Sosok Penting yang Mengorbitkan Megawati di Pentas Politik Nasional
Sosok Penting yang Mengorbitkan Megawati Soekarnoputri di panggung politik nasional.
Ruangan saat itu berubah hening. Jawaban Megawati menuai haru dari para senior-seniornya.
Para pengagum Bung Karno itu luluh akan tekad Sang Putri.
• Siapa Sosok Pensiunan Jenderal Bintang Empat yang Ikut Hadir di Pertemuan Megawati-Prabowo
• Ini Menu Khusus yang Disantap Prabowo Saat Bertemu Megawati
• Kronologi Lengkap Polisi Tembak Polisi, Brigadir RT Bak Kesetanan Berondong Bripka RE
• Dibentak Soeharto, Jenderal TNI Ini Langsung Ketakutan
Merebut PDI
Bergabungnya Megawati di PDI mendongkrak popularitas partai berlambang banteng itu.
Melejitnya suara PDI pada pemilu 1987 dan 1992 mengkhawatirkan penguasa Orde Baru.
Begitu pula Ketua Umum PDI Soerjadi yang ketokohannya tersaingi oleh Megawati waktu itu.
Rekayasa dan konflik internal pun diciptakan di tubuh PDI.
Kongres PDI di Medan pada Juli 1993 untuk mengukuhkan Soerjadi kembali sebagai ketua umum menemui jalan buntu.
Kongres Luar Biasa pun digelar di Surabaya pada Desember 1993.
Tak sesuai dengan harapan pemerintah untuk memenangkan tokoh yang bisa dikendalikan, Megawati justru tampil sebagai pemenang dengan meraih dukungan dari 27 DPD untuk mengambil alih pimpinan PDI.
Berdasarkan Kongres Surabaya 1993, Megawati adalah Ketua Umum PDI periode 1993-1998.
Dikutip dari buku Megawati dalam Catatan Wartawan (2017), pascaterpilih sebagai ketua umum, Megawati berkeliling Indonesia untuk konsolidasi dan menemui rakyat.
Ketidaksukaan pemerintah Orde Baru akan popularitas Megawati justru membuat Megawati makin dicintai orang banyak.
Ia adalah simbol perlawanan terhadap tekanan Orde Baru.
Megawati sempat diusulkan sebagai calon presiden.
Megawati terus digoyang dan coba didongkel di tengah jalan.
Pada 1996, lawan politik Megawati yang didukung pemerintah di dalam partai menggelar kongres Medan yang memilih Soerjadi sebagai ketua umum.
Pascakongres PDI di Medan, pucuk pimpinan PDI terbelah dua.
Ada PDI Soerjadi yang didukung pemerintah dan ada PDI Megawati yang didukung akar rumput.
PDI kubu Megawati menguasai Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta.
Insiden berdarah pecah di sana saat massa dari kubu Soerjadi yang didukung pemerintah merebut paksa kantor.
Lima orang dilaporkan tewas, sementara ratusan orang mengalami luka-luka.
Tekanan terhadap Mega justru menguatkan dukungan rakyat terhadapnya.
Pendukungnya di PDI bahkan pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membentuk "Mega-Bintang".
Mega sendiri memilih golput saat Pemilu 1997.
Mendirikan PDI-P
Lengsernya Soeharto pada Mei 1998 membawa angin segar.
Megawati hengkang dari PDI dan mendirikan PDI Perjuangan untuk bertarung pada Pemilu 1999.
Karisma Megawati membahana.
PDI-P besutannya menjadi pemenang Pemilu dengan memperoleh 33,74 persen suara.
Sementara, PDI Soerjadi hanya mengantongi 0,33 persen.
Sayangnya, jalan Megawati naar Merdeka Utara tak berlangsung mulus.
Di Parlemen ia terganjal manuver poros tengah yang dimotori Amien Rais.
Parlemen memilih Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden.
Megawati menjemput takdirnya yang tertunda di Medan Merdeka Utara pada 23 Juli 2001 ketika ia dilantik menjadi Presiden kelima Indonesia sekaligus Presiden Perempuan pertama yang pernah memerintah negeri ini menggantikan Gus Dur yang dilengserkan Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Perjalanan Politik Megawati, dari Pengusaha Pom Bensin hingga Penguasa Medan Merdeka Utara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/terungkap-alasan-sebenarnya-soeharto-makamkan-soekarno-di-blitar-sempat-terjadi-tanya-jawab.jpg)