Bayi Bermata Satu di Mandailing Natal Meninggal, Penyebabnya Diungkap

Ini kejadian yang ketujuh. Yang terakhir di Mesir dan meninggal beberapa jam kemudian.

Tribun Medan
Bayi yang terlahir dengan mata satu di Mandailing Natal (Madina). Setelah 8 jam bertahan, sang bayi kemudian meninggal di hari yang sama. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, MANDAILING NATAL - Kelahiran bayi perempuan bermata satu dan tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara membuat heboh publik.

Bayi perempuan malang yang lahir dengan satu mata serta tanpa hidung itu kemudian meninggal dunia di RSU Panyabungan sekitar delapan jam usai dilahirkan, Kamis (13/9/2018).

"Benar, barusan saja meninggal. Memang dari awal kita sudah prediksi umur bayi ini tidak lama, karena kondisinya sangat buruk," ujar Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal, Syarifuddin Nasution, saat dihubungi.

Baca: Suster Tak Menyangka Dokter Baru di RS Ternyata Bayi Prematur yang Pernah Dirawatnya

Syarifuddin mengatakan, pihak dokter sudah memprediksi bayi tersebut tidak akan bertahan lama hidup di dunia. Hal ini dikarenakan kondisinya yang begitu lemah.

Selain lahir dengan satu mata, bayi tersebut juga tidak memiliki hidung.

"Kita sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain," kata Syarifuddin.

Bayi perempuan lahir bermata satu dan tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal
Bayi perempuan lahir bermata satu dan tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal (Istimewa)

Syarifuddin mengatakan, kedua orangtua bayi tersebut juga masih syok atas kondisi ini.

"Ibu dan ayahnya masih syok," ujar Syarifuddin.

Kemungkinan penyebab

Kelahiran bayi perempuan bermata satu tanpa hidung di Panyabungan, Mandailing Natal, membuat heboh, Kamis (13/9/2018).

Menurut Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal Syarifuddin Nasution, terdapat beberapa kemungkinan penyebab kelainan tersebut.

"Kalau kata dokter spesialis bayi yang tadi melihat bersama kami, ada beberapa kemungkinan penyebab. Pertama bisa jadi karena obat-obat yang dulu dikonsumsi si ibu, kemudian bisa juga karena virus," ujar Syarifuddin saat dihubungi.

Syarifuddin mengatakan kelahiran bayi seperti juga pernah terjadi di luar negeri. Rata-rata meninggal beberapa saat setelah dilahirkan.

"Ini kejadian yang ketujuh. Yang terakhir di Mesir dan meninggal beberapa jam kemudian. Kalau kata dokter bayi, bayi perempuan itu tidak akan bertahan lama hidup," ujar Syarifuddin.

Syarifuddin mengatakan, anak kelima dari perempuan berinisial S ini lahir secara sesar di RSU Panyabungan.

Meski dilahirkan secara sesar, kata Syarifuddin, bayi itu tidak prematur. Berat badannya juga terbilang normal seperti bayi yang baru lahir pada umumnya.

Saat dilahirkan, bayi tersebut tidak menangis dan denyut jantungnya lemah.

"Lahirnya sesar, tapi tidak prematur. Beratnya 2,4 kilogram. Waktu lahir juga tidak bagus, bayinya tidak menangis dan tidak ada gerakan. Denyut jantungnya juga di bawah seratus. Jadi kondisinya sangat parah," katanya Syarifuddin.

Selain hanya memiliki satu mata bayi malang tersebut juga tidak memiliki hidung.

"Benar, tadi siang sudah kami lihat. Kondisinya sangat memprihatinkan," kata Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Mandailing Natal, Syarifuddin Nasution.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved