Bikin Miris, Mobil-mobil Mewah dan Plat Merah Beli Premium BBM Bersubsidi di SPBU Bandar Lampung

Bikin Miris, Mobil-mobil Mewah dan Plat Merah Beli Premium BBM Bersubsidi di SPBU Bandar Lampung

Penulis: Heribertus Sulis | Editor: Heribertus Sulis
Tribunlampung/Sulis
Antrean pengisian BBM jenis premium mengular di SPBU Jalan Pramuka, Bandar Lampung. Kamis (6/9/2018). 

Bikin Miris, Mobil-mobil Mewah dan Plat Merah Beli Premium BBM Bersubsidi di SPBU Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, TRIBUN - Antrean kendaraan yang akan membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Bandar Lampung nyaris terjadi setiap hari.

Mirisnya, kendaraan yang tergolong mewah ikut dalam barisan antrean pengisian BBM jenis premium.

Harga BBM murah jenis premium yang saat ini dibanderol Rp 6.450 per liter sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah.

Baca: Bagi Warga Suoh, BBM Itu seperti Beras

Selain untuk sepeda motor, juga kendaraan lain seperti angkutan umum.

Sayangnya, pemilik mobil mewah turut menggunakan premium. Bahkan, rela antre belasan hingga puluhan menit demi mendapatkan BBM murah tersebut.

Pantauan Tribun di SPBU 24.351.73, Jalan Pramuka, Rajabasa, Jumat (2/11), mobil Kijang Innova turut antre di jalur pengisian BBM jenis premium.

Pr (30), pemilik mobil Innova, mengaku lebih sering mengisi bahan bakar kendaraannya dengan premium dibandingkan BBM lainnya.

Menurut Pramana, penggunaan premium lebih awet dibandingkan pertalite ataupun pertamax.

"Saya pernah bandingkan isi premium full dengan pertalite full. Terus mobilitas sehari-hari saya lakukan standar. Rumah ke kantor. Itu habisnya lebih cepat pakai pertalite.

Baca: Avanza Tiba-tiba Meledak Usai Isi Premium di SPBU Tanggamus, Sopir Keluar dengan Kepala Terbakar

Makanya sekarang saya isinya premium terus," ujar Pr saat ditemui sedang antre premium di SPBU 24.351.73, Jalan Pramuka, Rajabasa, Jumat.

Pegawai bank swasta tersebut mengatakan, paling banyak mengisi premium Rp 200 ribu.

Dengan pengisian sejumlah itu, Pr mengklaim bisa bertahan selama satu minggu. Meski demikian, Pr juga tak "mengharamkan" mobilnya menggunakan pertalite atau pertamax.

"Sesekali saya isi pertamax, kadang juga pertalite. Terutama kalau pas bensin mobil sudah mau habis terus nggak ada premium, ya mau nggak mau isi BBM yang lain," ucap Pr.

Tak jauh berbeda, pemilik mobil Honda Civic Turbo berinisial Er (28) juga menggunakan premium untuk kendaraannya karena harganya lebih murah dibandingkan pertamax atau pertalite. Meski demikian, Eriawan mengaku tidak sering mengisi premium.

"Sekali-kali saja. Terutama pas lagi ngga ada duit. Ngga apa-apalah ngantre, tapi bisa dapat premium," seloroh Er ketika diwawancarai saat mengisi BBM di SPBU 24.351-113, Jalan Urip Sumoharjo, Way Halim, Jumat pagi.

Er mengatakan, mesin mobilnya tidak spesifik berbahan bakar pertamax atau pertalite. Sehingga, Eriawan pun berani mengisinya dengan bahan bakar premium.

"Saya biasanya isi pertamax kok. Soalnya kata orang dealer, kalau sering-sering isi premium juga rusak mesinnya.

Tapi kalau sekali-kali ngga ada masalah. Kalau pas isi premium ya full tank (tangki penuh). Bertahannya bisa sampai satu minggu sih kalau full tank. Itu juga kalau ngga sering keluar," ucap Er.

Sehari 8.000 Liter

Petugas di SPBU 24.351-113, Jalan Urip Sumoharjo, Way Halim, TR tak menampik adanya mobil mewah yang isi premium di SPBU tersebut. Meski begitu, ia menyebut jumlahnya tidak banyak.

"Ngga banyak sih. Paling satu dua. Kalau (Kijang) Innova itu lumayan sering. Kalau di atas itu, seperti Fortuner atau Pajero, itu jarang. Kebanyakan mereka kan pakai mesin diesel. Jadi isi solar atau biosolar," katanya, Jumat.

Menurut dia, mobil dengan harga Rp 300 juta ke atas biasanya mengisi premium tak lebih dari Rp 250 ribu untuk sekali isi.

"Kalau pelat luar Lampung ada juga. Kalau pas ada (premium) mereka isi sampai full (penuh). Kalau dalam kota paling ya segitu (Rp 250 ribu)," paparnya.

Untuk pasokan BBM, ia menjelaskan, dalam sehari pengiriman untuk premium masih dibatasi sebanyak 8.000 liter.

Sedangkan untuk pertalite sebanyak 16.000 liter untuk dua hari dan pertamax lima hari sekali dengan kapasitas yang sama yakni 16.000 liter.

Senada dengan penjelasan TR, seorang petugas di SPBU 24.351.73, Jalan Pramuka, Rajabasa, HN mengatakan, tak banyak kendaraan berkategori mewah yang mengisi BBM jenis premium.

Menurut HN, kebanyakan yang ikut mengantre premium mobil dengan harga jual Rp 300 juta ke bawah.

"Saya ngga merhatiin benar. Tapi kalau Innova itu ada. Avanza, Xenia, yang paling banyak (isi premium). Kalau yang mahal-mahal biasanya isi pertamax atau pertalite," ujar HN.

Distribusi premium di SPBU 24.351.73, menurut HN, sama dengan SPBU lainnya, yakni 8.000 liter per hari.

Meski demikian, kata HN, ada rencana Pertamina menambah distribusi BBM jenis premium. Hal itu karena adanya sentralisasi penjualan premium.

"Informasinya sih begitu, saya kurang paham. Mungkin bisa ditanyakan langsung ke Pertamina," ucap HN.

Berdasarkan pantauan Tribun di SPBU 24.351-113, Jalan Urip Sumoharjo, Way Halim, pada Kamis (1/11) sekira pukul 08.00 WIB sampai 09.00 WIB, antrean kendaraan didominasi mobil kategori menengah seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia.

Lalu pada Jumat (2/11) pukul 07.30 WIB sampai 08.00 WIB, di SPBU yang sama juga tak terlihat adanya antrean kendaraan yang membuat kemacetan di jalan raya.

Sementara pantauan di SPBU 24.351.73, Jalan Pramuka, Rajabasa, pada Jumat (2/11) pukul 16.00 WIB sampai 17.00 WIB, antrean terlihat hingga krluar area SPBU. Namun, tidak sampai menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Tidak Peduli

Terpisah, Sales Area Head PGN Lampung, Wendi Purwanto, mengaku miris melihat masih adanya mobil mewah yang menggunakan premium.

Bahkan, tak jarang ia melihat mobil mewah ikut antre membeli premium di SPBU, termasuk kendaraan berpelat merah.

Kondisi ini, menurut dia, menunjukkan ketidakpedulian pemilik kendaraan mewah terhadap peruntukan BBM murah.

"Malah rata-rata sepeda motor mengisi (kendaraannya) pakai pertalite atau pertamax. Dan, seharusnya mereka juga paham kebutuhan (bahan bakar) kendaraannya itu apa.

Rata-rata untuk kendaraan tahun tinggi butuh BBM RON 92 sedangkan premium kan cuma 88.

Biasanya (bila tidak menggunakan BBM yang tepat) mesin jadi cepat rewel karena pembakarannya kurang sempurna," kata Wendi kepada Tribun, Kamis (2/11).

Wendi menambahkan, diperlukan aturan tegas dari pemerintah agar kondisi ini tidak terus berlanjut. Aturan tersebut antara lain larangan memakai premium untuk mobil bermesin kapasitas besar atau lebih dari 1.300 cc.

Perlu juga pembatasan usia kendaraan yang diizinkan menggunakan premium.

"Jenis kendaraan yang diperbolehkan pakai premium juga diperjelas. Misalnya, pick-up dan angkutan umum. Pihak SPBU juga diperlukan perannya untuk tegas dalam pelaksanaan pembatasan ini," ujarnya.(val/ana)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved