BMKG Ungkap Penyebab Gelombang 4 Meter di Perairan Kota Agung

Neneng pun mengimbau kepada masyarakat untuk waspada adanya ombak besar ini. Karena kondisi ini diprakirakan akan terjadi hingga tiga hari ke depan.

BMKG Ungkap Penyebab Gelombang 4 Meter di Perairan Kota Agung
Tribunlampung/Tri
Gelombang tinggi di Kota Agung. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Hanif Mustafa 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Gelombang tinggi yang mencapai empat meter di perairan Kota Agung ternyata disebabkan adanya angin kencang.

"Adanya gelombang besar di perairan sisi barat Lampung karena adanya angin kencang," tutur Neneng Kusrini, petugas prakiraan cuaca Badan Meteorologi Geofisika dan Meteorologi (BMKG) Maritim Lampung, Selasa, 29 Mei 2018.

Masih kata Neneng, kecepatan angin di Lampung cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 20 knot.

"Apalagi kemarin baru ada gangguan cuaca yang disebabkan adanya tekanan daerah rendah di Selat Karimata dan Samudera Hindia Barat Lampung. Tapi, sudah hilang. Namun, pengaruh angin kencang masih ada, makanya gelombang makin tinggi," jelas dia.

Neneng membenarkan adanya ombak besar di luar perairan Lampung Barat, khususnya Kota Agung. Ombak ini bisa mencapai 3 hingga 4 meter.

"Kalau perairan dalam Kota Agung ketinggian ombak satu setengah meter hingga dua meter. Itu data kami. Kalau di luar barat Lampung memang tiga hingga empat meter. Perkiraan kasat mata setiap orang berbeda-beda," katanya.

Neneng pun mengimbau kepada masyarakat untuk waspada adanya ombak besar ini. Karena kondisi ini diprakirakan akan terjadi hingga tiga hari ke depan.

"Pergerakan angin kencang ini akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. Jadi ombak besar ini akan masih berlangsung. Bahkan, ombak besar ini mulai nampak di perairan timur Lampung. Biasanya satu meter sekarang bisa hingga lebih dari satu setengah meter," imbuhnya.

Meski demikian, Neneng mengaku pergerakan ombak besar ini tidak memengaruhi arus penyeberangan di Bakauheni.

"Ombak di Selat Sunda bagian utara memang cukup tinggi. Tapi, masih di bawah dua meter. Jadi tidak mengganggu kapal roro," tuturnya.

Walau tidak mengganggu, Neneng mengaku untuk wilayah Selat Sunda diprakirakan lebih tinggi dibandingkan hari ini.

"Lebih dari rata-rata. Tapi, tidak akan mengganggu pelayaran. Memang cuaca berapa hari ke depan juga berpotensi hujan. Walau memasuki awal musim kemarau, pengaruh hujan masih banyak," tutupnya. (*)

Penulis: hanif mustafa
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help