Gunung Anak Krakatau Kembali Semburkan Lava Pijar, Gempa Embusan Tercatat 9 Kali

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali teramati mengeluarkan lava pijar dari kawahnya yang terpantau dari CCTV pos Sertung.

Penulis: Dedi Sutomo | Editor: Reny Fitriani
Twitter/Sutopo
Ilustrasi - Lava Pijar Anak Krakatau yang bisa dinikmati pemandanganya di selat Sunda 

Laporan Wartawan Tribunlampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMSEL – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali teramati mengeluarkan lava pijar dari kawahnya yang terpantau dari CCTV pos Sertung pada malam hari.

Menurut petugas pos pantau GAK di desa Hartopancuran kecamatan Rajabasa Lampung Selatan, Suwarno. Sejak pukul 00.00 wib hingga pukul 06.00 wib, sabtu (5/1).

Gunung api yang berada di selat Sunda itu dari data Magma VAR teramati mengeluarkan gempa letusan dengan amplitudo 17-28 mm dan durasi 45-108 detik.

“Untuk gempa hembusan tercatat sebanyak 9 kali dengan amplitudo 10-22 dan durasi 45-87 detik,” kata dia.

Masih teramati adanya gempa tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo 2-12 mm (dominan 7 mm). Dan tidak terdengar suara dentuman.

Kronologi Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Pagaralam Sumatera Selatan

 “Untuk status GAK masih pada level III Siaga. Dimana para pengunjung/nelayan dilarang mendekati kawasan gunung api dalam radius 5 kilometer,” terang Suwarno.

GAK sendiri merupakan gunung api yang tumbuh di lokasi bekas letusan dasyat Krakatau pada 1883 silam. Gunung api ini mulai muncul ke permukaan laut sejak tahun 1930 silam.

Harga BBM Turun per 5 Januari 2019, Ini Daftar Harga BBM di Lampung yang Resmi Dirilis Pertamina

Sejak saat itu GAK terus tumbuh. Selama kurun waktu 88 tahun kehadirannya, GAK terus menunjukan fluktuasi aktivitas vulkaniknya.

Sebelum mengalami erupsi hebat pada sabtu (22/12) lalu yang memicu tsunami selat Sunda, GAK sudah beberapa kali mengalami peningkatan aktivitas vulcanik.

Tercatat terakhir GAK sempat mengalami erupsi cukup hebat pada bulan September 2012. Dimana semburan debu vulkanik GAK sempat membuat heboh warga Bandar Lampung dan Pesawaran.

Kalapas Ungkap Identitas Napi asal Lampung yang Dikirimi Video Tak Senonoh Polwan Makassar

Pada tahun 2018 ini, GAK Mulai menunjukan peningkatan aktivitasnya sejak bulan Juni lalu.

Aktivitas gunung api di selat Sunda ini terus mengalami pasang surut.

Dan puncaknya terjadi pada sabtu (22/12) lalu adanya longsoran matrial ke laut yang memicu terjadinya stunsami selat Sunda.

Pasca erupsi pada pekan lalu, GAK yang semula memiliki ketinggian 338 mdpl (meter dari permukaan laut). Kini mengalami pengurangan ketinggian 2/3 badannya.

Saat ini ketinggian gunung api tersebut hanya 110 mdpl.(dedi/tribunlampung)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved