Ini 3 Kisah Kasus Pasien Miskin vs RSUDAM, Nomor 2 Paling Viral dan Nomor 3 Paling Tragis

Ternyata banyak kasus terkait masyarakat miskin dengan Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung selama ini.

Penulis: Teguh Prasetyo | Editor: Teguh Prasetyo
tribun lampung / kolase
Berlin, putri pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31), dibawa naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jl Rivai menuju Bundaran Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Ternyata banyak kasus terkait masyarakat miskin dengan Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung selama ini.

Paling tidak, dari banyaknya kasus tersebut, ada tiga kasus yang sempat mencuri perhatian masyarakat.

Baca: Bocah yang Tersengat Listrik Itu Merupakan Penjaga Gawang di Sekolah

Bahkan beberapa kasus ini sempat menjadi bahasan hingga media nasional.

1. Kasus Ibu dan Bayi Tertahan Akibat Tak Ada Uang

Kasus ini adalah kasus terbaru yang menimpa Indarti, warga  kelurahan Gapura, Kotabumi, Lampung Utara hanya bisa pasrah. 

Usai melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung, wanita ini tak sanggup membayar biaya persalinan.

Akhisnya Indarti dan bayinya tertahan di rumah sakit.

Indarti yang ditemui Tribunlampung.co.id sambil menggendong bayinya di Ruangan Delima kelas 1C RSUDAM menceritakan, dirinya sudah sejak Jumat, 3 November 2017 berada di RS.

Sampai Kamis, 9 November 2017, Indarti masih belum bisa keluar karena tidak sanggup membayar biaya perawatan pasca melahirkan yang hampir mencapai Rp 10 Juta.

"Ceritanya waktu Jumat saya menuju tempat saudara di Bandar Lampung, dan pada saat itu tiba-tiba saya mengalami kontraksi dan langsung dibawa ke RSUDAM," katanya.

Awalnya, kata Indarti, ia mau berobat ke tempat persalinan lain.

indarti
indarti (Tribunlampung.co.id/Yoga Noldy Perdana)

Namun akhirnya diputuskan di RSUDAM  karena dinilai biayanya lebih murah.

"Saya juga kan punya BPJS Kesehatan, jadi bisa meringankan biaya. Nah awal kekagetan saya ini ketika tiga hari kemudian kita dapet tagihan dari pihak RS yang totalnya 6 juta sekian (per hari Selasa biaya untuk ibu Rp 6.519.500 plus biaya bayi Rp 1.305.000), itu total dari biaya perawatan ibu dan anak," katanya.

"Nah dari situ saya kebingungan kok biayanya mahal banget sampai segitu, sementara saya cuma punya uang Rp 3 jutaan saja,” ujar wanita yang berprofesi sebagai pedagang ini.

Sebelumnya Indarti sudah mengajukan pembayaran biaya rumah sakit melalui BPJS Kesehatan.

Namun karena ada kendala, BPJS Kesehatan miliknya belum bisa digunakan.

Akhirnya, Indarti terpaksa masuk RSUD Abdul Moeloek melalui kategori pasien umum.

“Dari pihak rumah sakit sudah menawarkan solusi untuk pembayaran dengan cara mencicil dengan syarat jaminan BPKB atau sertifikat rumah," kata dia.

Baca: Dokter Tembak Istri, Ini Sosok Dokter Lety yang Dikenal Ramah dan Pendiam Itu

"Tapi saya gak punya juga karena disana saya numpang tinggal,” ujar Indarti.

Saat ini Indarti masih kebingungan melunasi biaya persalinan.

"Bingung saya mas, mau diapain juga saya pasrah, habis gak punya biaya buat bayar total segitu,” ujarnya.

Sementara pihak RSUDAM melalui Kabaghumas Akhmad Sapri mengatakan, sudah menjalankan standard operasional prosedur (SOP) terkait penanganan pasien baru melahirkan atas nama Indarti.

Dia mengatakan, tidak ada yang salah dengan total biaya yang dibebankan kepada pihak pasien tersebut.

"Pasien atas nama Indarti kan dirawat di raung kelas 1, kalau seandainya pasien masuk di kelas II atau kelas III pasti biayanya lebih murah gak semahal itu," kata dia.

Baca: Jalan di Mal, Kaki Anak Ini Tiba-tiba Penuh Bintik Merah, Sang Ibu Ungkap Fakta Penyakit Menular

"Perkiraan biaya untuk vakum saja kisaran Rp 2,5 juta dan kamar per hari kelas I itu Rp 250 ribu, hitung saja totalnya. Kita punya semua rinciannya kok,” ujar Sapri.

Ia juga mengatakan, pihak rumah sakit bukan menahan pasien, hanya saja pihaknya menunggu agar pasien bisa melakukan kewajibannya untuk membayar total biaya selama di rumah sakit.

“Kami juga sudah memberi keringanan untuk pasien Indarti untuk dapat mencicil biaya persalinan. Dengan catatan harus meninggalkan jaminan, seperti KTP, KK serta surat berharga," ungkapnya.

"Kalau tidak ada itu, siapa yang mau jamin," ujarnya.

Terkini, Indarti dan bayinya akhirnya mendapatkan bantuan donasi dari Forum Masyarakat Transparansi Lampung yang melunasi kekurangan biaya ke RSUDAM.  

2. Bawa Jenazah Bayi Pakai Angkot

Hanya karena orangtuanya tidak mampu membayar sewa ambulans, jenazah bayi Berlin Istana yang berusia satu bulan asal Abung Timur, Lampung Utara, terpaksa dibawa naik angkutan kota di dalam Kota Bandar Lampung, Rabu 20 September 2017.

Berlin, putri pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31), dibawa naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jalan Rivai menuju Bundaran Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer.

Mereka semula hendak membawa jenazah sang bayi menggunakan bus dari Hajimena ke Lampung Utara.

Berlin, putri pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31), dibawa naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jl Rivai menuju Bundaran Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer.
Berlin, putri pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31), dibawa naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jl Rivai menuju Bundaran Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer. (tribun lampung / kolase)

Namun, berkat bantuan warga yang menelepon Ambulans Gratis Pemkot Bandar Lampung, akhirnya perjalanan dilanjutkan menggunakan ambulans.

Pihak RSUDAM sudah memberi klarifikasi dengan menyatakan terjadi kesalahpahaman akibat mis-administrasi.

Ardiansyah, ayah korban, yang ditemui Tribun Lampung di Abung Timur pada Rabu malam menuturkan, awal permasalahan terjadi ketika ia mengurus administrasi kepulangan jenazah bayinya dari RSUDAM.

Saat itu, petugas RSUDAM mengatakan adanya perbedaan nama yang tercantum, antara kartu BPJS dengan nama yang tertera di bagian formulir pendaftaran.

Baca: Uluran Tangan Donatur Bawa Indarti Pulang dari RSUDAM, Siapakah Dermawan Tersebut?

"Nama yang tertera saat pendaftaran adalah Delpasari, sementara di kartu BPJS tertera Berlin Istana," ungkap Ardiansyah saat ditemui di rumah duka, Rabu malam. Delpasari adalah nama ibu sang bayi.

Petugas rumah sakit itu mengatakan, jika terjadi hal demikian, harus diurus ulang dan memakan waktu lama.

Di sela negosiasi, oknum sopir ambulans meminta uang Rp 2 juta untuk memperpendek urusan.

3. Pasien Winda Sari Diusir dan Dibawa Pakai Gerobak

Winda Sari (25), seorang pemulung korban kecelakaan lalu lintas, harus pulang secara paksa dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Mimggu 4 Januari 2015.

Ia pulang akibat selama semingga ditelantarkan di rumah sakit milik pemerintah Provinsi Lampung itu dan menggelandang di Bandar Lampung.

Bukan dengan ambulans, Winda pulang dengan sebuah gerobak.

Windasari setelah diusir petugas RSUAM dan tinggal di gerobak rongsokan.
Windasari setelah diusir petugas RSUAM dan tinggal di gerobak rongsokan. (tribunlampung/teguh prasetyo)

Saat pulang dari rumah sakit, kondisi lula di kaki Winda sangat parah: membusuk dan ada beberapa belatung.

Sagimin (39), suami Winda, mengaku istrinya sudah seminggu di RSUAM.

Namun, selama seminggu di rumah sakit, Winda tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya.

Bahkan, pada Minggu petang, seorang petugas RSUAM menyuruhnya pulang dengan alasan rumah sakit tidak sanggup lagi menangangi sakit istrinya.

Winda menjadi korban tabrak lari  di sekitar Pasar Tengah, Bandar Lampung, Minggu 28 Desember 2014.

Baca: Keperawanan Gadis SMP Direnggut Pacar, Setelah 5 Kali Baru Terungkap Ternyata Pacarnya Juga Cewek

Mobil yang menabrak Winda tidak sempat dicatat nomor pelat polisinya.

“Saat itu saya tidak ada di lokasi. Saya datang ke lokasi ketika istri saya sudah terkapar dan di kerubungi banyak orang. Lalu istri saya langsung saya bawa ke RSUDAM,” katanya.

Sagimin mengaku, sejak pertama masuk rumah sakit, dipaksa keluar istrinya tidak mendapatkan pelayanan.

Selain tidak diperiksa dokter atau perawat, Winda juga tidak diberi jatah makan dan minum seperti pasien lainnya.

’’Mungkin karena kondisi kami yang seperti ini dan tidak ada kejelasan kami bisa membayar biaya rumah sakit,” tutur pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak itu.

Baca: Wawan, Pria Pemakan Paku Asal Tasikmalaya Meninggal Dunia, Tapi Keluarga Bingung

Untuk mengurangi lebar luka isrinya dan agar cepat kering,  Sagimin menaburkan bedak di atas luka istrinya.

“Saya tadinya berharap datang ke RSUAM agar istri saya segera mendapatkan pengobatan. Tapi karena saya mengaku tak punya biaya maka istri saya dibiarkan begitu saja,” katanya.

Akhirnya setelah viral di media, pasien Winda Sari kembali dirawat di RSUDAM. Namun tak lama berselang, pasien meninggal dunia. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved