Dewi Sarjana Lulus Tercepat di Singapura: Pagi Kuliah, Malam Cari Duit dengan Mengajar

Tuntutan hidup itu menyita waktu Dewi. Meski demikian, ia tetap menomorsatukan studinya.

Editor: Andi Asmadi
DOK PRIBADI
Dewi Suryana berpose setelah diwisuda di Nanyang Technological University, Singapura, 30 Juni 2016. 

Anak kedua dari empat bersaudara itu mengakui bukan sosok yang sangat mudah bergaul. Namun, dia bersyukur karena memiliki sejumlah teman dekat, baik kawan Indonesia maupun Singapura, yang dapat memahami latar belakang dan kesibukannya.

Tidak ada cerita Dewi kongko dengan kawan-kawannya di restoran atau menonton bioskop atau bersenang-senang di kelab malam.

"Bagi kita, berkumpul makan siang bersama di kantin atau bahkan belajar bersama sudah merupakan sebuah kesenangan bersama," katanya dengan wajah ceria.

Di antara kesibukannya itu, Dewi masih menyempatkan diri ikut dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler NTU, seperti klub teknik material, klub investasi, dan perkumpulan rohani.

Harus diakuinya bahwa aktivitasnya yang bejibun itu seringkali membuatnya lelah dan kurang jam tidur.

"Ada hari di mana saya hanya ingin tidur seharian," ucapnya sambil tertawa.

Saat ini Dewi telah bekerja di Lam Research Corporation sebagai field process engineer. Perusahaan ini telah menerimanya sebelum dia lulus kuliah. Dewi juga masih tetap mengajar privat di malam hari seusai jam kerja kantor.

Kini dia berencana mengurangi jumlah muridnya supaya mendapatkan lebih banyak waktu untuk beristirahat, jalan-jalan di kebun, berkomunikasi dengan keluarganya di Pontianak, dan sejumlah aktivitas ringan lainnya.

Gadis berumur 21 ini mengakhiri wawancara dengan rasa syukur atas apa yang sudah didapatkannya walau harus menghadapi jalan terjal dan luar biasa berliku.

"Saya bersyukur yang paling utama keadaaan keluarga sudah lebih baik dan kami juga sudah dapat membeli rumah melalui KPR," kata Dewi yang semasa kecil hidup bersama keluarga dan menumpang di rumah saudara ayahnya.

Dewi sangat senang karena ayah ibunya tidak perlu lagi bekerja dan dapat menikmati hari tua mereka.

Kondisi ayahnya kini berangsur-angsur membaik. Ia lega karena telah membawa ayahnya berobat, padahal dulu ayahnya kerap tak punya uang untuk ke dokter.

Ayah dan ibunya terlihat bangga dan penuh haru ketika menghadiri wisuda Dewi pada 30 Juni 2016.

Ketika ditanya apakah akan kembali ke Indonesia, Dewi hanya tersenyum. Dia berharap, kelak ketika ia kembali ke Tanah Air, ia ingin menjalankan usaha dan membuka sebuah yayasan untuk menolong orang-orang yang memerlukan uluran tangan.

Dengan pengalaman hidup yang penuh warna ini, Dewi berpesan bahwa siapa pun dapat mewujudkan mimpinya asalkan diiringi kerja keras dan motivasi kuat tanpa mengenal lelah.

"Bagi yang merasa tidak seberuntung orang lain, baik dari segi finansial atau latar belakang, fokuslah pada kelebihanmu. Tidak ada impian yang mustahil," pesan Dewi.

"Saya berharap kisah saya dapat menginspirasi teman-teman lain terutama yang punya mimpi ingin berkuliah di luar negeri," ujarnya mengakhiri dengan senyum.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved