Headline News Hari Ini
Warga Lampung Harapkan Kompensasi PLN Akibat Pemadaman Bergilir
Pemadaman listrik yang dilakukan PT PLN Distribusi Lampung akhir-akhir ini membuat masyarakat merasa kesal. Apalagi
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pemadaman listrik yang dilakukan PT PLN Distribusi Lampung akhir-akhir ini membuat masyarakat merasa kesal. Apalagi, frekuensi dan durasi pemadaman banyak yang tak sesuai dengan informasi janji yang diberikan PLN. Selain itu, informasi waktu pemadaman bergilir seperti yang diumumkan di laman PLN juga tak sesuai jadwal.
Berdasarkan amanat Pasal 29 Undang-Undang (UU) Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, disebutkan bahwa konsumen berhak untuk mendapatkan tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu dan keandalan yang baik, dan mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman yang diakibatkan kesalahan dan/atau kelalaian pengoperasian oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik sesuai syarat yang diatur dalam perjanjian jual beli tenaga listrik.
Ari Wibowo, warga Jl S Parman, Tanjungkarang Pusat, menuturkan, durasi pemadaman listrik kini seperti makan obat, yakni dua sampai tiga kali sehari. Durasinya pun cukup lama, berkisar dua sampai tiga jam setiap mati. Alhasil, Ari yang mempunyai bayi kembar laki-laki ini, kerap merasa kalut.
"Paling bingung itu saat stok air di kamar mandi kosong, sementara anak saya yang masih bayi lagi rewel karena BAB (buang air besar). Terpaksa minta air ama tetangga. Karena saya kan tidak bisa hidupkan mesin pompa air lantaran listrik mati," kata Ari, Sabtu (7/11/2015).
Menurut Ari, PLN mestinya memperbaiki pelayanan listrik kepada masyarakat. Sebab, pemadaman listrik saat ini sudah terlalu sering. "Mau musim kemarau atau musim apa pun pasti ada saja alasan matikan listrik. Kalau gak salah, sekarang masalah kabut asap yang jadi alasan (listrik padam)," ujarnya.
Ari pun mempertanyakan janji PLN yang menyebutkan frekuensi mati lampu satu kali sehari selama 3 jam. Ari mengaku, pada Selasa (3/11/2015) lalu, pemadaman listrik di rumahnya terjadi dua kali dalam waktu satu hari, yakni pukul 09.00-11.30 Wib dan pukul 21.00-23.30 Wib. Durasi pemadaman listrik kala itu masing-masing 2,5 jam.
"Janjinya paling lama tiga jam sehari (listrik padam). Faktanya, di daerah rumah saya tuh kalau ditotal enam jam sehari. Dua kali mati lampu," tukasnya.
Selain itu, Ari merasa kecewa karena informasi pemadaman listrik yang diumumkan melalui website pln.co.id sering meleset dari jadwal. Berdasarkan pengecekan Ari di laman PLN, pada Rabu (4/11) dijadwalkan pemadaman listrik di kediamannya pukul 01.00-04.00 Wib. Namun, fakta di lapangan listrik padam dua kali di rumahnya, pertama pagi hari pukul 09.00 Wib dan kedua malam hari pukul 21.00 Wib.
Keluhan senada disampaikan Jono Gunawan, warga Kedaton yang merasa pemadaman listrik selalu lebih dari tiga jam dengan frekuensi bisa dua smapai tiga kali sehari. Jono yang tinggal di seputaran Pasar Koga ini pun sempat mencatat pemadaman listrik itu sejak Senin-Rabu (2-4/11/2015).
"Tiga hari kemarin, Senin sampai Rabu mati lampu bisa sampai empat jam. Senin tiga kali mati, Selasa dua kali, Rabu mati lampu jam 05.05 Wib. Entah mau berapa kali PLN mau padamin listrik," kata dia.
Pekerja swasta ini pun mengeluhkan sejumlah kebutuhan rumah tangga yang menggunakan listrik tidak bisa dipakai seperti, pompa air, penanak nasi, hingga mengisi ulang daya gawai yang ia pakai untuk bekerja.
"Kalau air bisalah pakai sumur tetangga, minta. Tapi kalau laptop sama hape ini, mau nge-charge di mana? Apalagi kerjaan di kantor sering saya bawa pulang supaya cepat selesai. Nah, pas sampai rumah ternyata listrik padam, terpaksa ditunda kerjaannya," katanya.
Jono menambahkan, dari media massa ia sempat membaca bahwa pemadaman dijanjikan hanya satu kali dalam sehari. Tetapi, fakta di lapangan berbicara lain. "Istri saya sering telepon sore, nitip beliin nasi karena nggak bisa masak karena listrik padam sore hari. Padahal pagi udah padam. Nah, itu kan dua kali sehari jadinya," katanya.
Idham, warga Garuntang, pun seringkali sebal dengan pemadaman listrik yang berulangkali terjadi dalam satu hari. Pekerjaannya sebagai tukang cuci steam sepeda motor menjadi terbengkalai. Jika listrik padam, dengan terpaksa ia menolak pelanggan yang datang.
Baca berita selengkapnya di Tribun Lampung Cetak Edisi Minggu (8/11/2015).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-listrik-padam_20151104_133856.jpg)