Insiden Surabaya Membara Tewaskan 3 Orang, Ini Fakta-fakta Tragedi di Peringatan Hari Pahlawan

Insiden Surabaya Membara Tewaskan 3 Orang, Ini Fakta-fakta Tragedi di Peringatan Hari Pahlawan

Insiden Surabaya Membara Tewaskan 3 Orang, Ini Fakta-fakta Tragedi di Peringatan Hari Pahlawan
Kolase Tribun
Tragedi Surabaya Membara memakan korban tiga penonton tertabrak kereta hingga menewaskan tiga orang 

Insiden Surabaya Membara Tewaskan 3 Orang, Ini Fakta-fakta Tragedi di Peringatan Hari Pahlawan

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Pertunjukan drama kolosal 'Surabaya Membara' berujung maut, 3 orang penonton meninggal, sedangkan 20 lainnya luka-luka. Masyarakat Kota Surabaya kini tengah berduka.

Sejumlah penonton pertunjukan drama kolosal 'Surabaya Membara' yang di gelar di depan Tugu Pahlawan, Jalan Pahlawan, Surabaya, mengalami kejadian yang tragis dan berujung maut, pada Jumat (9/11/2018) malam.

Pertunjukan drama kolosal 'Surabaya Membara' digelar untuk memperingati Hari Pahlawan.

Baca: Insiden Surabaya Membara Memakan Banyak Korban, Ternyata Belum Kantongi Izin Pemkot

Warga Surabaya antusias untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.

Namun, maksud hati ingin menonton drama kolosal tersebut, namun berujung maut dan luka-luka.

Setidaknya ada tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.

Banyak warga yang memilih menonton pertunjukan drama tersebut dari viaduk dan tidak menyangka jika ada kereta api yang melintas.

Berikut fakta-fakta kejadian drama kolosal 'Surabaya Membara yang berujung maut yang TribunStyle.com rangkum dari berbagai sumber :

1. Banyak yang menyaksikan dari viaduk

Banyak warga yang menyaksikan teatrikal 'Surabaya Membara' dari viaduk.

Diketahui viaduk dibuat khusus sebagai jembatan rel perlintasan.

Hanya ada sedikit jarak dari tepi viaduk dengan gerbong kereta api yang melintas.

2. Penonton mencari view yang bagus

Banyak penonton yang memilih menonton drama kolosal 'Surabaya Membara' dari atas viaduk.

Berdasarkan keterangan saksi, warga yang menonton dari atas di viaduk karena untuk mendapatkan view yang lebih bagus, daripada melihat di bawah.

Hal ini tidak bisa dibenarkan, karena viaduk merupakan perlintasan kereta api, sehingga sangat membahayakan.

3. Kereta api melintas, penoton berdesak-desakan

Saat menyaksikan drama kolosal 'Surabaya Membara', tiba-tiba kereta api dari arah Stasiun Gubeng menuju Stasiun Pasar Turi melintas.

Sempitnya jarak dari tepi viaduk dengan gerbong kereta api yang melintas membuat banyak penton yang berdesak-desakan.

Banyaknya penonton yang menyaksikan, membuat mereka berdesak-desakan di tepi viaduk, melindungi diri agar tidak tertabrak kereta api yang melintas.

4. Penonton tertabrak kereta & jatuh dari atas

Pihak rumah sakit dan Polrestabes Surabaya telah merilis daftar identitas korban tragedi Surabaya Membara.

Korban tewas dan terluka tersebar di tiga rumah sakit, yakni RSUD Dr Soewandie, RSUD Dr Soetomo dan Rumah Sakit PHC Surabaya.

Sedikitnya, 3 penonton pertunjukan drama kolosal 'Surabaya Membara' yang digelar di Jl Pahlawan, Surabaya, dilaporkan tewas dalam insiden di viaduk Jl Pahlawan, Jumat (9/11/2018).

Satu penton tewas karena tertabrak kereta api, sedangkan 2 lainnya tewas karena terjatuh dari viaduk dengan ketinggian 7 meter.

Dilansir dari Kompas.com, korban karena terlindas kereta api atas nama Helmi Suryawijaya (13) warga Karang Tembok Gang 5, Surabaya.

Sementara korban terjatuh adalah Erikawati (9) warga Jalan Kalimas Baru No. 61, Surabaya, dan Bagus Ananda (17) warga Jalan Ikan Gurami 6/27, Surabaya.

Selain menewaskan 3 orang, peristiwa itu juga mengakibatkan 20 warga lainnya mengalami luka berat dan luka ringan.

Dilansir dari Tribunnews, salah satu saksi mata, bernama Sukri (52) menceritakan kronologi kejadian.

"Karena mereka saling berpegangan, karena satu jatuh, lainnya juga ikut jatuh, suasana saat itu mendadak gaduh, karena ibu-ibu berteriak histeris," jelas Sukri.

5. Kecepatan kereta diturunkan

Kereta api tidak berhenti, namun terus melintas di viaduk dengan pelan.

Penonton yang berdesak-desakan sebisa mungkin menghindari badan kereta dan saling memegang tubuh.

Dikutip dari Tribunnews, Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko, menuturkan bahwa kereta api yang melintas tersebut sudah menyembunyikan semboyan 35 (suling lokomotif).

Kecepatan kereta pun sudah diturunkan sampai 15 km/jam, sementara kecepatan normal di jalur itu hanya 30 km/jam.

Namun, Gatut menjelaskan bahwa bermain di jalur KA, apalagi di jembatan atau viaduk sangatlah berbahaya, karena kereta api tidak bisa berhenti mendadak.

6. Tidak ada koordinasi panita dengan KAI

Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko juga mengungkapkan bahwa sebelumnya tidak ada koordinasi dari pihak panitia dengan PT KAI.

"Kelalaian panitia penyelenggara juga, karena tidak ada koordinasi dengan KAI."

“Juga tidak ada imbauan atau larangan agar warga tidak menonton di jembatan viaduk PT KAI.”

“Jalur kereta api (KA) tersebut masih aktif, dan setiap hari dilewati KA penumpang maupun KA barang,” jelas Gatut.

7. Panitia sudah memperingatkan

Dilansir dari Surya, panitia penyelenggara drama kolosal sudah memperingatkan kepada penonton untuk tidak menonton dari viaduk.

Hal itu diungkapkan oleh Taufik Monyonk alias M Taufik Hidayat selaku ketua Komunitas Surabaya Membara.

Ia menjelaskan bahwa tragedi di atas viaduk itu di luar kendali panitia.

Ia mengaku panitia sudah mengingatkan berulang kali kepada para penonton di atas viaduk agar turun.

Namun mereka hanya mengacungkan jempol.

"Kami sudah mengimbau berulang kali, mereka hanya acungkan jempol. Di luar kendali kami karena lokasi yang kami siapkan di Jalan Pahlawan. Lepas rel di luar pengawasan kita, bahkan penonton sampai Pasar Turi,"katanya.

8. Acara tetap dilanjutkan

Meski banyak korban yang luka-luka bahkan meninggal dunia, acara drama kolosal tetap dilanjutkan.

Taufik selaku panitia menjelaskan bahwa acara tetap berlanjut karena punya alasan tersendiri.

Dijelaskannya, pemain sudah bekerja keras, ada banyak pemain dari daerah yang latihan satu bulan.

Sehingga Taufik merasa kasihan jika mereka tidak jadi tampil.

Namun, durasi pertunjukan dikurangi dari 60 menit menjadi 40 menit.

Para pemain juga mengaku syok atas kejadian tersebut. 

Penulis: Heribertus Sulis
Editor: Heribertus Sulis
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved