Lampung Masuk Pancaroba, BPBD Imbau Tetap Waspada Angin Kencang dan Kebakaran
Rudi mengungkapkan pancaroba memiliki karakteristik adanya aliran angin yang cukup kencang di tengah cuaca panas.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebagian wilayah Lampung saat ini memasuki masa pancaroba.
Musim sedang dalam peralihan dari kemarau ke penghujan.
Ini pula yang menyebabkan terjadinya fenomena panas pada siang hari dan angin kencang pada malam hari.
Sementara hujan sudah mulai turun satu dua hari.
"Fenomena siang panas, malamnya angin kencang, menandakan masa pancaroba. Secara umum, Lampung masuk masa pancaroba," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika Raden Intan Lampung Rudi Haryanto, Minggu (17/11).
Rudi mengungkapkan pancaroba memiliki karakteristik adanya aliran angin yang cukup kencang di tengah cuaca panas.
• Angin Kencang Buat Nelayan di TPI Lempasing Merugi hingga Ratusan Juta Rupiah
"Angin-angin ini membawa awan-awan yang berpotensi hujan di sebelah selatan itu. Mulai masuk ke daratan bagian selatan Lampung," terangnya.
Spot pancaroba, menurut Rudi, tersebar paling banyak di wilayah selatan Lampung, termasuk Bandar Lampung. Hujan pun mulai turun satu dua hari dengan intensitas rendah.
"Seperti dua hari lalu, di Kemiling (Bandar Lampung) hujan. Hujannya tidak langsung dengan intensitas yang terus-menerus," ujarnya.
Rudi menjelaskan perubahan kondisi awan yang berpotensi hujan baru terjadi di sebagian wilayah.
"Perkirakan akhir Desember memasuki musim penghujan dan musim kemarau berakhir," kata Rudi.
"Kami pantau, pergerakan angin yang membawa awan yang berpotensi hujan mulai masuk ke wilayah Lampung," imbuhnya.
BMKG Raden Intan Lampung mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati dengan peralihan cuaca panas dan dingin.
"Tahu-tahu hujan. Hujan dengan intensitas lebat tapi durasinya tidak lama. Mungkin efek ketika aliran air tidak lancar atau terganggu sampah, bisa menimbulkan genangan air di perkotaan," jelas Rudi.
Pihaknya juga meminta masyarakat tetap waspada potensi terjadinya kebakaran di tengah cuaca panas.
"Jangan membakar sampah sembarangan, terutama di lingkungan yang terdapat lahan kering. Setiap meninggalkan rumah, periksa terlebih dahulu alat-alat listrik dan alat-alat masak," pesan Rudi.
"Untuk potensi terjadinya angin kencang, apabila di sekitar rumah ada pohon yang sudah rindang atau tua, warga sebaiknya segera lakukan pemangkasan atau penebangan," imbuhnya.
Terkait angin kencang, di Lampung sudah terjadi beberapa kali angin kencang yang menyebabkan rumah warga rusak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung Utara, misalnya, mencatat total 175 unit rumah rusak akibat angin kencang dalam sepekan terakhir.
Data per Minggu, jumlah rumah rusak akibat angin kencang terbanyak ada di Kecamatan Abung Timur sebanyak 115 unit.
Kekeringan
Musim kemarau panjang pada tahun ini menimbulkan kekeringan air di berbagai wilayah di Lampung.
Di Bandar Lampung, tepatnya di wilayah Karimun Jawa, Kecamatan Sukarame, warga terpaksa mengambil air ke masjid karena kekeringan.
Pantauan Tribun Lampung, Minggu, warga bernama Berian Yudha Koeswara (30) mengangsu air menggunakan sepeda motor. Ia membawa air sebanyak tiga jeriken.
"Kekeringan sudah dari tiga bulan lalu, dari Agustus. Ada sekitar 50 persen warga Karimun sini kesulitan air. Terpaksa ambil di masjid," tuturnya.
Dalam kondisi mendesak, Berian yang tinggal bersama empat anggota keluarganya kadang menggunakan air minum yang ada di galon untuk berbagai keperluan.
Termasuk untuk berbasuh jika buang air kecil saat menjelang dini hari.
"Kadang kalau sudah kebelet, nggak ada air, mau gimana lagi. Adanya air di galon, ya mau nggak mau pake dulu," kata pria yang bekerja sebagai mekanik ini.
Warga lainnya, Sugandi Ferdiansyah (26), memilih mengungsi ke rumah orangtuanya karena di rumahnya tidak ada air.
"Susah air. Orang-orang pada ngangsu semua. Kadang ngangsunya ada yang bawa mobil. Jadi sekarang saya balik ke rumah orangtua untuk sementara waktu," ujar warga Kecamatan Tanjung Senang, Bandar Lampung, itu.
Di Pringsewu, warga di salah satu tempat di Kecamatan Sukoharjo terpaksa mengambil air dari sumur bor bersama.
"(Sumur galian di rumah kering) sudah dari tiga bulan lalu. Terpaksa mengangsu sekitar 300 meter untuk dapat air bersih," kata Sisri, warga setempat.
Di sisi lain, kesulitan air di wilayah Sukoharjo menjadi ladang penghasilan bagi beberapa warga yang mendistribusikan air bersih.
Joni, misalnya. Ia menyalurkan air bersih berkapasitas 1.000 liter menggunakan mobil pikap sekali angkut.
Ia mematok tarif Rp 60 ribu per jeriken.
"Ini untuk warga yang pesan saja karena kekurangan air. Rata-rata sehari distribusikan 4.000 liter air ke warga. Airnya dari sumur bor milik masyarakat," ujar Joni.
• Dalam Sepekan 175 Rumah Rusak Terkena Angin Kencang di Lampung Utara
Di Lampung Selatan, kekeringan terjadi di beberapa wilayah dua bulan terakhir.
Seperti di Kecamatan Bakauheni, mulai dari Dusun Kayu Tabu dan Pematang Macan di Desa Klawi hingga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang. Banyak warga terpaksa membeli air dari penjual air yang masuk ke desa.
Ada pula yang setiap hari mengambil air menggunakan kendaraan dari sumber air sejauh 2 kilometer.(tribunlampung.co.id/hanif mustafa/cr4/anung bayuardi/didik budiawan/dedi sutomo)