Gempa Aceh dan Kekuatan Selular
“Aceh diguncang gempar 6,2 skala richter sekitar pukul 14.37 WIB hari ini (2 Juli).
Penulis: Gustina Asmara | Editor: taryono
Peneliti Geo-Hazard Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC)-Unsyiah Ibnu Rusydy mengatakan, pusat gempa Aceh ini berada di segmen Aceh. Segmen Aceh adalah bagian dari Patahan Sumatera yang berdasarkan studi Danny dibagi menjadi 19 segmen, antara lain Seulimuem, Semangko, Musi, dan Barumun.
Ia mengungkapkan, dengan banyaknya bangunan yang rusak di Aceh, maka ia menduga, wilayah yang banyak mengalami kerusakan merupakan wilayah yang dilewati sesar yang aktif.
Belum diketahui secara pasti karakteristik tanah di lokasi gempa Aceh awal Juli ini. Namun, dengan banyaknya bangunan rusak, bisa dipastikan bahwa kualitas bangunannya masih buruk. Danny mengatakan, di Aceh, gempa memang lebih sering disebabkan oleh aktivitas tektonik di samudera. Namun, gempa daratan tak bisa diremehkan. Menurutnya, gempa daratan dengan magnitud yang tak begitu besar saja bisa sangat merugikan bila tak diantisipasi.
Gempa yang kembali melanda Aceh mengundang keprihatinan semua pihak. Negeri ini berduka. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turun meninjau langsung korban gempa pada Selasa (9/7). Pertama kali, presiden mengunjungi Kabupaten Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Di sana, presiden berdialog dengan korban gempa.
Ketol merupakan daerah terparah yang terkena gempa. Di daerah ini, hampir 90 persen rumah penduduk rusak parah. Sebelumnya, presiden mengatakan, dirinya setiap hari mendapat laporan bagaimana penanganan korban gempa. Ia juga berkomunikasi langsung dengan unsur pimpinan di Aceh. Dia juga melakukan telekonferensi dengan Pemprov Aceh.
Gempa 6,2 SR 2 Juli lalu bukanlah yang pertama terjadi di Aceh. Sejak tsunami tahun 2004, setiap tahunnya Aceh terus diguncang gempa. Sepanjang tahun 2005 terjadi gempa-gempa kecil dengan kekuatan bervariasi antara 2,0 SR sampai 4,8-5,0 SR.
Kemudian gempa kembali terjadi pada awal tahun 2006. Kemudian tahun 2010, gempa berkekuatan 7,2 SR terjadi di Simelue yang memakan korban jiwa dan bangunan banyak yang retak. Lalu, pada tahun 2012, gempa 8,5 SR terjadi pukul 15.38 WIB di perairan sebelah barat Aceh.
Pada awal tahun 2013, Aceh sebenarnya sempat diguncang gempa, dengan intensitas 6,0 SR dan kedalaman 85 km disertai gempa susulan beberapa hari setelahnya. Pusatnya di 15 km barat daya Banda Aceh. Saat itu, ada satu orang meninggal dunia, 7 luka dan 416 unit rumah rusak.
Dengan seringnya provinsi ini mengalami gempa, betapa pentingnya ketersediaan jaringan telekomunikasi yang andal. Namun, hampir setiap gempa, jaringan komunikasi di daerah gempa terganggu. Seperti saat gempa 6,2 SR kemarin, jaringan komunikasi selular di daerah gempa sempat terganggu. Penyebabnya, catu daya listrik padam dan trafik komunikasi yang tinggi sehingga sambungan ngadat.
Tentu ini menjadi pekerjaan rumah setiap operator selular untuk kedepannya agar mengembangkan infrastruktur yang mampu mengantisipasi bencana alam. Seperti di Aceh ini, infrastruktur yang dibangun setiap operator selular idealnya tahan dengan gempa, dan mampu mengantisipasi secara dini ketika bencana gempa terjdi di daerah tersebut. Sehingga persoalan catu daya listrik yang mati dan tingginya trafik komunikasi selular yang menyebabkan sambungan telepon ngadat atau mati, tidak terjadi lagi.
Sebab, di saat bencana alam, ketika daerah-daerah terisolasi, jalan terputus, maka jaringan telepon selular yang andal dapat menjadi juru selamat untuk menghubungkan daerah terisolasi, mencari pertolongan, dan segala hal yang diperlukan para korban gempa dan tim-tim penyelamat.
Layanan seluler ini juga menjadi andalan bagi semua pihak untuk mencari informasi termasuk koordinasi dalam penanggulangan bencana. Petugas penanggulangan bencana alam, kepolisian, rumah sakit, awak media massa, masyarakat, dan pihak lainnya tentu sangat terbantu dengan adanya jaringan selular yang andal. Dan yang pasti, bagi korban yang mengalami bencana dan bagi keluarga serta sanak keluarga yang ingin mengetahui kabar keluarga mereka yang terkena bencana, jaringan selular yang andal adalah berkah. (gustina asmara)
