Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya
Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya di Indonesia
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Densus 88 Anti Teror telah mengamankan lima orang terduga teroris di Provisi Lampung.
Dua orang tertangkap di Gedongtataan, dan tiga orang diamankan di Pringsewu.
Hal itu pun dibenarkan oleh Kapolri Jendral Tito Karnavian saat Safari Ramadan di Makorem 043/Gatam bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Senin 4 Juni 2018.
"Ya di Lampung ada beberapa yang tertangkap," ungkapnya singkat.
Saat disinggung sejauh mana posisi Lampung dalam pembentukan teroris, Kapolri mengakui adanya jaringan teroris di Lampung ini.
"Ada jaringan tapi tidak terlalu besar, ya nantilah kami proses baru kami kasih tahu," ujarnya.
Meski demikian, Kapolri menegaskan bahwa kelima terduga teroris yang tertangkap di Lampung merupakan jaringan JAD.
"(Mereka) jaringan JAD, saya selalu sampaikan setiap kesempatan yang bermain ini kelompok JAD," tutupnya.
Deteksi dan Cegah Bibit-bibit Radikalisme
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meminta peran aktif Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk mendeteksi dan mencegah bibit-bibit radikalisme.
Caranya bekerja sama dengan tokoh agama tokoh masyarakat dan komponen masyarakat lainnya mencegah upaya kontra radikalisme dan deradikalisasi.
Hal ini ditegaskan Hadi Tjahjanto dalam kunjungan bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk bertemu keluarga besar TNI Polri dan masyakata di markas Korem 043 Garuda Hitam, 4 Juni 2018.
Menurut Hadi Tjahjanto, kita tidak boleh takut dan karena radikalisme masih tumbuh, dan kita umat Muslim beserta seluruh komponen masyarakat harus bahu membahu membendung pengaruh radikal yang bisa memicu aksi-aksi teroris yang bisa meruksa dan merugikan bangsa Indonesia.
Ia pun mengajak peran dan kepedulian orangtua untuk mengoptimalkan pengawasaan terhadap putra putrinya dari pengaruh media sosial, karena pengaruh media sosial juga ternyata bisa merambah kehidupan khususnya pemuda pemudi yang sedang melaksanakan pendidikan.
“Serangan teroris telah banyak menyebabkan korban jiwa. Contohnya di Mako Brimob, kemudian Surabaya , termasuk di Pekan Baru , Riau. Ini mengingatkan kita bahwa serangan tersebut menjadi bukti tindakan teror adalah jalan yang salah dan telah mencederai rasa kemanusian dan menyakiti orang lain, bahkan termasuk anak-anak tidak berdosa yang menjadi korban” tegasnya