Gadis 15 Tahun Korban Tsunami Aceh Dijual ke Malaysia

"Di Malaysia pernah jadi pembantu rumah tangga, pernah juga jadi perawat bayi. Awalnya saya mau diajak ke Malaysia, katanya bisa dapat uang banyak,"

Tayang:

Setelah Sabariah meninggal dunia, Fanisa pun sempat hidup terlunta-lunta di Medan karena keluarga Sabariah menganggapnya orang asing dan tak menginginkan kehadiran Fanisa. Alhasil, Fanisa menjadi umpan menarik bagi calo-calo perdagangan manusia.

"Di Malaysia pernah jadi pembantu rumah tangga, pernah juga jadi perawat bayi. Awalnya saya mau diajak ke Malaysia, katanya bisa dapat uang banyak, dan kerja di restoran Muslim. Ternyata, kenyataannya lain," kisah Fanisa.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Aceh Bukhari yang ikut menjemput langsung ke Malaysia mengatakan, keberadaan Fanisa diketahui saat adanya pemeriksaan TKI di Malaysia oleh tim Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia. Kedutaan menemukannya sebagai TKI asal Aceh yang tidak memiliki dokumen lengkap.

"Hasil pemeriksaan dari kedutaan kita, terbongkarlah kalau Fanisa ini juga merupakan korban tsunami. Lalu, kita komunikasikan untuk bisa dipulangkan," kata Bukhari.

Bukhari menjelaskan, Fanisa adalah korban trafficking selama 5 bulan di Malaysia. Kini, kata Bukhari, pemerintah Aceh akan menempatkan Fanisa di Rumah Aman, dan terus berupaya mencari keberadaan keluarga Fanisa di Banda Aceh.

Sejak tahun 2004 lalu, sebut Bukhari, sedikitnya terdapat 1.000 kasus anak terpisah dan kehilangan orangtua, dan mereka bisa dipertemukan dengan keluarganya oleh Pemerintah Aceh dan lembaga PBB Unicef. Namun, angka ini masih bisa terus bertambah seiring masih banyaknya anggota keluarga yang terpisah akibat bencana gempa dan tsunami sepuluh tahun lalu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved