Kemoterapi Tak Efektif Tangani Kanker Serviks

“Pada kanker serviks, kemoterapi hanya untuk pilihan kedua atau alternatif. Terapi utamanya adalah operasi atau radiasi"

Editor: Reny Fitriani
istock
ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kanker serviks merupakan penyakit yang mematikan apabila tak ditangani sejak dini.

Di Indonesia sendiri, kanker serviks merupakan kanker kedua dengan penderita terbanyak setelah kanker payudara.

Cara yang baik agar terhindar dari kanker serviks adalah sedini mungkin mencegah dan mendeteksi adanya kanker.

Menurut Prof. Dr. dr. Andrijono, Sp.OG(K)., kanker serviks bisa dicegah dengan dua cara, yaitu primer dan sekunder.

“Pencegahan primer dengan vaksin dan sekunder dengan skrining,” jelasnya pada NOVA.id.

Pada stadium awal, kanker serviks tak selalu membuat penderitanya merasa sakit, bahkan juga pada stadium lanjut.

Pengobatan kanker serviks tergantung pada berbagai faktor, seperti misalnya stadium, jenis, usia pasien, rencana kehamilan, atau kondisi medis lain yang dimiliki.

Jenis penanganan kanker menurut stadium ada dua, yaitu penanganan tahap awal yaitu dengan pengangkatan sebagian atau seluruh organ rahim, radioterapi, atau keduanya.

Yang kedua, adalah penanganan kanker serviks stadium akhir dengan radioterapi dan atau kemoterapi, dan terkadang juga operasi lain yang dibutuhkan.

Menurut Prof. Andrijono, kemoterapi tak efektif untuk pengobatan kanker serviks.

“Pada kanker serviks, kemoterapi hanya untuk pilihan kedua atau alternatif. Terapi utamanya adalah operasi atau radiasi. Operasi pengangkatan bagian atau rahim secara keseluruhan pada stadium juga bisa mengurangi risiko kanker bertambah parah,” paparnya.

Sementara itu, ada tiga jenis operasi yang biasanya dilakukan untuk menangani kanker serviks, seperti yang dijelaskan pada laman Web MD.

Pertama, adalah operasi radical thachelectomy yang cocok dilaksanakan untuk kanker serviks yang terdeteksi pada stadium awal dan untuk perempuan yang berencana memiliki anak.

Prosedur operasi ini bertujuan untuk mengangkat leher rahim, jaringan sekitarnya, dan bagian atas vagina tanpa mengangkat rahim secara keseluruhan.

Kedua adalah operasi pengangkatan rahim atau histerektomi, yang dilakukan terkadang bersama dengan radioterapi agar sel kanker tak kembali lagi.

Sumber: Tabloid Nova
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved