TKW asal Metro Hilang, BP3TKI Lampung Koordinasi dengan Kemenlu dan Kedubes Uni Emirat Arab
Koordinasi tersebut dalam rangka melacak keberadaan Juriah, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kota Metro, Lampung yang dikabarkan hilang kontak.
Penulis: Noval Andriansyah | Editor: Daniel Tri Hardanto
TKW asal Metro Hilang, BP3TKI Lampung Koordinasi dengan Kemenlu dan Kedubes Uni Emirat Arab
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Lampung berencana berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta Kedutaan Besar Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Koordinasi tersebut dalam rangka melacak keberadaan Juriah, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kota Metro, Lampung yang dikabarkan hilang kontak oleh keluarganya.
Kepala BP3TKI Lampung Ahmad Salabi mengatakan, pihaknya telah mendatangi keluarga Juriah untuk mencari informasi awal siapa yang membawanya ke Abu Dhabi.
“Berdasarkan informasi awal, kami mendapatkan nama Hi Surabdi dari Serang. Saat keberangkatan ke Abu Dhabi melalui Serang. Kami sudah coba melakukan kontak dengan Hi Surabdi itu. Tapi tidak ada respons,” kata Salabi, Senin, 1 April 2019 sore.
Dari informasi yang diterimanya, Juriah tinggal bersama Astawi, pamannya, di Serang.
“Segera kami akan berkoordinasi dengan Kemenlu dan Kedubes jika data dan informasi yang kami terima sudah lengkap. Walaupun keberangkatannya tidak melalui BP3TKI, kami tetap akan bantu proses pemulangannya,” ujar Salabi.
Kabar duka para buruh migran Indonesia seolah tak pernah berhenti.
Juriah, TKW asal Kota Metro, dikabarkan hilang kontak oleh keluarganya.
Kabar terakhir yang diterima pihak keluarga pada 13 Maret 2019.
• Pesan Terakhir TKW Asal Metro Sebelum Hilang Kontak dengan Keluarga: Dek Teteh Dipukuli
• Mengaku Alami Kekerasan di Abu Dhabi, TKW Asal Metro Hilang Kontak dengan Keluarga
Kala itu, perempuan 29 tahun yang telah sembilan bulan berada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, mengaku mengalami kekerasan.
Ibu Juriah, Kenni, warga Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat, terlihat sedih dan bingung.
Ia mengaku khawatir dengan anaknya yang telah hilang kontak dengan keluarga sejak awal Maret ini.
"Dia kirim pesan singkat ke adiknya. Dek, Teteh kembali ke kantor. Teteh mendapat kekerasan di kantor. Teteh ditempeleng, dipukuli," ujar Kenni, seraya mengutip pesan yang dikirimkan anaknya, Rabu, 27 Maret 2019.
Ia menuturkan, pada hari yang sama, Juriah kembali menelepon adiknya dan memberi pesan yang menegangkan bagi anggota keluarga.
"Dia bilang minta doa bapak dan ibu. Saya diambil sama majikan lagi, tapi nanti sore dikembalikan ke kantor (agen). Tapi orang kantor ancamannya kalau kamu balik lagi ke kantor ini, kepala jadi di bawah, kaki di atas," kenangnya.
Bahkan, terus Kenni, Juriah sempat meminta uang sebesar Rp 50 juta.
"Kalau mau pulang, bayar denda Rp 50 juta ke agen. Tolong, Bu, carikan duit Rp 50 juta biar saya ini pulang. Badan saya kurus dipukulin terus," ujarnya menirukan ucapan anaknya.
Sejak saat itu, Juriah tidak dapat lagi dihubungi.
Ia pun tidak tahu bagaimana nasib anaknya yang tidak bisa lagi dihubungi.
Keluarga pun bingung harus mengadu ke mana.
Karena tidak tahu agen mana yang memberangkatkan anaknya.
Juriah sebelumnya dikabarkan pernah menjadi TKW di Bahrain selama lima tahun.
Semua berjalan baik.
Hanya, saat menjadi pekerja migran di Abu Dhabi, janda dua anak tersebut mengaku kerap mengalami kekerasan.
"Dia ini (Juriah) ditinggal suami, itu sudah delapan tahun. KTP dan ijazah juga disita pihak agen. Saya minta tolong untuk mencari agen yang memberangkatkan. Supaya anak saya bisa kembali ke pangkuannya," tuturnya.
Dari informasi yang Tribun Lampung dapat, Juriah sempat mengirim uang kepada ibunya.
Dimana dari selip pengirim tertera atas nama Zahir Shah Khan Muhammad, dengan lokasi Al Rifaa Area. (Tribunlampung.co.id/Noval Andriansyah)