Ini Makanan Liem Sioe Liong, Kakek Deynica Welirang, Jauh dari Kesan Mahal dan Mewah

Ini Makanan Liem Sioe Liong, Kakek Deynica Welirang, Jauh dari Kesan Mahal dan Mewah

Editor: taryono
(Gramedia.com)
Kesuksesan Liem tak dapat dilepaskan dari pertemanan dan patronasenya dengan Presiden RI saat itu, Soeharto. Berkat perlindungan yang diberikan Soeharto, Liem mendapatkan perlakuan istimewa berbisnis di Indonesia. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Jangan pernah membayangkan kehidupan Sudono Salim atau Liem Sioe Liong yang serba wah meski waktu itu disebut sebagai salah satu orang terkaya di Asia.

Oom Liem, begitu dia akrab di sapa, suatu waktu menerima wartawan Kompas di kediamannya di Jalan Gunung Sahari pada Juli 1995.

Rautnya cerah, senyumnya lebar.

Baca: Kakek Deynica Welirang Punya Kekayaan Rp 93 T, Inilah Deretan Pabrik Uangnya

Ia menyambut tamunya hanya dengan mengenakan celana pendek.

Pagi itu, ia mengundang Kompas makan pagi di kediamannya.

Sebelumnya, pertemuan dengan Oom Liem selalu di kantornya di Gedung Indocement, Jalan Jenderal Sudirman.

Sempat terbayang, makan pagi seperti apa dengan orang sekaya Oom Liem.

Ternyata, ia mengajak makan bubur polos, asinan sayur, telur rebus, dan ikan teri.

Ia makan dengan lahap, menggunakan mangkok kecil dan sumpit hitam.

Seusai dengan sarapan istimewa itu, ia minum chinese tea.

Ia mengajak Kompas duduk di ruang tamunya. Di situ ada beberapa sofa kulit. Namun, tampak benar bahwa, meski semua terawat baik, sofa sudah tua.

Baca: Deynica Welirang Wafat-7 Fakta Anak Orang Terkaya yang Wafat 2 Hari Usai Ultah, No 3 Bikin Menangis

Di beberapa bagian, warnanya mulai kusam. Oom Liem dapat menangkap keheranan tamunya, lalu berkata, ”Kursi itu memang sudah tua, tetapi aduh untuk apa diganti? Masih empuk.”

Ia meminta waktu sejenak untuk cukur rambut di halaman samping.

Rupanya ia mempunyai tukang cukur favorit yang sudah belasan tahun mencukur rambutnya. Kursi yang digunakan kursi butut milik tukang cukur itu.

Kesan yang segera mencuat, alangkah bersahaja pria yang selama puluhan tahun menjadi orang terkaya di Indonesia itu.

Tidak ada kesan berpura-pura sederhana. Oom Liem, ya, memang seperti itulah. Kini, tokoh yang bisnisnya ikut memengaruhi perekonomian Indonesia itu telah berpulang ke Yang Maha Pencipta, Minggu, di Singapura pada usia 97 tahun.

Banyak hal bisa dikenang dari usahawan ini. Di balik sikapnya yang amat sederhana, tersimpan kearifan dan belas yang tinggi.

Kalau berada di Jakarta, hampir setiap hari menerima tamu yang meminta bantuannya.

Ada yang minta dibantu karena belum membayar biaya rumah sakit, uang sekolah anak, kredit macet, kekurangan modal, atau tetek bengek yang tidak jelas.

Inilah salah satu latar belakang, tentu juga karena kedekatannya dengan Presiden Soeharto, mengapa para usahawan Tionghoa di Indonesia menjadikan dia seperti ”kepala suku”.

Apa yang disampaikan Oom Liem selalu dipatuhi para usahawan. Bahkan, kalau ada sesama usahawan ”bertikai”, Oom Liem cukup mengangkat telepon dan bergurau dan kedua pengusaha itu langsung berdamai.

Suatu ketika ia mendengar masih terdapat ratusan ribu warga keturunan Tionghoa sedang kesulitan.

Mereka puluhan tahun tinggal di Indonesia, tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk mengurus proses pindah kewarganegaraan.

Oom Liem mengontak beberapa sahabatnya untuk bersama-sama mengeluarkan lebih dari Rp 150 miliar untuk membantu mereka.

Ia suka membantu siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka.

