Bom Bunuh Diri di Surabaya, Pentolan Jamaah Islamiyah: Mereka Ingin Ajak Keluarganya Masuk Surga

Mengajak anggota keluarga melakukan teror dan bahkan siap mati itu karena ingin mengajak semua anggota keluarganya masuk surga.

Editor: Safruddin
Tribun Jatim.com
Ali Fauzi, mantan kombatan dan pentolan JI bersama Ahmad Azhar Basyir, matan napiter 8 tahun warga Karanggeneng yang baru sepekan bebas, Sabtu (12/5/2018) 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMONGAN - Gerakan para teroris yang mengacak-acak Surabaya dan Sidoarjo dalam dua hari terakhir harus diurai dan dianalisa menyeluruh.

Mengapa Surabaya, ibukota Provinsi Jawa Timur jadi sasaran dan para pelakunya seluruhnya anggota keluarga.

Tribunjatim.com (grup Tribunlampung.co.id) menemui Ali Fauzi, mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI) yang juga adik kandung sang Trio Bomber Bali, Senin (14/5/2018).

Menurut Ali Fauzi, benar untuk yang pertama di Indonesia teroris mengajak semua anggota keluarganya, suami, anak anak dan istrinya.

Praktik semacam itu sudah biasa dilakukan oleh para teroris di luar negeri seperti Syiria dan Irak.

Baca: Heboh Ustaz Abdul Somad Soal Bom Bunuh Diri, Netizen Ramai Serukan Boikot Tampil di Televisi

Sudah biasa teroris mengajak semua anggota keluarga bersama untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

"Di Indonesia memang baru pertama kali ini. Kalau di Syiria dan Irak sudah biasa," ungkapnya.

Pola ini (bom bunuh diri bersama anggota keluarga, red) memang mengadopsi praktek-praktek di luar negeri.

Mengajak anggota keluarga melakukan teror dan bahkan siap mati itu karena ingin mengajak semua anggota keluarganya masuk surga.

Keyakinan itulah yang menyebabkan mereka sampai mengajak anggota keluarganya untuk mati bersama.

Terkait sasaran di Surabaya, menurutnya, karena Surabaya atau Jawa Timur selama ini sebagai reproduksi calon pengantin dan juga reproduksi bom.

Dipilihnya titik lokasi Jawa Timur juga terkait terbatasnya pendanaan, mereka tidak perlu mengambil orang orang dari luar daerah.

Bukan mengalihkan sasaran dari Jakarta ke Surabaya.

Tren melibatkan seluruh anggota keluarga itu sudah biasa, contohnya dari Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro, tiga saudara sekaligus adik, kakak, bahkan keponakan dan sepupu pernah terlibat dalam jaringan teroris.

"Jadi, ini tidak aneh lagi," ungkapnya.

Baca: Tanggapi Aksi Bom Bunuh Diri di Surabaya, Begini Kata Ahmad Dhani

Dalam pemahamannya, teror semacam ini masih menjadi ancaman di Indonesia.

Pola-pola ISIS ini, termasuk JAD, pengikutnya cukup banyak dan menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

"Cukup banyak pengikut JAD," katanya.

Teroris ini sudah komplikasi, maka penanganannya harus melibatkan ahlinya.

Termasuk harus melibatkan orang yang pernah terlibat dalam medan ini.

Halaman
12
Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved