Mudik Lebaran 2018

Mudik Jakarta-Mesuji, Beno Habiskan 20 Jam di Atas Motor

Menurutnya, perjalanan pada malam hari sangat berisiko. Apalagi melewati Jalan Lintas Timur yang dikenal rawan.

Mudik Jakarta-Mesuji, Beno Habiskan 20 Jam di Atas Motor
Tribun Lampung/Dedi Sutomo
Beno bersama anaknya yang masih berusia satu tahun. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BAKAUHENI - Mudik Lebaran menjadi tradisi bagi masyarakat Muslim di Tanah Air. Bahkan, mereka rela menempuh perjalanan jauh guna bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Tradisi mudik juga dilakukan Beno (39). Ia rutin mudik dari Jakarta ke kampung halamannya di Mesuji menggunakan sepeda motor.

Bagi pria yang bekerja di pabrik plastik ini, mudik sudah menjadi keharusan. Hampir setiap mudik Lebaran, ia selalu pulang kampung ke Mesuji.

Pada Lebaran kali ini, meski dengan mengendarai Honda Beat, Beno memboyong istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun.

Baca: Meski Hanya 10 Detik, Jabat Tangan Trump dan Kim Jong Un Sudah Ciptakan Sejarah

Saat ditemui di SPBU Bakauheni, Selasa, 12 Juni 2018, Beno berbagi pengalamannya mudik dengan menggunakan sepeda motor.

“Biasanya dua tahun sekali saya mudik, dan selalu menggunakan sepeda motor,” kata dia.

Beno biasanya harus menempuh perjalanan hampir satu hari penuh untuk bisa sampai di Mesuji. Ia terbiasa berangkat dari Jakarta sekitar pukul 19.00 WIB, sehingga bisa sampai di Lampung pada pagi hari.

Menurutnya, perjalanan pada malam hari sangat berisiko. Apalagi melewati Jalan Lintas Timur yang dikenal rawan.

Beno melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni pada pukul 05.30 WIB. Biasanya ia akan tiba di kampung halamannya di kabupaten Mesuji sekitar pukul 17.00 WIB.

Baca: Berani Ganggu Pemudik, Penjahat Akan Ditembak di Tempat

Dari Bakauheni, ia menempuh perjalanan hingga 11 jam untuk sampai di Mesuji. Artinya, Beno harus menempuh waktu hingga 20 jam dengan menggunakan sepeda motor.

“Kita berjalan santai saja. Kalau lelah, beristirahat. Apalagi ini kita juga membawa anak yang masih bayi,” ujarnya.

Bukan tampa alasan, Beno memilih mudik ke kampung halamnya di Mesuji dengan menggunakan sepeda motor. Baginya mudik dengan menggunakan bus angkutan umum tidak lebih nyaman dari sepeda motor.

Jika menggunakan bus, ia harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Hal serupa terjadi di Pelabuhan Bakauheni dan Terminal Rajabasa. (*)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help