”Ada satu teman dari Jawa Tengah, aduh dia baru saja kehilangan istri dan dua anaknya. Ia hidup sebatang kara, sekarang dirawat di rumah sakit. Tidak bisa keluar karena miskin. Kasihan, dia harus dibantu,” ujar Oom Liem sambil menyeka air matanya.

Dalam banyak percakapan dengan Kompas, Oom Liem kerap menyatakan bahwa ia merasa heran mengapa banyak yang melihat ia seolah langsung menjadi pengusaha besar.

Menurut Oom Liem, ia bisa tiba pada taraf tinggi karena berjuang tanpa lelah dari bawah sejak datang dari Futsing, Hokkian, China selatan, lebih dari tujuh puluhan tahun silam.

Ia jatuh bangun dalam bisnis. Ia menaruh respek saat kawan-kawannya lebih maju. Ia bersabar saat banyak kalangan mencibir ihwal bisnisnya yang dulu beraroma dekat penguasa.

Pasca-kerusuhan Mei 1998, Oom Liem lebih banyak menetap di Singapura. Ia tidak menyampaikan persis mengapa.

Akan tetapi, dengan gerak tubuh, ia seolah ingin menyatakan bahwa ia amat sedih rumahnya dibakar.

Di rumah itu juga dia kembali ke Sang Pencipta. (Abun Sanda)

Sang Cucu Wafat

Berita dukacita datang dari salah satu orang terkaya di Indonesia.

Deynica Welirang, putri bungsu dari Franciscus Welirang dan Mira Salim, meninggal dunia pada usia 39 tahun.

Dia menghembuskan nafas terakhir di Singapura, Jumat, 29 Desember 2017 atau hari ini.


Saat ini, jenazah Deynica disemayamkan di rumah duka Mount Vernon Sanctuary, 121 Upper Aljunied Rd, Singapura.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan, Senin, 1 Januari 2018 di Choa Chu New Christian Cemetery, Singapura.

Deynica meninggal dunia hanya selang 2 hari usai merayakan ulang tahunnya ke-39.

Dia lahir pada tanggal 27 Desember 2017.

Kabar duka ini disampaikan manajemen Sinar Mas Group dan Eka Tjipta Foundation melalui fanpage Sinar Mas pada Facebook

Juga disampaikan fanpage Obituaries.sg, penyedia jasa ucapan duka cita di Singapura.

Bos Indomie

Deynica merupakan putri dari bos produsen mi instan merek Indomie, PT Indofood Sukses Makmur.

Franciscus juga merupakan orang terkaya di Indonesia.

Sosok Frangky, sapaan Franciscus, mulai muncul di atmosfer Salim Grup setelah menamatkan pendidikan insinyur kimia bidang plastik, di Institute South Bank Polytechnic, London, Inggris tahun 1974.

Pria muda yang selalu merendah alias low profile itu, mengawali sepakterjangnya dengan bergabung pada Salim Economic Development pada tahun 1974 hingga 1975.

Pada tahun 1977 hingga 1991 dia mulai diorbitkan ke salah satu anak perusahaan Salim Grup di Bogasari Flour Mills sebagai Wakil General Manager, dan makin dipopulerkan di lingkungan Salim sebagai General Manager pada tahun 1991-1992.

Selepas itu, pada tahun 1992 Frangky mulai dirotasi tour of duty sebagai pada PT Indocement Tunggal Prakarsa, juga milik Salim Grup.

Ketika Bogasari diakuisisi oleh PT Indofood Sukses Makmur (ISM) demi kepentingan strategi perusahaan, Frangky Welirang ikut terbawa promosi menjadi pada PT ISM, hingga sekarang.

Ketika Eva Riyanti Hutapea menyatakan mundur sebagai CEO dan presiden pada PT ISM, nama yang dominan muncul pengganti Eva pada RUPS bulan Mei nanti adalah Frangky.

Pada Bogasari sendiri, terakhir dia ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi sebagai CEO dan presiden direktur.

Selain "putra mahkota" Anthony Salim adalah Franciscus Welirang yang akan merajai Salim di kemudian hari.

Namun yang menarik dari diri Frangky adalah kesederhanaan dan keinginannya yang besar membina kecil.

Pembinaan ini akan menentukan cetak biru kemajuan usahanya sebab tepung terigu yang ditangani Bogasari –demikian pula Indofood dengan mie instannya—sampai ke tangan konsumen adalah melalui jasa para kecil termasuk pedagang kue dan mie instan di kaki lima.

Jumlah mereka yang menjadi ujung tombak pemasar pun tidak sedikit bisa puluhan ribu tersebar di seluruh Indonesia.

Bagi masyarakat awam maupun elit kelas menengah atas makanan roti, kue-kue, mie instan dan makanan ringan lain berbahan baku terigu telah menjadi makanan pokok kedua setelah nasi.

Frangky sendiri mengakui, bahkan berprinsip bahwa kecil adalah jaringan yang membuat besar Bogasari.

Mitra bisnis Bogasari itu, disebutkan Frangky misalnya pedagang roti, pedagang bakso, maupun pedagang kue basah di emperan toko Pasar Senen dan Blok M.

Kalau mereka bertumbuh dan berkembang, demikian Frangky, tentunya Bogasari juga berkembang. Kalau mereka bangkrut, Bogasari juga tutup.

Frangky menyebutkan terdapat puluhan ribu orang pengusaha kecil dalam naungannya. Mereka semua memperoleh bantuan dan binaan.

Bantuan itu, misalnya berupa dana, penyuluhan, latihan, dan konsultasi untuk memperkuat para pengusaha kecil.

Mereka itulah yang secara alamiah menjadi jaringan usaha terpenting serta berperan membesarkan Bogasari, dan sebagai timbal-balik mereka dibina oleh Bogasari. Menurut Frangky, pembinaan ini sudah dilakukan sejak awal Bogasari berdiri.

Bogasari mendirikan Kelompok Wacana Mitra lembaga khusus membina pengusaha kecil.

Kelompok ini terjun langsung memberikan latihan dan penyuluhan bagaimana mengelola usaha kecil, etika bisnis, administrasi keuangan, kualitas produk, dan pengetahuan lainnya.

Diterbitkan pula buletin Wacana Mitra untuk memberikan edukasi, dorongan dan semangat kepada pengusaha kecil melalui artikel-artikel yang dimuat.

Misalnya tulisan tentang keberhasilan pengusaha Mie Kocok Bandung, atau pengusaha roti bantal dan sebagainya.

Bogasari adalah satu dari empat produsen terigu dengan omset pertahun mencapai Rp 5 triliun.

Tiga lainnya PT Sriboga, PT Panganmas, dan PT Berikari. Sebagai produsen terbesar, pangsa pasar terigu yang tiap tahun bertambah lima hingga sepuluh persen itu sekitar 70 persen dikuasai oleh Bogasari.

Pertambahan pangsa pasar terigu nasional antara lain dipicu oleh semakin besarnya masyarakat untuk mengkonsumsi makanan bukan nasi seperti roti, mie, kue, biskuit, demikian pula maraknya kemunculan restoran cepat saji (fastfood) yang menawarkan aneka jenis makanan seperti burger, hot dog, pizza, kebab, donat yang sebagian besarnya berbahan baku terigu.

Bogasari yang pendiriannya diresmikan oleh pada 19 Mei 1971, itu dimaksudkan untuk mengolah biji gandum menjadi tepung terigu.

Pabrik pertama dibangun di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta di atas tanah 10 hektare dengan kapasitas olah 9.500 ton gandung perhari, pabrik kedua didirikan di lokasi pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya diresmikan pada 1972 dengan kapasitas olah 5.000 ton gandum perhari.

Total mempekerjakan 4.000 orang karyawan, jadilah Bogasari industi terigu terbesar di Indonesia.

Menarik mencermati kuatnya penguasaan pasar oleh Bogasari. Ada yang menuding, sejak awal perusahaan ini telah memperoleh "lisensi" monopoli.

Apalagi, mengingat kedekatan dengan Om Liem sejak sama-sama di Semarang. Namun Frangky Welirang menyatakan berbeda. Menurut Frangky, industri ini memang harus memiliki kekuatan.

Toh, kata Frangky, Bogasari bukanlah satu-satunya industri terigu dan ketiga industri lain itu diberi kesempatan sama untuk berkembang.

"Namun, soal strategi penjualan dan kualitas produksi belum tentu sama. Kita memiliki cara sendiri-sendiri. Pasar juga menentukan siapa yang terbaik," jelas Franciscus Welirang.

Dia mencatat ada beberapa hal yang membuat Bogasari unggul.

Misalnya, strategi pembentukan jaringan pemasaran dan penjualan yang jauh lebih baik dibanding tiga pesaing, kekuatan modal yang memberi pengaruh signifikan terhadap keberhasilan pemasaran, serta kualitas produksi dan strategi promosi yang membuat produk Bogasari laku terjual di pasar. (Tribun Timur)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved