Kesulitan Belajar Bahasa Lampung
USIA Kota Bandar Lampung tak muda lagi. Lebih dari tiga abad ibukota Lampung ini berdiri, tepatnya berumur 329 tahun.
Seiring bertambahnya usia, kota ini terus membenahi diri, mulai dari infrastruktur, tata wajah, hingga pariwisata. Kota berpenduduk 700 ribu lebih jiwa ini, juga digadang menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia.
"Dengan bertambahnya umur, saya melihat banyak perubahan yang dialami Bandar Lampung. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, semangat masyarakat untuk membangun cukup tinggi," ujar Farahdiba Citra Olivia, Muli I Bandar Lampung 2011.
Namun, lanjut dara kelahiran 2 November 1990 ini, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
PR tersebut antara lain adalah perbaikan kebersihan lingkungan, ketertiban, dan menumbuhkan rasa memiliki masyarakat akan kotanya.
Citra, panggilan akrabnya, mengaku punya pengalaman tentang budaya Lampung, tepatnya ketika ia mempersiapkan diri dalam ajang pemilihan Muli-Mekhanai Bandar Lampung belum lama ini.
Kala itu, ia merasa kesulitan belajar bahasa Lampung. Apalagi, guru atau tempat kursus bahasa Lampung terbilang langka. Akhirnya, Citra belajar bahasa Lampung secara otodidak, dari teman dekat dan masyarakat asli Lampung.
"Meski lahir di sini, orangtua saya bukan suku asli Lampung. Sehingga, kadang saya sulit mempelajarinya. Masyarakat di sekitar lingkungan saya sangat jarang menggunakan bahasa daerah," jelas putri pasangan Bambang Waluyo Utomo dan Lily Eryanti ini. (*)
Biofile
Nama: Farahdiba Citra Olivia
TTL: Metro, 2 November 1990
Ayah: Bambang Waluyo Utomo
Ibu: Lily Eryanti
Alamat : Jalan ZA Pagaralam, Gedong Meneng, Bandar Lampung
Pendidikan : SI Fakultas Kedokteran Unila Angkatan 2008
Penulis: Ferika Okwa Romanto