HERITAGE: SD Taman Pendidikan Islam Perkemas di Jl Ikan Kerapu No 13 TbS
Perkemas lahir ketika putra-putri Indonesia sadar bahwa untuk bebas dari penjajahan Belanda mereka harus menjadi orang pintar.
Penulis: Bayu Saputra | Editor: soni
Laporan Reporter Tribun Lampung Bayu Saputra
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Perkemas lahir ketika putra-putri Indonesia sadar bahwa untuk bebas dari penjajahan Belanda mereka harus menjadi orang pintar.
Kepala Sekolah Perkemas Imelda Soraya kepada Tribun Lampung, Senin (29/5) mengatakan,
pada tahun 1925, KH Hosen bin H Abdul Syukur mendirikan Madrasah Islamiyah di Tanjung Agung dan Bengkulu dengan nama Madrasah Muawanatul Khair.
Perguruan Islam yang pertama ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Perguruan ini pun maju dengan pesat. Sesudah berjalan sekitar lima tahun, maka mulai terasa tekanan-tekanan yang dilancarkan pihak penguasa Belanda yang tidak menginginkan kepintaran bagi putra pribumi.
Hal ini menyebabkan madrasah atau sekolah dipindahkan ke Tanjung Karang Bandar Lampung.
Nama Perguruan ditingkatkan menjadi Muawanatul Arabic School (MAS) pada 1930. Sekolah arab yang berdasarkan tolong menolong pada saat itu menjadi benteng umat islam.
Antara tahun 1930-1942 MAS berkembang dengan pesat, tidak kurang dari 40 cabang telah dibangun di Sumatera Selatan. Kegiatan MAS terhenti ketika Perang Dunia ke II berkecamuk di Indonesia. Al-Ustadz Osman Hosen, salah seorang promotor MAS di masa lalu, dan salah seorang putra almarhum KH Hosen, pada tahun 1951 mulai melanjutkan kembali cita-cita MAS terdahulu dengan mendirikan suatu persatuan keluarga bernama Persatuan Keluarga (Persatuan Keluarga/Perkemas).
Di bawah pimpinan beliau beserta staf akademiknya, perguruan ditingkatkan mulai dari TK islam hingga akademi dakwah yang dibentuk. Alumnus dari Perkemas diantaranya mantan rektor IAIN Raden Intan Musa Sueb dan Kakanwil Kemenag Lampung Suhaili.(byu)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sekolah-perkemas_20170529_185159.jpg)