Pemilu 2014

Caleg Ini Tutup Sekolah Lantaran Gagal Jadi Anggota DPRD

Hasnah mengaku hanya ingin memberi pelajaran kepada warga dan orangtua siswa yang dinilai tidak memberi dukungan politik terhadap dirinya pada pemilu

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, POLEWALI MANDAR-Kecewa lantaran sekolah anak-anaknya ditutup sepihak oleh pemilik yayasan yang gagal mendapat dukungan suara dari orangtua siswa pada Pemilu Legislatif 9 April lalu, warga di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, bergotong royong mendirikan sekolah sendiri.

Meski tanpa sarana yang cukup, para orangtua membawakan kursi dan meja agar anak-anaknya bisa belajar di kolong salah satu rumah warga.

Puluhan siswa TK di Desa Panyamapa, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, ini tampak senang dan bersemangat belajar serta bermain di kolong rumah warga, setelah lebih dari satu bulan sekolah mereka ditutup oleh pemilik yayasan.

Tak hanya belajar dan bernyanyi, mereka juga belajar mengenal dan menulis angka serta huruf dengan dibimbing langsung oleh sejumlah warga yang mau mengabdikan dirinya sebagai guru sukarela. Para relawan ini prihatin dengan kondisi para siswa yang kehilangan guru sejak sekolah tersebut ditutup.

Para orangtua siswa berharap, pendirian sekolah darurat ini bisa melanjutkan pendidikan anak-anak mereka. Hikmah, salah satu warga yang turut berembuk dalam rapat dengan orangtua siswa, menyatakan bahwa mereka bersepakat untuk mendirikan sekolah sendiri.

Sejumlah warga dan orangtua siswa yang bersimpati dengan gerakan untuk memajukan pendidikan anak-anak desa di lokasi ini bahkan telah menyumbangkan bahan bangunan, seperti batu bata, pasir, dan semen, agar sarana di kolong rumah salah satu warga tersebut bisa segera dibenahi.

“Sesuai kesepakatan orangtua dan warga, kolong rumah ini akan kita beri lantai-tembok agar tidak becek, terutama saat hujan. Akta pendirian diurus. Penggagas sekolah adalah warga. Strukturnya, Yayasan Siamasei, milik warga dan para orangtua siswa. (Struktur) ini sendiri telah disusun dan dibuatkan profilnya. Dalam waktu dekat, pengurus yayasan akan melegalkan sekolah mereka dengan cara mendaftarkannya ke notaris agar sekolah ini legal,” ujar Hikmah.

Kondisi di Yayasan Al Madjidu, tempat anak-anak ini bersekolah sebelumnya, sudah tak terurus. Fasilitas sekolah, seperti meja, bangku, dan sarana bermain, telah diboyong pemilik yayasan ke tempat lain. Ruangan kelas yang kosong dimanfaatkan warga menjadi gudang penyimpanan barang.

Pemilik yayasan, Hasnah, membantah bahwa ia menutup sekolahnya. Hasnah mengaku hanya ingin memberi pelajaran kepada warga dan orangtua siswa yang dinilai tidak memberi dukungan politik terhadap dirinya pada pemilu lalu. Akibatnya, Hasnah gagal melenggang ke gedung Dewan.

“Saya tidak tutup, tetapi memberi pelajaran kepada warga agar mereka sadar siapa yang layak didukung dan tidak didukung. Terus terang saya kecewa, tetapi insya Allah saya akan buka kembali pada awal tahun ajaran baru,” ujar Hasnah.

Dia mengaku akan membuka kembali sekolahnya pada awal tahun ajaran baru mendatang. Namun, para orangtua di desa tersebut menyatakan sudah tak ingin menyekolahkan anak-anak mereka kembali ke sekolah milik Hasnah tersebut.

Para orangtua siswa hanya berharap, pendirian sekolah darurat di kolong rumah warga ini tidak membuyarkan semangat anak-anak mereka yang sempat kecewa karena sekolah sebelumnya ditutup.

Editor: taryono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved