Tribun Bandar Lampung

Sidang Kasus Benih Lobster Ilegal, Jaksa: 10 Terdakwa Jadi Buruh Pengepak 2 Bulan

Sepuluh pekerja pengepakan benur lobster ilegal duduk di kursi Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Jumat (23/8/2019).

Sidang Kasus Benih Lobster Ilegal, Jaksa: 10 Terdakwa Jadi Buruh Pengepak 2 Bulan
Tribun Lampung/Hanif Risa Mustafa
BENIH LOBSTER ILEGAL -┬áSepuluh terdakwa menjalani sidang perdana kasus usaha benur lobster ilegal di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Jumat (23/8/2019). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sepuluh pekerja pengepakan benur lobster ilegal duduk di kursi Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Jumat (23/8/2019). Mereka menjalani persidangan perdana kasus pelanggaran Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/Permen-KP/2016.

Mereka tertangkap tangan sedang membungkus benur atau benih lobster di rumah kontrakan di RT 6, Kampung Sawah Raya, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandar Lampung, 11 Juli 2019.

Sementara A, pemilik kontrakan yang juga terindikasi kuat sebagai pemilik usaha benur lobster tersebut, tidak ada di lokasi saat anggota Polda Lampung melakukan penggerebekan.

Dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum Ponco Santoso menyatakan 10 terdakwa telah turut serta memasukkan atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat. Perbuatan mereka berlangsung pada 11 Juli, sore sekira pukul 15.00 WIB.

"Perbuatan para terdakwa berawal pada Mei 2019 saat A (masih buron) mengajak mereka bekerja sebagai buruh pengepakan benur udang lobster," ungkap JPU Ponco.

"A mengajak mereka ke kontrakan, kemudian memberi tahu dan mengajarkan tata cara pengepakan benih udang lobster," sambungnya.

Pada prosesnya, beber JPU Ponco, para terdakwa memisahkan benih lobster berdasarkan jenisnya, yakni pasir dan mutiara. Rinciannya, setiap kantong plastik berisi benih udang lobster jenis pasir sebanyak 200 ekor dan jenis mutiara 100 ekor. Mereka masing-masing mendapatkan upah Rp 100 per ekor.

"Dalam satu hari (satu terdakwa) bisa mendapatkan bagian sebesar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Para terdakwa sudah bekerja melakukan pengepakan benur lobster itu selama dua bulan," jelas JPU Ponco.

Selama dua bulan bekerja, papar JPU Ponco, 10 terdakwa sudah mengemas benih lobster sebanyak 20 kali pengiriman.

"Para terdakwa tahu bahwa benih lobster tersebut berasal dari daerah Jawa. Selanjutnya akan dikirim ke daerah Jambi untuk diteruskan ke Singapura," beber JPU Ponco.

Merujuk pasal 2 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/Permen-KP/2016, penangkapan atau pengeluaran lobster dari wilayah RI hanya boleh dengan ketentuan khusus. Ketentuan itu, yakni tidak dalam kondisi bertelur. Kemudian, ukuran panjang karapas di atas 8 cm atau berat di atas 200 gram per ekor.

Atas perbuatan tersebut, 10 terdakwa ini terancam hukuman pidana sebagaimana dalam pasal 88 jo pasal 16 ayat 1 dan 86 ayat 1 jo pasal 12 ayat 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

(Tribunlampung.co.id/Hanif Risa Mustafa)

Penulis: hanif mustafa
Editor: yoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved