Tribun Lampung Selatan

Tragis, Bocah 8 Tahun di Lampung Tewas Terbakar Saat sang Ayah Cari Kepiting

Dalam 24 jam terakhir, sejak Senin malam hingga Selasa (13/8/2019) siang, setidaknya terjadi tiga peristiwa kebakaran di Lampung.

Tragis, Bocah 8 Tahun di Lampung Tewas Terbakar Saat sang Ayah Cari Kepiting
Ist
Rumah Khairudin, warga Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, yang hangus terbakar, Senin (12/8/2019). Dalam peristiwa itu, Khairudin kehilangan putranya yang masih berusia 8 tahun, Maulana. 

Setelahnya Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang didampingi aparatur Desa Bandar Agung dan warga sekitar melakukan peninjauan dan membantu pembersihan material bangunan rumah yang hangus.

Gudang Terbakar

Sementara kebakaran gudang gabah juga diduga karena korsleting listrik.

Gudang gabah ini milik Romlan.

Api pertama kali terlihat pada bagian tengah gudang.

Kemudian dengan cepat membakar gudang gabah berikut isinya berupa gabah sebanyak 1 ton dan 5 ton pupuk milik kelompok tani.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Saat kejadian, kondisi gudang kosong. Pemiliknya sedang berada di sawah.

“Warga sempat berusaha memadamkan api dengan alat seadanya. Tetapi api dengan cepat menjalar dan membakar gudang berikut isinya,” kata Pardi, warga setempat.

Sementara Romlan, sang pemilik gudang, baru mengetahui adanya kebakaran setelah api habis melalap bangunan.

Beruntung api tidak menjalar ke rumah yang berada di sampingnya.

“Sebelumnya bangunan tersebut saya gunakan untuk tempat tinggal. Tetapi saya kemudian membuat rumah di samping dan bangunan tersebut saya gunakan untuk gudang penyimpanan,” ujar Romlan.

Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Selain bangunan, ada 1 ton gabah dan 5 ton pupuk yang ikut terbakar habis.

Khairudin Masih Trauma Atas Meninggalnya Sang Buah Hati dalam Kebakaran yang Habiskan Rumahnya

Kebakaran di Bandar Lampung

Di Bandar Lampung, si jago merah juga telah meluluhlantakkan rumah Suhandi (46) di Jalan Nila Kandi, Bumi Waras, Selasa dini hari.

Hampir tidak ada yang tersisa dari bangunan rumah Suhandi.

"Rumah ini panggung, dari kayu, tapi saya ingat kayu ini baru semua, saya tarik dari uang arisan Rp 15 juta, Rp 5 juta, lalu Rp 6 juta," cerita Suhandi lemah.

Ia menuturkan, harta bendanya habis tak bersisa.

"Gak sempat nyelametin, motor satu, mesin kompresor, alat-alat motor kebakar habis semua, maklum bikin bengkel kecil-kecilan anak," tuturnya.

Andi, sapaan akrabnya menuturkan, kejadian sekitar puku 02.00 WIB.

Saat itu ia terbangun karena merasa tidak enak badan.

Ia kemudian berjalan ke dapur. Alangkah kagetnya, ia melihat api sudah besar di dapur.

Dengan cepat, ia berlari membangunkan ketiga anaknya.

"Saya kepikiran anak, saya bangunin mereka untuk menyelamatkan diri. Kemudian, saya kepikiran burung, saya hobi burung, tapi cuma satu yang selamat, yang sembilan ekor dan 23 ekor ayam mati semua hangus," tuturnya.

Ia menduga kebakaran akibat korsleting listrik.

Untuk kerugian, Andi mengatakan, cukup banyak.

"Kayu saja sekitar Rp 26 juta, belum lain-lain. Ada mungkin Rp 50 juta. Namun tadi Wali Kota Bandar Lampung meninjau dan akan memberikan bantuan sebesar Rp 15 juta," tutur dia.

Sekretaris BPBD Kota Bandar Lampung M Rizki mengatakan, pihaknya mendapat laporan adanya kebakaran sekitar pukul 02.15 WIB.

Api berhasil dijinakkan satu jam. "Api padam 3.45 WIB, itu termasuk pendinginan," kata Rizki.

"Tidak ada korban jiwa. Kerugian sekitar Rp 50 juta," kata dia.

Gudang Gabah di Candipuro Terbakar, 1 Ton Gabah dan 5 Ton Pupuk Ludes

31 Kasus Selama 2019

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mencatat telah terjadi 31 kasus kebakaran selama 2019.

Jumlah ini meningkat dibanding 2018 yang hanya 24 kasus dalam setahun.

Menurut Kabid Damkar Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Lamsel, Rully Fikriansyah, baru delapan bulan sudah ada 31 kasus.

Padahal, tahun lalu hanya ada 24 kasus kebakaran.

Rully mengatakan, kasus kebarakan ini beragam.

Ada yang menimpa rumah pribadi, gudang, dan pabrik.

Sedangkan untuk kasusnya tersebar di berbagai kecamatan.

Tertinggi di wilayah Natar, Kalianda, Candipuro, Katibung dan Penengahan.

Sedangkan untuk penyebab kebaran, ujarnya, terbanyak karena terjadinya korsleting listrik.

Tetapi ada juga karena penyebab lain, seperti kompor gas meledak, dan lainnya.

Rully mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan tata cara penanggulangan musibah kebakaran kepada masyarakat.

Ini agar masyarakat bisa melakukan langkah dini penanggulangan ketika terjadi kebakaran.

“Sosialisasi untuk memberikan pemahaman apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran. Sehingga masyarakat bisa mengambil tindakan yang benar sebelum api benar-benar membesar,” ujarnya.

Untuk lingkungan perkantoran, lanjut Rully, pihaknya juga melakukan pengecekan tabung alat pemadam kebakaran api ringan (APAR) yang ada di setiap dinas, dan juga instansi vertikal serta ke SPBU.

“Kegiatan itu untuk memastikan alat APAR tersedia dan masih bisa diopersikan,” kata dia.

Selama Tahun 2019, Telah Terjadi 31 Kasus Kebakaran di Lampung Selatan. Terbanyak karena Korsleting

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran ini Satpol PP dan Damkar kini memiliki 7 mobil damkar.

Namun dari jumlah tersebut 3 di antaranya kondisinya sudah tua dan hanya 4 yang siap.

Dari 4 unit damkar ini, 2 di antaranya berada di wilayah Kecamatan Natar.

Sementara itu, pihak BPBD Lampung yang dihubungi Tribun belum bisa membeberkan jumlah kasus kebakaran se-Lampung.

Kasubid Pencegahan Tanggap Darurat BPBD Provinsi Lampung Madiono meminta Tribun mendatangi kantor mereka Rabu (14/8/2019) ini.

Sebab, data lengkapnya ada di kantor. (Tribunlampung.co.id/Dedi Sutomo/Hanif Mustafa/Tama Yudha Wiguna)

Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved