Petambak Udang Sragi dan Ketapang Beralih ke Pola Intensif dan Semi Intensif
Sempat alami kelesuan dalam dua tahun terakhir, kini aktvitas petambang udang di Kecamatan Ketapang dan Sragi di Lampung Selatan kembali menggeliat.
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: soni
Laporan Wartawan Tribun Lampung Dedi Sutomo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA - Sempat alami kelesuan dalam dua tahun terakhir, kini aktvitas petambang udang di Kecamatan Ketapang dan Sragi di Lampung Selatan kembali menggeliat.
Para petambak udang yang selama ini mengelola tambak mereka secara tradisional, kini beralih ke pola semi intensif dan intensif. Bibit udang yang dibudidayakan juga beralih dari udang windu ke jenis fanami.
Menurut para petambak, hasil yang didapatkan dari membudidayakan udang jenis fanami jauh lebih besar jika dibandingkan udang windu sebelumnya. Untuk 1 hektare, petani petambak bisa menghasilkan udang sekitar 3,5 ton.
“Untuk luas 1 hektare bisa dibuat 4 kolam tambak. Setiap kolam bisa menghasilkan sekitar 900 kilogram. Jadi 1 hektare sekitar 3,5 ton,” ujar Sunarso, seorang petambak, Minggu (26/12).
Hanya saja, kata dia, biaya membudidayakan udang fanami jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan udang windu. Pasalnya, selain tambaknya harus intensif juga mengharuskan adanya kincir air, dan biaya pakan udang pun jauh lebih mahal.