Tribun Bandar Lampung
Warga Sambut Baik Dibukanya Pasar Ikan di Pasar Rakyat Korpri: Lebih Dekat dan Harganya Murah
Perusahaan Daerah (PD) Pasar Tapis Berseri bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) membuka Pasar Ikan di Pasar Rakyat Korpri.
Penulis: kiki adipratama | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribunlampung Kiki Adipratama
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Perusahaan Daerah (PD) Pasar Tapis Berseri bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) membuka Pasar Ikan di Pasar Rakyat Korpri.
Kegiatan usaha ini disinyalir untuk menghidupkan kembali Pasar Rakyat Korpri, Sukarame, Bandar Lampung yang telah lama sepi pengunjung.
Hal ini diungkapkan oleh Edy Golvari Direktur Utama PD Tapis Berseri Kota Bandar Lampung saat ditemui di area Pasar Rakyat Korpri, Sabtu (31/8/2019).
"Jadi pasar Korpri ini sejak dibangun keadaannya sangat sepi, nah setelah diserahkan pada kami. Maka kami coba kelola untuk meramaikan," ujarnya.
Kata dia, pihaknya sedang lakukan uji coba dengan bekerja sama teman-teman KTNA.
• BERITA FOTO - Soft Opening, Pasar Rakyat Korpri Jual Aneka Ikan Segar
Menurutnya, Pasar Rakyat Korpri ini adalah tempat yang strategis yang meliputi daerah Lampung Selatan pinggiran juga Kota sehingga memiliki peluang besar untuk dijadikan tempat pasar ikan.
"Kami juga jual harga grosir, kami langsung datangkan ikan dari Gudang Lelang dan TPI (Tempat Pelelangan Ikan)," bebernya.
Menurut pantauan Tribunlampung.co.id ada 36 lapak yang ada di Pasar Korpri Rakyat dam saat ini telah terisi ikan-ikan yang sebagian besarnya merupakan ikan laut.
Nurul Fabilla selaku warga sekitar menyambut baik dengan dibukanya pasar ikan ini.
Ia merasa, dengan adanya pasar ikan ini memudahkan warga khususnya korpri raya untuk mendapat kebutuhan lauk pauk.
"Ya bagus ya, kami juga jadi mudah mau belanja kebutuhan lauk-pauk nya," ucapnya.
Hal senada juga diucapkan oleh Rosfalina (62) seorang ibu tumah tangga yang merupakan warga sekitar Pasar Korpri.
"Ya seneng, dengan adanya pasar ikan ini pertama mendekatkan jarak tempuh dari sebelumnya. Juga harganya murah," tuturnya.
"Karena dulu biasa beli di way dadi dan wayhalim," ucapnya.
(Tribunlampung.co.id/Kiki Adipratama)