Menengok Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus
Epan Bermimpi Ingin Jadi Tentara
Sekilas tidak ada yang aneh pada siswa kelas 3 sekolah Growing Hope di Jalan Pulau Buton, Jagabaya,
SEKILAS tidak ada yang aneh pada siswa kelas 3 sekolah Growing Hope di Jalan Pulau Buton, Jagabaya, Sukabumi, Bandar Lampung ini. Tubuhnya nampak sehat tanpa ada kelainan fisik satu pun dan raut wajahnya terlihat ceria. Namun siapa sangka, dia salah satu anak berkebutuhan khusus (ABK) yang sudah setahun belakangan mengenyam pendidikan di sekolah ini..
Dia adalah Muhammad Epan Fahrezi, usia 10 tahun, kulit cokelat dan mata bulat bening. Saat di bawa ke sekolah ini, Epan tidak bisa membaca atau pun melakukan aktivitas akademik layaknya anak seusia dia.
Bahkan, Epan harus mengalami penolakan beberapa kali di sekolah reguler karena tidak mampu melewati tes yang diselenggarakan pihak sekolah. Alhasil, Epan sejak usia enam hingga 9 tahun hanya mengenyam pendidikan layaknya siswa taman kanak-kanak di sekolah luar biasa di kota ini.
Kedua orangtua Epan tergolong tidak mampu. Ayahnya seorang buruh di gudang kopi, sementara ibunya menjadi sales perlengkapan rumah tangga. Dengan keterbatasan ekonomi dan pengetahuan, mereka merasa kehabisan akal untuk bisa menyekolahkan anak bungsu mereka ini.
"Karena itu Epan dibawa ke sini. Orangtua mereka tahu dari informasi yang berkembang, kalau di sini menerima anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga tidak mampu. Epan dibawa setahun yang lalu," ujar Kepala Sekolah Growing Hope Margaretha Saniyati, Selasa (28/5). .
Dituturkannya, saat pertama dibawa, Epan memang tidak bisa membaca dan berhitung seperti anak 9 tahun umumnya. Namun Epan ternyata mengetahui huruf-huruf dan juga warna. Dan, karena usianya sudah 9 tahun dan memiliki sedikit pengetahuan tentang huruf dan warna, Epan dimasukkan di kelas 3.
Epan dibimbing dengan penuh keceriaan dan disiplin, hingga akhirnya saat ini dia bisa membaca dengan lancar dan menghitung. Bahkan dia bisa mengetik di komputer. Dia juga sudah bisa berkomunikasi dengan lancar.
Dihadapan para gurunya, Epan berkata senang sekolah di sana, karena banyak temannya. Dia mengatakan, selain belajar dia juga bermain di sekolah itu. Seperti main bola-bolaan, sepedaan. Dia mengaku, kelak jika sudah besar, ingin menjadi tentara. Katanya, dengan jadi tentara dia bisa belain orang.
Menurut dia, mata pelajaran IPA merupakan favoritnya. Dia tidak bisa menjelaskan alasannya. "Iya suka pelajaran IPA," ujarnya singkat seraya tersenyum.
Namun ternyata bukan hanya Epan yang berada di sekolah ini. Kakak perempuannya yang selisih usia satu tahun dari Epan pun ternyata bersekolah di sini. Dia adalah Fildza Khairina, usia 11 tahun, tubuh kurus, rambutnya ikal pendek. Fildza berada satu ruang kelas dengan Epan. Mengingat umurnya, Fildza oleh pihak sekolah, diposisi kelas 4.
"Ya waktu pertama kali dibawa memang berdua. Sang kakak tidak naik-naik kelas, berada di kelas satu terus saat mengenyam SD reguler. Di sini, berdasarkan usianya dan setelah dites, dia dimasukkan pada kelas 4," ujar Margaretha.
Menurutnya, Epan merupakan lima bersaudara. Empat dari lima anak di keluarga ini, termasuk Epan dan Fildza mengalami keterbelakangan mental. Namun sang orangtua tidak memiliki dana untuk menyekolahkan mereka di sekolah umumnya. Di Growing Hope, mereka diterima dan bisa membayar biaya sekolah semampunya.
"Berapapun bayaran yang diberikan orangtua, kami terima. Karena sekolah ini hadir memang untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk keluarga tidak mampu, meski ada juga anak-anak dari kalangan mampu disini," jelas wanita yang pernah mengajar di TK Xaverius Metro ini.
Siapapun kata Margaretha, bisa sekolah di Growing Hope. Terpenting, orangtua mau bekerja sama. Menurutnya, setiap anak dibuatkan buku penghubung antara pihak sekolah dengan orangtua. Dalam buku itu dituliskan, apa saja yang dilakukan anak sepanjang di sekolah, kemudian guru membuat catatan apa yang harus dilakukan orangtua. "Dengan begitu, perkembangan anak bisa cepat. Kami juga suka memanggil para orangtua siswa, untuk berbincang-bincang tentang perkembangan anak," kata dia.
Bagi kami, terus Margaretha, anak-anak ini adalah anak Tuhan. "Tuhan tidak menjadikan mereka seperti itu, tanpa alasan," ujarnya. Karena itu motto sekolah ini, 'Masa Depanmu Sungguh Ada dan Harapan Sungguh Tidak akan Hilang'. Motto ini terpampang besar pada dinding bercat biru muda di kelas Epan.
Sekolah Growing Hope bisa dibilang satu-satunya sekolah di Bandar Lampung yang saat ini konsen pada pendidikan anak berkebutuhan khusus dan terapi autis bagi keluarga tidak mampu. Sekolah ini awalnya lahir dari kegiatan terapi yang diberikan bagi anak-anak autis dan berkebutuhan khusus lainnya. Terapi ini awalnya dilakukan di Gereja Bethel Indonesia Komplek Villa Citra, sejak tahun 2007.
Namun seiring waktu, ternyata jumlah anak autis dan berkebutuhan khusus ini terus meningkat. Menurut Margaretha, hampir dari setiap sekolah pasti ada yang berkebutuhan khusus. Dan tiap 55 anak, pasti ada dua diantaranya tergolong berkebutuhan khusus. Sayangnya, sekolah yang khusus untuk anak-anak ini masih sangat sedikit. Di Bandar Lampung misalnya, baru ada tiga sekolah luar biasa yang memberikan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.