Buwas: "Perlu Gila-gilaan, Saya Akan Bikin Kegaduhan Lagi"
Narkoba merupakan musuh negara sehingga perlu ada upaya "gila-gilaan" untuk memeranginya.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, YOGYAKARTA — Seusai melontarkan ide penjara yang dijaga buaya dan piranha, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengaku akan kembali membuat "kegaduhan" pada 2016 mendatang.
"Kegaduhan" yang menurut Budi Waseso telah dikonsultasikan dengan Presiden Joko Widodo ini terkait upaya pemberantasan dan pencegahan narkoba di Indonesia.
BACA JUGA:
(VIDEO) Tikus Raksasa Ini Menjerit seperti Wanita Ketakutan
"Tahun 2016 saya akan membuat kegaduhan lagi. Dalam upaya pemberantasan narkoba, kita jangan biasa-biasa saja," ujar Budi Waseso di depan ratusan perwira menengah dan bintara di Gedung Serbaguna Mapolda DIY, Selasa (17/11/2015).
Budi Waseso juga mengatakan, narkoba merupakan musuh negara sehingga perlu ada upaya "gila-gilaan" untuk memeranginya.
"Perlu gila-gilaan, masif, dan bersama-sama. Sejarah saya hidup itu membuat kegaduhan. Tidak perlu takut kalau benar. Saya sudah bicara dengan Presiden soal itu," kata dia.
"Jangan sekarang, nanti dong surprise. Kalau dikasih tahu sekarang enggak gaduh," ujar dia sambil tersenyum kepada wartawan yang mengejarnya seusai acara.
Seperti diberitakan sebelumnya, Budi Waseso mengunjungi Yogyakarta. Di Yogyakarta, Budi Waseso bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Ibu-ibu PKK, dan anggota Polda DIY.
Selain itu, Budi Waseso juga sempat menempel stiker "Stop Narkoba" di beberapa toko di Yogyakarta.
Sudah Beli Dua Buaya

Ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) mengumumkan rencana untuk menjaga pulau penjara terpidana mati dengan buaya, pemerintah buru-buru menjelaskan bahwa itu hanya gurauan.
Namun hari Jumat (13/11), kepala BNN Budi Waseso mengatakan ia sekarang berpikir untuk juga menggunakan harimau dan ikan piranha.
Media mengutip Budi yang mengatakan bahwa ia sudah membeli dua buaya dari sebuah tempat penangkaran untuk mempelajari kekuatan dan agresi mereka, dan mungkin akan menyimpan sebanyak 1.000 ekor untuk menjaga jangan sampai ada narapidana yang kabur.
"Jumlahnya tergantung dari seberapa besar wilayah itu, atau apakah mungkin digabung dengan piranha," katanya kepada wartawan.
"Karena jumlah personel (penjara) sedikit, kita dapat menggunakan binatang liar. Kita dapat menggunakan harimau juga, sekalian untuk konservasi."
Ikan piranha, pemakan daging yang memiliki gigi tajam dan rahang kuat, merupakan hewan asli Amerika Selatan dan tidak ditemukan di Indonesia.
Budi dan para pejabat kantornya tidak dapat dimintai keterangan untuk laporan ini.
Dalam komentar terpisah di saluran TVOne, Budi menolak kritikan bahwa rencananya menggunakan hewan-hewan itu melanggar hak asasi para terpidana.
"Kita harus melihat masalah secara keseluruhan," ujarnya. "Orang-orang ini pembunuh, pembunuh massal. Bukankah kita seharusnya mempertimbangkan hak asasi para korban mereka?"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/budi-waseso_20150915_190058.jpg)