Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya
Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya di Indonesia
Untuk itu Hadi mengajak semua pihak TNI Polri, alim alama tokoh masyarakat bersatu padu untuk memerangi teroris. “Kita harus bersatu padu, kita tidak ingin negeri yang kaya raya ini hancur dan terbelah, seperti wilayah -wilayah di belahan dunia lain yang terjadi konflik,” tukas Hadi
Dia menambahkan masyrakat harus bahu membahu untuk bisa memberikan pemahamam positif dan bisa mengambil peran penting untuk mencegah radikalisme dan terorisme dengan cara peduli dengan lingkungan masing-masing.
Sepak Terjang Kelompok JAD
Aksi teror yang terjadi di Indonesia belakangan dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Kelompok JAD erat kaitannya dengan ISIS.
Keduanya terindikasi memiliki kesamaan pakem dan idelogi.
Jauh sebelum JAD dan ISIS, ada kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang berjejaring dengan Al-Qaeda.
JI adalah dalang di balik serangkaian bom di Indonesia sejak awal 2000.
Meski secara ideologi tak jauh berbeda karena sama-sama ingin mendirikan khilafah, namun antara JAD dan JI tentu berbeda.
Hal ini juga tak lepas dari jejaring mereka, ISIS dan Al-Qaeda yang juga punya pandangan berbeda, baik dalam menentukan musuh, target, strategi, sampai pola jihad.
Salah satu pola jihad yang kentara, misalnya saja JAD menggunakan anak-anak dan wanita dalam melakukan penyerangan.
Menurut pengamat terorisme Adhe Bhakti penggunaan anak-anak dan wanita inilah salah satu yang membedakan antara JAD dengan JI maupun kelompok-kelompok teroris lainnya.
"Kalau di Jamaah Islamiyah itu tidak ada yang perempuan, semuanya laki-laki dan muda, tapi ISIS itu memberi kelonggaran kepada wanita dan anak-anak untuk ikut perjuangan," kata Adhe, Kamis (17/5).
Penggunaan perempuan dan anak-anak menurut Adhe dilegitimasi oleh kelompok ISIS karena tengah terdesak dan tidak punya cara lain lagi.
Selain itu penggunaan perempuan dan anak-anak dalam aksi teror oleh kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS dianggap dapat meningkatkan tingkat keberhasilan terornya.
Dari informasi yang dihimpun, Al-Qaeda lebih menargetkan musuh mereka secara global dan jauh dari timur tengah. Sementara ISIS sebaliknya, lebih mengutamakan berperang melawan musuh-musuh terdekat.
Karakteristik Al-Qaeda dan ISIS dalam jihad pun turut berbeda.
Kelompok-kelompok afiliasi Al-Qaeda dianggap lebih matang dalam menyusun strategi jihad serta lebih merusak dan mematikan ketimbang ISIS.
Namun eksistensi Al-Qaeda pun memudar seiring waktu.
Kelompok-kelompok yang dulunya berafiliasi ke Al-Qaeda, pun berbelok menjadi pengikut dan berbaiat ke ISIS.
Hal ini turut berimplikasi pada JI usai pemimpin mereka seperti Dr Azhari dan Noordin M Top 'disikat' aparat. Keberadaan JI yang terus melemah pun perlahan tergantikan oleh kelompok teroris baru, termasuk JAD.