Musik Adalah Segalanya Bagi Kehidupan Naning Widayati

Nama Naning Widayati boleh jadi sudah tidak asing bagi kalangan pemusik di Provinsi Lampung.

Penulis: heru prasetyo | Editor: soni

Laporan Reporter Tribun Lampung Heru Prasetyo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Nama Naning Widayati boleh jadi sudah tidak asing bagi kalangan pemusik di Provinsi Lampung. Terlebih belakangan namanya kembali harum atas capaian tim bina vokalia yang ia pimpin berlaga di The 5th Bali International Choir Festival meraih medali emas dan perak di dua kategori berbeda. Tapi siapakah sesungguhnya sosok Naning Widayati sesungguhnya?

Ia hanyalah perempuan sederhana yang tumbuh dan berkembang di kota yang menghargai seni, Yogyakarta. Menariknya, Naning yang lahir 3 Februari 1970, seolah mendapatkan kebahagiaan tidak terkira dari keluarga besar yang juga memiliki ketertarikan terhadap musik. Dari sinilah darah seni musiknya mengalir deras dan terasah.

"Boleh dikatakan saya itu mendapatkan kebahagiaan dari musik," jelas Naning Widayati pada Tribun, Kamis (18/8) malam melalui sambungan telepon. "Kehidupan saya tidak pernah lepas dari musik, keluarga, pertemanan, karier semua berkaitan dengan musik. Ini keberuntungan saya," ucapnya bahagia.

Perkenalan Naning pada musik telah dimulai sejak ia masih bayi merah. Namun uniknya, sesi perkenalan awal ini bukan melalui pembelajaran formal dengan kurikulum khusus. Justru semua mengalir apa adanya seiring perkembangan usia dirinya yang besar dilingkungan pecinta musik.

Kala itu, jelas perempuan yang kini berprofesi sebagai tenaga pendidik di SMA Negeri 2 Bandar Lampung, ayah, ibu dan warga sekitar kerap bermain musik keroncong di malam hari. Alhasil, saat ia terlelap dalam tidur nyenyak di gendongan sang ibu, musik keroncong yang terlantun indah seakan menjadi lagu nina bobo Naning kecil.

Hal seperti diatas masih berlanjut saat Naning beranjak remaja. Giliran sang kakak, Retno Pujiwati, yang mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Musik Yogayakarta (saat ini SMKN II Kasihan Bantul) mengenalkan Naning pada musik. Koleksi musik standar, klasik, jazz jadi santapannya saban hari melalui suara tape yang diputar.

"Seperti itulah masa kecil saya. Keroncong, klasik dan jazz jadi makanan setiap hari. Lagu macam feeling, nothing more than feelings dari Morris Albert sudah biasa di telinga saya," terang Naning. "Di SD juga biasa ikut nyanyi, lomba, jadi konduktor, waktu ibadah di gereja juga ikut nyanyi. semua mengalir gitu aja," sambungnya mengenang masa kecil.

Kendati demikian, ketertarikan Naning di dunia musik yang juga ingin melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Musik seperti kakak tidak mendapat restu dari ibu. Ia pun terpaksa melanjutkan ke sekolah menengah regular. Tapi tanpa diketahui ibunda, sepulang sekolah Naning tetap bermain dan menyambangi Sekolah Menengah Musik tempat kakaknya menimba ilmu.

Sementara di jenjang pendidikan tinggi, Naning yang diharapkan dapat melanjutkan kuliah di jurusan Kedokteran dan Sastra Inggris harus menelan pil pahit. Sembari menunggu pendaftaran tahun berikutnya, Naning mengisinya dengan ikut kursus di Pusat Musik Liturgi. Ia mempelajari dengan serius pengetahuan tentang konduktor dan organ yang kelak menjadi modal cantik dalam menekuni profesinya.

Langkah tadi menjadi titik pijak yang kemudian membawanya menekuni musik secara profesional. Naning yang kemudian menempuh pendidikan seni musik di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), tercatat pernah tergabung di paduan suara Tri Ubaya Sakti yang dikelola Kodam IV Diponegoro. Tidak itu saja, ia juga kerap 'ngamen' di hotel berbintang di Yogyakarta seperti Hotel Santika dan Hotel Garuda.

"Inilah kehidupan saya, ibu pada akhirnya maklum. Sejak SMA saya pun sudah mandiri dengan begelut di dunia musik ini," terang dia. "Jika ditanya seperti apa saya mencintai musik, musik adalah hidup saya," tegas dia,

"Tapi kalau ditanya jenis musik apa yang saya cintai. Jazz dan keroncong," lanjut Naning yang pernah menyabet guru berprestasi tingkat provinsi Lampung. "Jazz adalah musik yang mencerminkan diri saya, buat saya happy, dan inilah saya. Sedangkan keroncong adalah musik yang penuh romantisme. Saya akan terkenang bermesraan dengan ibu dan ayah saya lewat musik keroncong," jelas Naning.

Tapi satu hal yang seperti yang diungkapkan diawal, musik adalah kehidupan Naning. Musik yang menjadikannya seperti saat ini. Profesi sebagai guru yang ia tekuni saat ini pun berkaitan dengan musik, lingkar pertemanan di Dewan Kesenian Lampung dan lainnya juga diisi oleh mereka yang hobi dengan musik. "Ini keberuntungan saya," pungkas dia. (hru).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved