Tribun Lampung Selatan

Harga Gabah Kering di Lampung Selatan Turun, Hanya Rp 3.600 per Kg

Harga gabah kering panen (GKP) di beberapa daerah di kabupaten Lampung Selatan memasuki bulan Juni ini mengalami penurunan.

Harga Gabah Kering di Lampung Selatan Turun, Hanya Rp 3.600 per Kg
Tribunlampung.co.id/Dedi
Petani di Lamsel khawatir harga gabah kering turun 

 
Laporan Wartawan Tribunlampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Harga gabah kering panen (GKP) di beberapa daerah di kabupaten Lampung Selatan memasuki bulan Juni ini mengalami penurunan. Saat ini harga GKP di beberapa daerah hanya Rp. 3.600 perkilogram.

Padahal menurut musim panen sebelumnya GKP masih Rp. 4.000 perkilogram. Tetapi mendekatai musim panen gadu (kemarau), harga gabah justru mulai turun.

“Sekarang turun untuk harga gabah. Karena menjelang panen untuk musim gadu,” kata Yadi seorang petani di kecamatan Sragi, RAbu (12/6).

Mulai turunnya harga gabah ini membuat petani khawatir. Karena panen untuk musim gadu masih belum mulai. Petani khawatir harga gabah akan anjlok tinggi. Dan ini tentu akan berdampak pada petani.

“Ini kan belum musim sudah turun. Kita khawatir nanti sewaktu panen turunnya jauh. Mencapai Rp. 3.200 – Rp. 3.000 perkilogram atau bahkan lebih. Kita kan rugi,” kata Yanto, petani lainnya dari Palas.

Yuda Sukmarina Mundur dari Posisi Kadispar Lamsel, Ini Sosok Plt Penggantinya

Menurut petani, tidak hanya terkait dengan harga gabah yang anjlok. Saat ini pun petani khawatir dengan ancaman hama wereng yang bisa mempengaruhi produksi hasil panen nantinya.

“Kalau sudah harga turun dan produksi juga turun karena kena hama, kan petani juga yang terkena imbasnya. Kita tidak bisa menikmati hasil yang maskimal,” terang Yanto.

Hingga H+5 Lebaran, Tercatat 160 Ribu Unit Kendaraan Lewati Pintu Tol Bakauheni Selatan

Bagi para petani, posisi mereka memang seringkali mengalami dilema. Pada satu sisi biaya produksi dan ancaman hama membuat mereka harus berhitung. Disisi lain turunnya harga gabah pada saat musim kian menyulitkan mereka.

“Apalagi ini dibulan Juni –Juli waktu anak masuk sekolah. Kan kita tidak mungkin untuk menyimpan gabah. Kebutuhan kita tinggi untuk masuk anak sekolah,” ujarnya.

Para petani pun mengaku mereka hanya bisa pasrah. Karena kondisi ini kerap terjadi. Dan sejauh ini keberpihakan pemerintah kepada petani terkait dengan kebijakan harga ini dinilai memang belum makismal. (tribunlampung.co.id/dedi sutomo)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved