Headline News Hari Ini

Baju Zirah Abad 12 Peninggalan Keratuan Balaw

Setelah sekian lama, rencana ini mendapat respons positif dari Pak Herman HN selaku wali kota Bandar Lampung.

Penulis: Ferika Okwa Romanto | Editor: Heribertus Sulis
Tribun Lampung/Heri
Berita dan foto di koran Tribun Lampung tentang sejumlah benda peninggalan Keratuan Balaw tersimpan di Lamban Agung, Kecamatan Kedamaian, Bandar Lampung, Kamis (26/3/2015). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Bukti keberadaan situs sejarah Keratuan Balau di Tiyuh Kedamaian tidak hanya bisa disaksikan dari peninggalan kedua makam keramat dan batu kapal yang berada di wilayah perbukitan Jalan Ratu Lengkara, Kecamatan Kedamaian, Bandar Lampung.

Ternyata, ada sejumlah bukti kuat lainnya. Seperti peninggalan Keratuan Balaw berupa baju besi yang sering dipakai raja-raja Keratuan Balaw, tala, gong, canang, payan (tombak), keris, dan sejumlah peninggalan kerajaan lainnya yang disimpan rapi di Lamban Agung yang berlokasi di Jalan Puteri Balau Nomor 21, Kecamatan Kedamaian.

Ditemani oleh Amimardani Balaw (43), keturunan ke-21 Keratuan Balaw, Tribun menyaksikan langsung benda-benda bersejarah itu. Sejumlah peninggalan tersebut diletakkan di lantai dua gedung yang merupakan rumah tertua keturunan Keratuan Balaw Tiyuh Kedamaian.

"Kalau benda-benda yang tersimpan di sini, secara turun-temurun diwariskan pada anak keturunan Keratuan Balaw. Contoh baju besi itu, secara estafet diturunkan sekitar abad 12 yang lalu. Ada beberapa benda lain yang masih dipegang orang-per orang," kata Dani, sapaan akrabnya, Kamis (26/3/2015).

"Tentang keberadaan situs sejarah Keratuan Balaw, secara pribadi saya sudah mengetahuinya sejak masih anak-anak. Saya tahu keberadaan situs ini dari cerita kakek dan menyaksikannya langsung di lapangan. Bahkan, sejak tahun 1973, saya sering di ajak ziarah ke lokasi makam," kenangnya.

Dani mengisahkan, untuk menjadikan situs ini sebagai salah satu warisan budaya sebenarnya sudah diupayakan sejak tahun 2003 lalu. Bahkan ketika itu, banyak tahapan yang telah dilakukan pihaknya bersama pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Di antara upaya tersebut dengan membuat tim khusus pemugaran situs Keratuan Balaw. Sebanyak dua kali lokasi tersebut dijadikan pusat penelitian oleh tim Balai Arkeologi Bandung, seminar, hingga turun rekomendasi yang menyatakan membenarkan bahwa lokasi itu adalah situs Keratuan Balaw.

"Entah apa sebabnya, tiba-tiba rencana untuk menjadikan situs itu sebagai cagar budaya mandek di tengah jalan dan pemerintah kurang memberi respons. Akhirnya, setelah sekian lama, rencana ini mendapat respons positif dari Pak Herman HN selaku wali kota Bandar Lampung," kata Dani lagi.

Dani menjelaskan, berdasar hasil musyawarah dan komunikasi intensif, wali kota punya niat untuk membangun akses jalan menuju lokasi tersebut. Bahkan, rencananya di lokasi dibangun rumah adat sebagai pusat informasi serta pembangunan infrastruktur pendukung lainnya.

Sebagai upaya mendukung niat baik Herman HN ini, ungkap Dani, pihaknya kini tengah mengupayakan kembali proses pendaftaran tentang penetapan situs Keratuan Balaw sebagai cagar budaya yang ditujukan ke Dinas Pendidikan Provinsi Lampung untuk ditindaklanjuti.

"Saat ini semuanya masih dalam proses. Kebetulan hari ini (kemarin) saya yang datang langsung dan menyerahkan berkas-berkas sekaligus arsip hasil penelitian dan rekomendasinya. Pokoknya sudah lengkap lah. Mudah-mudahan pendaftaran ini mendapat respons positif," katanya.

Baca selengkapnya di koran Tribun Lampung edisi Jumat 27 Maret 2015.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved