Advertorial
Rini Budiarti, Bidan Yang Mengabdi Tanpa Pamrih
Rini Budiarti, Bidan Di Pedalaman Yang Mengabdi Pada Masyarakat Tanpa Pamrih
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID PANARAGAN - Mengabdikan diri sebagai seorang bidan di daerah pedalaman bukanlah hal memberatkan bagi Rini Budiarti, Amd. Keb, SKM. Baginya, bidan adalah profesi yang mulia, karena seorang bidan mengabdikan diri membantu masyarakat khususnya ibu dan bayi. Dengan profesi ini, Rini menganggap menjadi jalan untuk berbuat amal zari’ah membantu sesama tanpa pamrih. "Bagi saya, bidan merupakan profesi yang mulia, bisa membantu sesama, menyelamatkan ibu dan anak, dan bekerja tanpa pamrih," kata Rini saat ditemui ditemui di Puskesmas Mulyo Asri Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, Senin (28/01).
Di tahun 1999 sebelum menjadi bidan, Rini bertugas sebagai perawat di Musi Banyuasin Sumatera Selatan. "Waktu bertugas di Musi Banyuasin, saya sering sekali menolong pasien untuk dirujuk ke rumah sakit menggunakan speedboad melalui jalur air, jaraknya sampai dua jam ke kota Palembang, karena daerah tempat saya bertugas saat itu tergolong daerah terpencil," ujar Rini bercerita.
Sudah lima tahun lamanya Rini bertugas di Puskesmas Mulyo Asri, wilayah pedalaman yang dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Tulangbawang. "Saya menjadi bidan sudah lima tahun sejak 2013, sebelumnya ketika diterima PNS tahun 2009 saya masih berstatus sebagai perawat. Namun setelah diterima PNS, kemudian saya melanjutkan ke akademi kebidanan, di Akbid Mitra Husada Tangerang," kata Rini.
Setelah diterima PNS, Rini lalu hijrah ke Kabupaten Tulangbawang Barat dan bertugas di Puskesmas Mulyo Asri. Berbekal pengalaman yang dia dapat di Musi Banyuasin, Rini mengaku sudah tidak kaget lagi menangani pasien urgent yang membutuhkan pertolongan.
Istri I Nyoman Jana ini mengaku, penempatan sebagai tenaga kesehatan di Kabupaten Tulangbawang Barat adalah pilihan yang harus ia jalani. "Saya disini juga ikut suami, kebetulan suami juga bertugas sebagai PNS di Kabupaten Tulangbawang. Suami juga tenaga kesehatan, kebetulan keberadaan bidan di sini masih sedikit, jadi saya merasa tertantang untuk mengabdi di Tulangbawang Barat," papar Rini.
Selama menjadi bidan yang di tempatkan di Tulangbawang Barat, Rini mengaku banyak sukanya dibanding duka. Karena bagi Rini, menjadi seorang bidan yang ditempatkan di daerah pedalaman menjadi jalan bagi dia untuk berbuat amal zari’ah. Rini mengaku tertantang untuk membantu orang yang membutuhkan, terutama menolong ibu yang akan melahirkan. "Melahirkan itu kan antara hidup dan mati yah, jadi saya merasa tertantang bagaimana bisa menyelamatkan ibu dan bayi. Bagaimana proses persalinan itu lancar, bisa terselamatkan semua ibu maupun bayinya," kata Rini.
Pengalaman yang berkesan yang ia rasakan selama bertugas sebagai bidan di Tulangbawang Barat, yakni ketika menangani pasien bayi yang kejang akibat demam tinggi. Dengan segala kemampuan dan keterbatasan peralatan yang ada, Rini harus membantu untuk menurunkan demam si anak tanpa ada resiko apapun dengan mengambil tindakan cepat dan tepat. Di Tulangbawang Barat, hal yang menjadi tantangan bagi Rini adalah bagaimana merubah pola pikir masyarakat di tempat ia bertugas yang masih percaya dengan mitos tertentu soal kehamilan maupun kesehatan ibu dan bayi, semisal mitos kepercayaan pada saat hamil, ibu-ibu hamil di daerahnya enggan untuk makan ikan, hal ini dikarenakan khawatir kelak anak yang dilahirkannya akan menjadi bau amis, dan begitupun untuk anak balita di daerahnya, sang ibu pun enggan untuk memberikan makan ikan kepada si kecil karena ibu merasa khawatir jika si kecil nanti akan terjangkit penyakit cacingan jika diberi makan ikan. Dan oleh karena itu, Rini tertantang untuk menghilangkan mitos yang berkembang di masyarakat ini, terlebih terkait dengan gizi bayi pada saat dalam kandungan "Edukasi orang tua terkait dengan gizi bayi saat dalam perut itu sulit untuk diikuti, walaupun saya memberikan penyuluhan terkait menu sehat seimbang tetapi tetap saja tidak mau mengikut apa yang saya sampaikan." kata Rini.
Selain itu, untuk menghadapi para orang tua yang masih memercayai mitos kesehatan diluar pengobatan kedokteran , Rini selalu memberikan contoh langsung jika ada pasiennya yang datang berobat dan berkeluh kesah tentang penyakitnya, biasanya Rini langsung menyarankan untuk mendengarkan penyuluhan yang diberikan dan mengikuti apa yang disarankan, sehingga penyakit tersebut bisa dihindari.
Sebagai bidan yang bersinggungan dengan kesehatan bayi, Rini punya cara tersendiri untuk mempersiapkan gizi yang baik untuk bayi. Bagi Rini, pemberian gizi bagi bayi dimulai sejak dalam kandungan. Dia pun mesti lebih ekstra memberi penyuluhan kepada calon ibu untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebab, dari makanan yang dikonsumsi ibu itu sangat menentukan kesehatan dan gizi bayi. "Ketika sudah dinyatakan positif hamil, si calon ibu harus mulai memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Ini penting untuk nutrisi dan gizi bagi bayi, dan jangan lupa rutin minum susu untuk mencegah stunting saat hamil. Jadi, gizi yang dimakan ibu harus mulai diatur, jangan sampai kesehatan bayi terganggu karena pola makan ibu yang salah waktu hamil," katanya.
Disamping itu, selain gizi yang harus dipersiapkan si ibu terhadap si bayi, komunikasi antara ibu dan anak harus mulai dibangun sejak usia kandungan, "Si bayi ini harus diajak interaksi sejak dalam kandungan, ini bertujuan untuk perkembangan otak bayi sehingga hubungan bayi dan ibunya pun menjadi lebih dekat," imbuhnya.
Ibu juga harus tahu makanan apa yang bergizi untuk bayi. Setelah lahir pun, sebisa mungkin si- ibu harus memberikan ASI untuk asupan makanan si bayi. Pemberian ASI itu sangat dianjurkan sampai bayi berumur enam bulan. Dan Apabila si kecil telah menginjak usia enam bulan, maka dianjurkan untuk memberikan nutrisi yang lengkap serta asupan tambahan berupa MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), sehingga si Kecil bisa tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk menjadi generasi maju penerus bangsa.
Pesan untuk ibu khususnya ibu muda untuk mencari wawasan mengenai kesehatan ibu dan bayi. Caranya bisa ikut pelatihan atau mencari informasi edukasi ibu dan bayi melalui internet. "Mereka harus aktif mencari informasi bagaimana menjaga kesehatan bayi, bisa rutin konsultasi ke bidan atau bisa browsing di internet," tandasnya. (rls)
Alamat Praktik: Desa Mulya Asri Rt.009 Rw.004, Kecamatan Tulang Bawang, Lampung
Kata Mereka:
Ibu Dr. Emi Nurjasmi M.Kes, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
