Tribun Metro

Lifter Metro Eko Yuli Irawan Pecahkan Rekor Dunia, Ayah dan Ibu Nonton via Video Call

Hebatnya lagi, lifter kelahiran 24 Juli 1989 ini mampu memecahkan rekor dunia di kelas 61 kg.

Lifter Metro Eko Yuli Irawan Pecahkan Rekor Dunia, Ayah dan Ibu Nonton via Video Call
Tribun Lampung/Indra Simanjuntak
Saman dan Wastiah menunjukkan sebagian medali yang pernah diraih Eko Yuli Irawan. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Indra Simanjuntak

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Bangga dan senang. Itulah yang terucap dari mulut Saman dan Wastiah, atas torehan prestasi lifter asal Metro Eko Yuli Irawan dalam Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Turkmenistan.

Dalam ajang itu, Eko Yuli tidak hanya meraih medali emas.

Hebatnya lagi, lifter kelahiran 24 Juli 1989 ini mampu memecahkan rekor dunia di kelas 61 kg.

Eko membukukan angkatan clean dan jerk 174 kg dalam kejuaraan yang dihelat di Asghabat, Sabtu, 3 November 2018.

Angka tersebut melampaui angkatannya pada Asian Games 2018 lalu yang ”hanya” 170 kg.

Total angkatannya 317 kg, dengan rincian angkatan clean and jerk 174 kg dan snatch 143 kg.

Di kelas ini, dua lifter Tiongkok harus puas dengan medali perak dan perunggu.

Baca: Eko Yuli Persembahkan Emas untuk Calon Anak, Atlet Asal Lampung Moncer di Asian Games 2018

Fabin Li meraih perak dengan total angkatan 310 kg.

Sedangkan Fulin Qin mendapatkan perunggu dengan total angkatan 308 kg.

Saman dan Wastiah mengaku secara menyaksikan aksi putra tertuanya itu bertanding melalui aplikasi video call. 

"Iya. Tidak ketinggalan sedetik pun lihat Wawan (sapaan akrab Eko). Tadi malam waktu kita mulainya sekitar jam delapan. Nonton bareng kita lewat video call. Meski gambarnya macet-macet, tapi tetap puas," kata Saman, Minggu, 4 November 2018.

"Iya dia berhasil lagi menorehkan prestasi. Kami sekeluarga hanya bisa mengucap syukur," terangnya.

Wastiah, sang ibunda, mengaku Eko terus memberikan kabar kepadanya, baik sebelum ataupun sesudah bertanding.

"Sebelum berangkat kemarin, telepon dulu, minta doa. Sebelum bertanding juga ngabarin. Sebentar lagi tanding. Minta doanya juga," ceritanya.

Baca: Peraih Emas Angkat Besi Eko Yuli, Penggembala Kambing Asal Lampung yang Kini Jadi Miliarder

Sebagai ibu, Watiah menuturkan, terkadang tak tega melihat Eko berlaga secara langsung.

"Apalagi kalau tanding di luar negeri. Kemarin saja, pas lagi tanding, kebetulan Isya saya tinggal salat, mohon sama Allah semoga dikabulin," kenangnya. 

Ketika selesai salat, ia melihat putranya tinggal menyelesaikan satu angkatan lagi.

Ia pun sengaja tidak memandang layar ponsel.

Namun, diberi tahu sudah selesai oleh suami dan berhasil mendapat juara.

"Begitu juga adiknya yang di Kalimantan ngabarin sudah selesai, dan dapat juara satu," jelasnya.

Wastiah menambahkan, ia dan suami hanya bisa membantu Eko Yuli dengan doa.

"Kami juga puasa. Ya karena itu yang bisa kami lakukan. Selagi kami mampu, pasti kami lakukan," imbuhnya.

Baca: Lifter Asal Lampung Eko Yuli Persembahkan Emas di Asian Games 2018

Takdir Eko menjadi lifter berawal saat ia menyaksikan sekelompok orang berlatih angkat besi di sebuah klub di dekat rumahnya.

Di sela-sela aktivitasnya menggembalakan kambing, lama-kelamaan ia tertarik menjajal barbel. 

Ia harus melewati perjuangan dan pengorbanan panjang untuk menjadi atlet berkaliber dunia.

Bahkan, untuk mewujudkan cita-citanya ia harus rela tinggal jauh dari keluarga sejak kelas 5 SD.

Berlatih di Bogor di bawah arahan tangan dingin Yon Haryono dan Joni Firdaus, bakat juara terus ditunjukkannya.

Pengorbanan meninggalkan keluarga sejak usia dini terbayar lunas dan berbuah manis.

Pada kompetisi perdana tingkat junior tahun 2002 di Indramayu, ia langsung menyabet emas pada kelas 35 kilogram.

Prestasi demi prestasi pun akhirnya dicatatkan Eko selepas torehan medali perdananya di Indramayu.

Hingga terakhir menyabet emas Asian Games 2018. (*)

Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved