Sendirian, Prajurit Kopassus Pratu Suparlan Tak Gentar Hadapi Ratusan Musuh
Pratu Suparlan merupakan anggota Kopassus yang telah mengorbankan nyawanya demi negara.
Bukannya roboh seperti harapan musuh, Pratu Suparlan justru menghunus pisau komandonya.
Ia lalu berlari mengejar Fretilin ke tengah semak belukar, dan merobohkan 6 anggota pemberontak tersebut.
Tak terhitung, jumlah peluru yang telah bersarang di tubuh Pratu Suparlan.
Hal itu membuat seragam loreng yang dikenakannya berubah warna menjadi merah, akibat darah yang mengucur deras dari luka-lukanya.
Namun, ia tak menyerah.
Tibalah Pratu Suparlan pada ambang kesanggupannya, ia terduduk dan tak lagi mampu menggenggam pisau komandonya.
Ia kehabisan darah.
Namun, ia tak pernah kehabisan akal maupun semangat, untuk membela Ibu Pertiwi, dari rongrongan pemberontak.
Tetap Cerdas di Ujung Napas
Saat jatuh terduduk, pasukan Fretilin segera mengerumuninya, dan memberikan sebuah tembakan di lehernya.
Setelah puluhan musuh makin dekat mengepungnya, dengan sisa tenaga yang ada, ia susupkan tangan ke kantong celana.
Dalam hitungan detik, ia mencabut pin granat.
Ia lalu melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar..."
Dentaman keras membahana, mengiringi robohnya puluhan prajurit pemberontak, bersama seorang prajurit Kopassus bernama Pratu Suparlan.
Sementara, sisa pasukan “Unit Suparlan” yang tinggal lima orang, telah menguasai ketinggian di celah bukit.
Melihat gugurnya Pratu Suparlan, dari atas bukit, mereka menghujani tembakan kepada kerumunan Fretilin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kopassus_20180725_194924.jpg)