Kartini Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun
Perasaannya itu secara nyata ia ungkapkan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, sahabat sekaligus wanita yang dianggap ibu oleh Kartini.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kematian Kartini yang mendadak pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra laki-lakinya, mengejutkan banyak pihak.
Sabahat dan kerabat tidak menyangka, Kartini pergi begitu cepat.
Suaminya, RM Djojo Adiningrat tak kuasa menahan sedih, dan sangat terpukul.
Perasaannya itu secara nyata ia ungkapkan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, sahabat sekaligus wanita yang dianggap ibu oleh Kartini.
“Dengan halus dan tenang, ia mengembuskan napasnya yang terakhir dalam pelukan saya, lima menit sebelum hilangnya (meninggal) pikirannya masih utuh, dan sampai saat terakhir ia masih sadar. Dalam segala gagasan dan usahanya, ia adalah lambang cinta dan pandangannya dalam hidup demikian luasnya. Jenazahnya saya tanam keesokan harinya di halaman pasanggrahan kami di Bulu, 13 pal dari kota,” tulis Djojo Adiningrat, sebagaimana dikutip dari buku Kartini: Sebuah Biografi yang ditulis oleh Sitisoemandari Soerto.
Kabar mengenai kematian Kartini kemudian tersiar dalam Koran De Java bode hari Senin, 19 September 1904, dalam sebuah in memoriam yang menceritakan riwayat hidup Kartini.
“Suatu kehilangan yang susah digantikan oleh mereka yang akan berusaha mengikuti jejaknya,” tulis Koran itu.
Kartini semasa hidupnya seperti sudah punya firasat, kalau hidupnya tak akan lama.
Ia sempat berpamitan kepada orang-orang terdekatnya.
Saat berkirim surat kepada kepada Nyonya Abendanon tertanggal 10 Agustus, Kartini mengatakan, jika surat yang ia tulis merupakan surat terakhir.
Tanda-tanda itu juga ia sampaikan sendiri kepada adiknya.
Roekmini menceritakan bagaimana kakaknya yakin, jika ia akan meninggal di usia muda, dalam suratnya kepada Nellie van Kol pada 21 Juni 1905.
“Tak kala masih gadis dan masih berkumpul, Ayunda sering bilang bahwa ia tak mau hidup lebih lama dari 25 tahun.”
Waktu mengandung, Kartini juga berulang kali menulis kepada Roekmini, memintanya untuk merawat anaknya, jika ia tidak dapat merawat lagi.
Juga ketika sang suami, Bupati Djojo Adiningrat berbicara mengenai kemungkinan, jika ia akan meninggal duluan karena usianya yang jauh lebih tua, Kartini akan memotong pembicaraan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kartini_20170421_225351.jpg)