Demi Alasan Ini Warga di Dua Kelurahan 'Dipaksa' Dukung Pembangunan SUTT

Informasi yang dihimpun Tribun, pembangunan SUTT akan melintasi rumah warga di Korpri Raya dan Korpri Jaya.

Penulis: hanif mustafa | Editor: nashrullah
Tribunlampung/Hanif
warga korpri raya 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Warga Kelurahan Korpri Raya dan Korpri Jaya masih mengkhawatirkan dampak pembangunan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt (kV) Phi incomer Sukarame-Jatiagung.

Meski begitu, suka atau pun tidak mereka diminta untuk tetap mendukung pembangunan tersebut.

Permintaan dukungan disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Lurah Korpri Jaya Udo Panji Ismoyo dalam sosialisasi pembangunan SUTT bersama pihak PLN di aula kantor Kelurahan Korpri Jaya, Rabu (28/3/2018).

Baca: Geger! 50 Juta Data Pribadi Pengguna Facebook Bocor Gara-gara Kuis Kepribadian

Baca: Dapat Hukuman Pemecatan Gara-gara Selingkuh, Mantan Kapolsek Kalirejo Langsung Banding

Informasi yang dihimpun Tribun, pembangunan SUTT akan melintasi rumah warga di Korpri Raya dan Korpri Jaya.

Sosialisasi ini merupakan kali kedua. Sebab sosialisi pertama batal lantaran banyak warga yang menolak pembangunan ini.

"Ini adalah program pembangunan pemerintah, ini bukan kegiatan pribadi atau swasta tapi negara. Jadi kami minta warga suka nggak suka mendukung, karena ini Nawacita Presiden Joko Widodo," ungkap Udo saat membuka sosialisasi.

Udo pun meminta masyarakat Korpri Jaya dan Korpri Raya untuk memahami bersama atas pembangunan SUTT.

"Kita paham bersama betapa susahnya nggak ada listrik. Oleh sebab itu kita harus pahami bersama, ini juga punya negara dan untuk hajat hidup bersama tapi kebetulan melewati rumah atau lahan milik warga," jelasnya.

Andika, perwakilan PLN yang memberikan sosialisasi mengatakan hal serupa.

"Kebetulan kedua wilayah tersebut (Korpri Jaya dan Korpri Raya) dilewati oleh pembangunan SUTT, tapi yang jelas kami di sini memberikan informasi secara jelas tentang pembangunan SUTT kepada masyarakat," ungkapnya.

"Perlu diketahui SUTT berbeda denga SUTET, kalau SUTET tegangannya 235-500 kV. Kalau sekarang cuma SUTT, jadi (dampaknya) nggak seperti SUTET, dan dampaknya tidak seperti yang dikabarkan," tegasnya.

Andika pun meyakinkan masyarakat bahwa dampak SUTT tidak bersifat merusak.

"Ini tidak lain memenuhi kebutuhan listrik secara adil dan merata. Kan ini masih banyak listrik yang belum masuk bahkan kadangkala kekurangan daya listrik," ujarnya.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved