Tak Hanya Serang Anak-anak, Ternyata Difteri Juga Serang Orang Dewasa. Sudah Suntik Vaksin?
Kasus wabah difteri yang terjadi di penghujung tahun 2017 disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kasus wabah difteri yang terjadi di penghujung tahun 2017 disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, menyebut difteri yang terjadi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.
Baca: Hati-hati dengan Terompet Tahun Baru, Ternyata Ada Hubungannya dengan Virus Difteri!
Salah satunya karena pengidap difteri tidak hanya terjadi pada anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa.
Dalam catatan Subuh, korban difteri paling muda berumur 3,5 tahun dan usia paling tua 45 tahun.
Ahli Imunologi Universitas Indonesia Iris Rengganis, menjelaskan, imunisasi difteri untuk dewasa tetap diperlukan.
Seperti dilansir Kompas TV, hal itu, sebagai upaya pencegahan sekaligus perlindungan.
Baca: 10 Alasan Sebaiknya Habiskan Tahun Baru di Rumah Saja. Nomor 3 Bahaya Buat Jomblo!
Vaksinasi difteri bagi orang dewasa diutamakan di daerah yang mengalami kejadian luar biasa difteri.
Pemberiannya dibedakan menjadi 2 jenis.
Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksinasi, harus divaksin tiga kali.
Sedangkan yang sudah pernah divaksin, maka hanya divaksin satu kali.
Baca: Asyik Mandi 5 Anak Terseret Ombak Pantai Belebuk, Begini Nasib Semuanya
Berikut sejumlah fakta tentang penyakit Difteri.
1. Difteri bukanlah penyakit baru, sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah mewabah di banyak negara.
Ia juga disebut sebagai penyakit masa lalu sejak difteri diperkenalkan pada tahun 1920-an dan 1930-an.
2. Penyakit masa lalu ini kembali pada 2017.
Selain Indonesia, negara lain yang terserang wabah difteri pada tahun ini adalah Bangladesh dan Yaman.
Untuk kedua negara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengirimkan antitoksin.
Baca: LIVE STREAMING Inter Vs Lazio, Laga Panas Tepat Tengah Malam Nanti
Baca: LIVE STREAMING Bologna Vs Udinese, Tonton Cuma di Sini Jam 9 Malam
3. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.
Bakteri ini dapat hidup di beberapa orang tanpa menunjukkan gejala.
Oleh karena itu, ia dinamakan tipe Typhoid Mary, yakni kondisi di mana seseorang tidak sadar sudah memiliki bibit bakteri tersebut.
4. Seperti flu, difteri menyebar lewat udara, terlebih saat ada orang yang sedang batuk atau bersin.
Jika pada anak-anak, mereka dapat terjangkit karena mainannya yang telah terkontaminasi.
5. Gejalanya meliputi sakit tenggorokan, demam rendah, dan kurang nafsu makan.
Tanda-tanda ini diikuti timbulnya lapisan keabu-abuan pada hidung atau tenggorokan, dan pembengkakan tenggorokan yang disebut bullneck.
Baca: Pelayanan Pemutihan Pajak Sampai 31 Desember Pukul 24.00 WIB
6. Bakteri pertama-tama akan menempel pada lapisan sistem pernafasan dan menghasilkan racun yang akan membunuh jaringan sehat.
Hal ini dilakukan dengan cara mencegah sel menciptakan protein.
7. Vaksin difteri yang sudah dibuat sejak tahun 1920-an membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali toksin.
Dewasa ini, orang mendapatkan vaksin difteri dalam vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus).
8. Di Indonesia sendiri vaksin ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu saat bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4 sampai 6 tahun.
Bila vaksin yang diterima sudah lengkap, seseorang dapat terhindar dari penyakit tersebut.
Baca: Setelah Minta Maaf Usai Disomasi, MUA Ayu Ting Ting Kembali Berulah, Sebut Via Vallen Kampungan!
9. Selain itu, juga disarankan melakukan vaksinasi untuk orang dewasa setiap 10 tahun sekali.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa tambahan setiap 30 tahun sekali sudah dirasa cukup. (*)
Berita ini sudah tayang di Tribunstyle.com dengan judul : Imunisasi Vaksin Difteri Ulang untuk Orang Dewasa Perlukah Dilakukan? Ini 9 Fakta Penting