Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya

Kapolri Ungkap Jaringan 5 Terduga Teroris di Lampung, Begini Sepak Terjangnya di Indonesia

Editor: taryono
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Tim Densus 88. 

Untuk itu Hadi mengajak semua pihak  TNI Polri,  alim alama tokoh masyarakat bersatu padu  untuk memerangi teroris. “Kita harus bersatu padu, kita tidak ingin negeri yang kaya raya ini hancur dan terbelah, seperti wilayah -wilayah di belahan dunia lain yang terjadi konflik,” tukas Hadi

Dia menambahkan  masyrakat harus bahu membahu untuk bisa memberikan pemahamam positif dan bisa  mengambil peran penting untuk  mencegah radikalisme dan terorisme dengan cara  peduli dengan lingkungan  masing-masing.

Sepak Terjang Kelompok JAD 

Aksi teror yang terjadi di Indonesia belakangan dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Kelompok JAD erat kaitannya dengan ISIS.

Keduanya terindikasi memiliki kesamaan pakem dan idelogi.

Jauh sebelum JAD dan ISIS, ada kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang berjejaring dengan Al-Qaeda.

JI adalah dalang di balik serangkaian bom di Indonesia sejak awal 2000.

Meski secara ideologi tak jauh berbeda karena sama-sama ingin mendirikan khilafah, namun antara JAD dan JI tentu berbeda.

Hal ini juga tak lepas dari jejaring mereka, ISIS dan Al-Qaeda yang juga punya pandangan berbeda, baik dalam menentukan musuh, target, strategi, sampai pola jihad.

Salah satu pola jihad yang kentara, misalnya saja JAD menggunakan anak-anak dan wanita dalam melakukan penyerangan.

Menurut pengamat terorisme Adhe Bhakti penggunaan anak-anak dan wanita inilah salah satu yang membedakan antara JAD dengan JI maupun kelompok-kelompok teroris lainnya.

"Kalau di Jamaah Islamiyah itu tidak ada yang perempuan, semuanya laki-laki dan muda, tapi ISIS itu memberi kelonggaran kepada wanita dan anak-anak untuk ikut perjuangan," kata Adhe, Kamis (17/5).

Penggunaan perempuan dan anak-anak menurut Adhe dilegitimasi oleh kelompok ISIS karena tengah terdesak dan tidak punya cara lain lagi.

Selain itu penggunaan perempuan dan anak-anak dalam aksi teror oleh kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS dianggap dapat meningkatkan tingkat keberhasilan terornya.

Dari informasi yang dihimpun, Al-Qaeda lebih menargetkan musuh mereka secara global dan jauh dari timur tengah. Sementara ISIS sebaliknya, lebih mengutamakan berperang melawan musuh-musuh terdekat.

Karakteristik Al-Qaeda dan ISIS dalam jihad pun turut berbeda.

Kelompok-kelompok afiliasi Al-Qaeda dianggap lebih matang dalam menyusun strategi jihad serta lebih merusak dan mematikan ketimbang ISIS.

Namun eksistensi Al-Qaeda pun memudar seiring waktu.

Kelompok-kelompok yang dulunya berafiliasi ke Al-Qaeda, pun berbelok menjadi pengikut dan berbaiat ke ISIS.

Hal ini turut berimplikasi pada JI usai pemimpin mereka seperti Dr Azhari dan Noordin M Top 'disikat' aparat. Keberadaan JI yang terus melemah pun perlahan tergantikan oleh kelompok teroris baru, termasuk JAD.


Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved