Peserta Lomba FLS2N Kecewa Ahli  Dancer Jadi Juri Tari Tradisional

Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), tingkat Kota Bandar Lampung yang digelar Dinas Pendidikan Bandar Lampung di SMPN 16 Bandar Lampung

Penulis: Romi Rinando | Editor: soni
facebook
menari lustrai 

Laporan Wartawan Tribun Lampung  Romi rinando  

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG  -   Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N),  tingkat Kota Bandar Lampung yang digelar Dinas Pendidikan Bandar Lampung  di SMPN 16 Bandar Lampung pada Rabu (28/3/2018) menuai banyak protes dari para orangtua peserta lomba.

Pasalnya  sejumlah juri  pada lima tangkai perlombaan yang dipertandingkan banyak  tidak berkompeten,  atau sesuai petunjuk pelaksaan FLSN  Sekolah Menengah Pertama Tahun 2018  yang ditebitkan  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.

Baca: Beredar Paspor yang Diduga Milik Lucinta Luna. Perubahan Wajahnya Jadi Sorotan. Beda Banget!

Gunawan, orangtua peserta yang mengikuti lomba solo song mengaku kecewa atas ketidakprofesionalan  juri, yang dinilainya tidak berkompeten. “Kami kecewa,  juri-jurinya tidak berkompeten,  sesuai  juklak yang diterbitkan pusat. Contohnya  juri penari tradisional  jadi juri  solo song, juri dancer jadi juri musik tradisonal,” ujar Gunawan kepada tribun, Jumat (30/3/2018)

Baca: Ogah Balas Dendam, Anak Opick Tulis Pesan Menohok Tanggapi Prahara Orangtuanya

Menurut Gunawan bukan itu saja karena ada  lomba poster  yang  menurut juklak pusat menggunakan printer digital, ternyata  menggunakan manual. dinas pendidikan dan kebudayaan beralasan tidak memiliki  printer yang sesuai kriteria dalam juknis.

Muhamad Aris  pelatih  tari dan musik  tradisional dari SMPN  5  SMPN 14 dan SMPN 10 Bandar Lampung,  mengungkapkan kekecewannya atas kinerja juri  lomba FLS2N tingkat SMP  se Bandar Lampung.

“Lomba kemarin sangat lucu dan aneh,  orang tidak berkompeten  bisa dijadikan juri. Juri  tidak mengetahui musik tradisonal  dijadikan juri . Ada juri yang ahli tari moderen,  malah dijadikan juri tari tradisional, inilah yang kami sesalkan,” kata Aris, Jumat (30/3/2018).

Menurut Aris, pihaknya bukan menyalahkan  soal menang atau kalah dalam lomba tersebut, tetapi ada hal kepatutan dalam menilai sebuah karya seni. “Ini bukan soal menang kalah,  soal estetika dan budaya, bagaimana mungkin orang  tidak paham musik dan tari tradisional  bisa  menjadi juri. Bermain alat musik tradisional saja tidak bisa, bagaimana mau menilai karya yang kami hasilkan,” kata dia.

Kepala Seksi  Dikas Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Harsono yang dikonfimasi Tribun membantah jika juri yang ditunjuk dalam lomba  tidak profesional. “Kita  profesional, dan bisa langsung tanyakan kepada koordinator jurinya, kita semua sudah sesuai juklak,” kata Harsono, via ponsel,  Jumat (30/3/2018)

Pasalnya kata dia, ia tidak berkompeten  menilai hasil karya peserta lomba, dan yang pantas dan layak berkomentar adalah juri. “Saya tidak berkompeten berkoemntar, silahakan langsung ke jurinya. Disdik ini hanya penyelenggaranya saja,  dan juri-juri itu memang yang berkompeten disitu,” tegasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved