Dewi Sarjana Lulus Tercepat di Singapura: Pagi Kuliah, Malam Cari Duit dengan Mengajar
Tuntutan hidup itu menyita waktu Dewi. Meski demikian, ia tetap menomorsatukan studinya.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, SINGAPURA - Terbayar sudah seluruh pengorbanan Dewi Suryana untuk menyelesaikan kuliahnya di Singapura. Ia telah lulus dengan predikat First Class Honours dan lulusan S-1 tercepat di Nanyang Technological University (NTU) pada Juni 2016.
Itu sebuah capaian luar biasa bagi seorang gadis dari sebuah keluarga sederhana di Pontianak, Kalimantan Barat. Prestasi itu ia rengkuh melalui serangkaian perjuangan hidup sejak ia masih belia.
Ketika masih SMP, kelahiran 9 September 1995 itu seringkali melewati masa istirahatnya tanpa makan di sekolah. Waktu rehat ia gunakan untuk belajar atau bertanya kepada gurunya di SMP Immanuel Pontianak.
Menginjak SMA, ia pindah ke Tangerang dengan beasiswa untuk pelajar berbakat. Tiga tahun sekolah di SMAK Penabur Gading Serpong, Dewi tak pernah kembali ke Pontianak karena tidak ada uang untuk membeli tiket pesawat.
Jauh dari orangtuanya yang sakit-sakitan, Dewi berusaha mencari uang tambahan dengan mengajar les privat di Bintaro dan Gading Serpong. Tak ada waktu baginya untuk bersenang-senang layaknya anak muda masa kini.
Kesibukan serba melelahkan itu berlanjut setelah ia berada di Singapura pada 2013. Pertama kali ia terbang ke sana, tidak ada yang menemani. Ia menginap semalam di Bandara Changi dan keesokan paginya langsung menuju kampus NTU.
Beasiswa yang ia terima untuk kuliah di NTU tidak serta-merta mencukupi seluruh kebutuhannya.
Gadis berkacamata itu masih harus mengumpulkan uang di masa jeda pencairan beasiswa.
Dewi juga menghabiskan akhirnya pekannya untuk mengajar les pelajaran eksakta untuk anak SMP dan SMA di sana.
"Pagi hari saya kuliah dan malam saya mengajar, bahkan Sabtu-Minggu saya habiskan untuk mengajar," kata Dewi saat ditemui kontributor Kompas.com di Singapura, Ericssen, awal September lalu.
Tuntutan hidup itu menyita waktunya. Meski demikian, ia tetap menomorsatukan studinya. Sesibuk apa pun, Dewi tetap hadir di ruang kuliah.
Dewi menempa dirinya lebih keras dibanding rekan-rekannya. Di saat teman-temannya mengambil 18-20 satuan kredit semester (SKS), Dewi melahap 27 SKS per semester. Di awal kuliah, ia mengambil 10 modul kuliah sekaligus per semester.
Itu sebabnya Dewi bisa lulus dalam waktu tiga tahun dari jurusan Teknik Material, sementara rata-rata mahasiswa lain merampungkannya dalam empat tahun.
"Sebenarnya sejumlah materi yang diajarkan di sini terutama di semester-semester awal sudah saya pelajari di SMA atau di pelatihan olimpiade," tutur peraih medali perak pada International Junior Science Olympiad (IJSO) di Azerbaijan (2009) dan International Chemistry Olympiad (IChO) di Amerika Serikat (2012) itu.
"Saya sudah memahaminya, tetapi saya memilih tetap datang untuk melihat perspektif lain, mendalami, dan juga mengulang kembali materi," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/dewi-suryana-3_20160922_205143.jpg)