Bandar Lampung.

"Saya kenal sama korban dua bulan. Saya pernah main berdua ke rumah remang-remang, saya dikeroyok oranga tapi dia nggak mau bantu. Jadi sejak itu saya dendam sama dia. Setelah itu saya ngomong sama istri untuk panggil korban datang ke rumah. Lalu setengah jam korban datang, baru istri saya datang," kata Agus.

Sementara, tiga penasihat hukum terdakwa Rustamaji, Firman Hidayat, dan Lasmaida Manik, seusai sidang mengatakan, pada intinya kliennya ada dendam dan mereka kalap secara tidak sadar merencanakan pembunuhan itu.(*)

Penulis: andreas heru jatmiko
Editor: nashrullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help