Rambah Online, Omzet UKM Ucok Durian Medan Meroket Jadi Miliaran Per Bulan

Order sudah masuk, duit sudah kita terima, tak mungkinlah kita kembalikan bang. Abang harus cari sampai dapat itu barang.

Penulis: Heribertus Sulis | Editor: Heribertus Sulis
Tribun Lampung / Heribertus
Sejumlah konsumen sedang menikmati durian di Ucok Durian Medan 

Lapak durian di Jalan Pelajar yang menempati sebuah ruko pun akhirnya tak mampu lagi menampung barang dagangannya yang memang harus ada stok setiap hari. Johan kemudian membangun sebuah gudang di pinggiran kota, lalu juga membuka cabang di Jakarta untuk memudahkan pengiriman pesanan durian ke berbagai daerah lain.

Fantastis bukan? Tapi benarkah semudah itu Johan dan keluarganya bisa menjadikan bisnisnya melesat bak roket?

"Tentu ada kendala dalam pemasaran durian secara online ini. Awalnya banyak yang meragukan kebenaran dan keaslian usaha kami. Benar enggak ini jualan durian, benar enggak ini durian Medan? Karena kan konsumen yang order online harus bayar dulu baru barang kami kirim, mereka masih takut-takut," kata Ananda.

Ananda kemudian bersiasat. Untuk menumbuhkan kepercayaan calon konsumennya, dia memajang banyak foto di akun Google Bisnisku dan juga websitenya.

"Kekuatan promosi lewat internet ini ada di foto. Kami betul-betul memanfaatkan foto-foto untuk promosi. Foto lapak kami pajang, foto buah yang baru diturunkan dari mobil, foto daging buahnya, bahkan KTP pun kami foto dan kami pajang agar calon konsumen yakin bahwa usaha kami bukan bohongan dan kami bertanggung jawab," kata Ananda menambahkan.

Menurut Ananda, pembeli durian di Kota Medan memang tergolong besar, tak hanya warga setempat, para wisatawan atau pengunjung dari daerah lain pun menggemari buah durian. Meski demikian, mengandalkan pembeli yang datang ke lapaknya saja tak akan membuat usahanya berkembang pesat.

Dia sadar, tak semua penyuka durian mau dan bisa datang berkunjung ke lapak untuk menyantap atau membawa pulang Durian Medan. Sangat banyak para penggemar durian, terutama Durian Medan, yang tinggal di daerah-daerah lain tapi ingin juga membeli dan bisa menikmati Durian Medan setiap saat tanpa harus berkunjung ke Kota Medan atau ke lapak jualannya.

"Maka salah satu solusinya ya kami harus go online. Semua jalur online kami manfaatkan. Dan tak payah bayar untuk pasang informasi dan pajang foto-foto di Google Bisnisku, gratis!" ungkap Ananda.

Tak hanya berjualan buah durian utuh, Johan juga menyediakan durian kupas, daging durian, dan pancake durian.

Meski telah menangguk omzet miliaran, Johan dan Ananda beserta keluarganya kini punya tanggung jawab lain pada konsumennya, yakni menyediakan durian sesuai pesanan.

"Begitu pesanan masuk, saya harus kirim itu barang. Ada atau tidak ada barang di lapak hari ini, kami harus carikan hari itu juga sampai dapat. Karena saya marketing saya bilang sama kakak saya, 'order sudah masuk, duit sudah kita terima, tak mungkinlah kita kembalikan bang. Abang harus cari sampai dapat itu barang'. Nah karena dia memang jagonya cari barang biar dia yang pusing cari durian," ungkap Ananda berkelakar.

Membangun jaringan selama 15 tahun dengan para petani dan penjual durian di berbagai pelosok daerah Sumatera Utara membuat Johan tak kelabakan mendapatkan supply. Dia paham kapan dan dimana waktu panen durian sedang terjadi.

"Yang penting durian yang kami jual ke pembeli itu asli dari Medan, asli Sumatera Utara, bukan daerah lain. Sampai pelosok pun kami carikan untuk memenuhi pesanan pembeli," kata Johan.
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved