Kisah Gus Dur yang Bertengkar dengan Megawati, Ujungnya Minta Nasi Goreng

Megawati menyampaikan bahwa saat "berantem", ia enggan bertemu dengan Gus Dur.

Penulis: taryono | Editor: taryono
Twitter
Kisah Gus Dur yang Bertengkar dengan Megawati, Ujungnya Minta Nasi Goreng 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal 30 Desember 2009 lalu.

Ayah dari Yenny Wahid meninggal akibat penyakit komplikasi yang dideritanya: ginjal, diabetes, stroke, dan jantung.

Gus Dur meninggal di usia 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo, Jakarta.

Semasa hidup, Gus Dur rupanya kerap bertengkar dengan Megawati.

Ini terjadi saat keduanya menjabat presiden dan wakil presiden.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Kamis (13/7/2017), Megawati menyampaikan bahwa saat "berantem", ia enggan bertemu dengan Gus Dur.

Namun, pertengkaran tak berlangsung lama.

Biasanya, Gus Dur yang selalu berinisiatif untuk mengajak damai.

Viral Video Anggota Banser NU Dimaki Pria, Putri Gus Dur Bereaksi

Melihat Bunga Jatuh, Ramalan Gus Dur tentang Kejatuhan Presiden BJ Habibie Terbukti

Kiai Maruf Amin Ungkap Kenangan Bersama Gus Dur

Kisah Gus Dur Beli Kepala Ikan Saat Kuliah di Mesir, Endingnya Bikin Ngakak Habis

"Saya tahu pasti nanti pasti saya menang," kata Megawati dalam acara Halaqah Nasional Ulama se-Indonesia di Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Jika sedang berantem, Gus Dur kerap menyambangi kediaman Megawati, namun tak memberi kabar.

Setelah sampai di depan rumah Megawati, Gus Dur baru memberi kabar.

Megawati pun tidak bisa menolak kedatangan Gus Dur.

"Nanti telepon, 'Mbak, lagi opo?' 'Di rumah, Mas'. 'Bikinkan saya nasi goreng ya saya sudah di depan pintu rumah'. Kalau baikan begitu. Lah saya terpaksa toh bikin nasi goreng," ucap Megawati disambut tawa para ulama yang hadir.

Dilansir kompas.com, pria yang lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil ini merupakan cucu dari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asyari, dan putra dari Menteri Agama di era Presiden Soekarno, Wahid Hasyim.

Gus Dur pun mewariskan ajaran kakek dan ayahnya, bahkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama pada 1984.

Selama memimpin NU, Gus Dur menghadirkan ajaran Islam yang moderat dan mendukung Pancasila.

Pemikiran itu tentu disukai pemerintahan Presiden Soeharto, apalagi saat itu muncul gerakan penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal.

Namun di sisi lain, Gus Dur juga kerap menyuarakan demokrasi dan melakukan kritik terhadap Soeharto.

Kritik terhadap Soeharto itu yang membuat Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang ikut andil dalam gerakan reformasi pada 1998.

Setelah Soeharto jatuh pada 21 Mei 1998, Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang mengawal transisi dari Orde Baru ke era reformasi, bersama tokoh lain seperti Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri.

Di era reformasi, Gus Dur kemudian membentuk Partai Kebangkitan Bangsa yang kelak mengantarnya terpilih menjadi presiden pada 1999.

Terpilihnya Gus Dur juga tidak lepas dari peran Amien Rais yang membentuk Poros Tengah.

Pada pemilihan di Sidang Umum MPR, Gus Dur menjadi presiden dengan mengalahkan Megawati Soekarnoputri.

Selama menjadi presiden, Gus Dur berusaha menjaga stabilitas keamanan di Indonesia pasca-jatuhnya Orde Baru.

Saat itu, sejumlah konflik horizontal terjadi, antara lain di Maluku dan Sampit.

Gus Dur juga melakukan sejumlah perubahan kultural di Indonesia, salah satunya dengan menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional.

Namun, langkah politik Gus Dur sebagai presiden dinilai kontroversial.

Dia diketahui melakukan sejumlah pergantian menteri secara mendadak dan oleh sebagian kalangan dianggap tanpa alasan jelas.

Hubungan dengan legislatif pun dinilai tidak baik, terutama saat Gus Dur menyebut anggota DPR seperti anak TK.

Kondisi pemerintahan Gus Dur semakin memburuk, terutama setelah munculnya skandal Buloggate dan Bruneigate.

Kasus itu kemudian bergulir di DPR dengan pembentukan panitia khusus.

Gus Dur tidak pernah diputuskan bersalah oleh pengadilan dalam kasus Buloggate atau Bruneigate.

Namun, kasus itu selama ini dianggap menjadi pintu masuk untuk pemakzulannya.

Hingga kemudian, jabatan Gus Dur sebagai presiden dicopot dalam Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001.

Gus Dur digantikan oleh Megawati, yang sebelumnya menjabat wapres.

Tokoh toleran Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, Gus Dur dinilai banyak orang telah mewariskan semangat persatuan dalam keragaman.

Selama ini Gus Dur memang dikenal sebagai tokoh yang mengedepankan toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Pemikiran Gus Dur tentang toleransi pun semakin dirindukan, terutama dalam kondisi maraknya penyebaran ujaran kebencian berlandaskan perbedaan, seperti saat ini.

Hal ini pun diakui Presiden Joko Widodo.

Jokowi mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang mengingatkan bawa Indonesia merupakan milik bersama, bukan milik golongan atau perseorangan.

"Saya percaya, Gus Dur pasti gemes, geregetan, kalau melihat ada kelompok yang meremehkan konstitusi, mengabaikan kemajemukan, memaksakan kehendak, melakukan kekerasan, radikalisme dan terorisme," kata Jokowi saat memberikan sambutan di Haul Gus Dur ke-7 di Jakarta, Jumat (23/12/2016). (Tribunlampung.co.id)

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved