Kisah Korban Longsor dan Banjir di Bandar Lampung

Rumah Suhendri roboh saat hujan deras yang melanda Bandar Lampung sepanjang Sabtu (28/12/2019) malam.

Tayang:
Tribun Lampung/Deni Saputra
Kondisi rumah yang tertimpa longsor di Jalan H Sohari, RT 14 LK II, Kampung Sukamanjur, Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandar Lampung, Minggu (29/12/2019). Sedikitnya lima rumah rusak terkena longsor pada Sabtu (28/12/2019) malam. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Suhendri, warga Jalan H Sohari, RT 14 LK II, Kampung Sukamanjur, Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandar Lampung, masih shock setelah tertimpa reruntuhan rumah yang roboh.

Tangannya mendapat tujuh jahitan.

Rumah Suhendri roboh saat hujan deras yang melanda Bandar Lampung sepanjang Sabtu (28/12/2019) malam.

Seluruh harta bendanya tak ada yang bisa diselamatkan.

Total ada 2 rumah serta satu panglong yang masih milik keluarganya roboh akibat tertimpa dinding gudang saat hujan deras melanda Kota Bandar Lampung.

BREAKING NEWS - Longsor di Bandar Lampung, 3 Rumah dan 4 Motor Rusak

Banjir Surut, Ular Sanca 3 Meter Muncul di Kedamaian

Sebuah motor rusak tertimpa longsor di Jalan H Sohari, RT 14 LK II, Kampung Sukamanjur, Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandar Lampung, Minggu (29/12/2019). Sedikitnya lima rumah rusak terkena longsor pada Sabtu (28/12/2019) malam.
Sebuah motor rusak tertimpa longsor di Jalan H Sohari, RT 14 LK II, Kampung Sukamanjur, Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandar Lampung, Minggu (29/12/2019). Sedikitnya lima rumah rusak terkena longsor pada Sabtu (28/12/2019) malam. (Tribun Lampung/Deni Saputra)

Namun bukan cuma rumah dan panglong di Sukamanjur yang rusak.

Beberapa rumah di daerah lain juga mengalami kerusakan akibat diterjang air hujan hingga terkena longsoran Gunung Kubang.

Puluhan rumah warga juga terendam banjir dan jalan-jalan tergenang.

Suhendri (20) menuturkan, kejadian begitu cepat dan tiba-tiba.

"Saya cuma dengar suara air besar. Saya sedang membuang air yang masuk ke dalam rumah. Rumah sedang kebanjiran. Tiba-tiba saja, tembok rumah ambruk dan menimpa saya," tuturnya, Minggu (29/12/2019).

Tubuh Suhendri terjepit di antara reruntuhan.

Ia berusaha berteriak sekuat tenaga minta tolong namun tidak ada yang mendengar.

"Saya berusaha sekuat tenaga mendorong tembok yang menimpa saya. Saya berpikir yang penting selamat, hidup. Akhirnya bisa keluar, kemudian saya berusaha berdiri dan berjalan ke rumah belakang," cerita dia.

Saat kejadian Suhendri sedang sendiri di rumah.

Sementara ibunya, Supinah, sedang berada di rumah samping.

"Untung ibu tidak di rumah. Jadi dia tidak terluka. Alhamdulillah saya masih hidup dan selamat dari reruntuhan tembok itu," katanya.

Seusai kejadian, ia langsung dibawa ke Rumah Sakit Graha Husada karena mengalami luka-luka.

"Masih sakit badan ini. Tangan kanan ada jahitan tujuh," ujarnya.

Yanto, paman Suhendri sekaligus pemilik panglong di Jalan H Sohari, RT 14 LK II, Kampung Sukamanjur, Kelurahan Bumi Kedamaian, Bandar Lampung, mengaku, saat kejadian hujan sangat deras.

Saat itu, dirinya bersama keluarga sedang menghalau air yang masuk ke dalam rumah.

"Kondisinya banjir. Saya kebingungan, air datang, masuk semua ke dalam rumah. Air itu ngucur dari fondasi," ceritanya, Minggu (29/12).

"Tiba-tiba ada suara benturan keras terdengar hingga menggema. Tahunya tembok setinggi 3 meter dan fondasi itu roboh. Saya kaget, hampir gak bisa napas. Keras sekali suaranya," cerita dia, Minggu (29/12/2019).

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 19.30-20.30 WIB.

Itu merupakan kejadian pertama selama Yanto tinggal berpuluh tahun di Sukamanjur.

Selain panglong, dua rumah saudaranya yang berdekatan juga roboh tertimpa tembok gudang.

Empat motor milik keluarga besarnya juga ikut tertimpa reruntuhan tembok.

Supiah Hanya Bisa Menangis Rumah Warisan Suaminya Rata dengan Tanah

Menangis

Sementara ibu Suhendri, Supiah (55), terus menangis melihat rumahnya yang hancur akibat tertimpa tembok dan lumpur.

Akibat kejadian tersebut, kata Supiah, semua barang di rumahnya rusak.

"TV, kulkas, semua habis. Gak tahu nantinya ini," kata Supiah sembari menangis.

Ia mengatakan, tembok yang menimpa rumahnya tersebut merupakan bagian dari bangunan gudang milik perusahaan Bumi Waras.

"Jadi memang gak ada salurannya. Air mancur dari sela-sela fondasi, jadi hitungan menit ambrol pas air ujan air deras, gak kuat nampung air," tukasnya.

Supiah mengaku baru ditinjau dari pihak kelurahan dan BPBD Kota Bandar Lampung.

"Yah kalau tidur nanti gak tahu kemana mungkin di sini dulu (rumah Yanto)," tutupnya.

Lurah Bumi Kedamaian Ahyan mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi.

"Kami sudah menghubungi perusahaan, hari ini (kemarin) mau ke lapangan. Bangunan yang roboh merupakan milik perusahan Bumi Waras. Mungkin perwakilannya yang akan ke sana, dan kami minta segera diperbaiki," tandasnya.

Perwakilan perusahaan BW yang datang berjanji akan segera memperbaiki kerusakan.

"Bukan kapasitas saya (berstatemen), yang jelas saya ke sini ninjau. Kami cek kerugian, yang penting akan segera diperbaiki," ujar dia.

Yanto Beberkan Detik-detik Tembok 3 Meter Timpa 3 Rumah di Kedamaian

Longsoran Gunung

Jika di Kampung Sukamanjur rumah roboh akibat tertimpa tembok gudang, di Gang Kamboja, Serengsem, Panjang, sebuah rumah milik Hafiz (34) rusak akibat terkena longsoran Gunung Kubang.

Pemilik rumah menuturkan kejadian sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat itu ia dan penghuni rumah sudah terlelap tidur. Hujan lebat disertai petir ditengarai menjadi penyebab longsornya gunung yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah.

"Tiba tiba ada suara petir dan rumah goyang seperti gempa. Setelah saya bangun dan lihat ke bawah ternyata dapur dan kamar mandi roboh kena longsoran," ujar Hafiz, Minggu (29/12/2019).

Hafiz, istri dan ketiga anaknya sontak terkejut.

Mereka yang saat kejadian berada di lantai atas bangunan langsung berupaya menyelamatkan diri.

Sebelum berhasil keluar rumah, Hafiz mengaku kesulitan karena ruang bawah sudah dipenuhi debu bekas material longsoran.

Setelah berhasil keluar, mereka langsung diungsikan ke rumah tetangga.

"Yang penting nyawa kami sekeluarga selamat," kata Hafiz.

Selang waktu kemudian, lanjut Hafiz, datang dinas terkait bersama perangkat pemerintah setempat.

Kedatangan mereka untuk mengimbau warga mejauh 50 meter dari kaki bukit.

Saat ini, sisa-sisa material longsor dari batu batu besar itu belum di evakuasi.

Dikhawatirkan jika langsung dibersihkan akan berdampak pada sisi gunung lainnya.

Mengungsi ke Musala

Hujan deras yang mengguyur Bandar Lampung semalam sekitar dua jam lebih menyebabkan beberapa wilayah di kota ini mengalami banjir meskipun mulai surut beberapa jam kemudian.

Berdasarkan data yang dihimpun Tribunlampung.co.id, banjir sempat menggenangi ruas-ruas jalan protokol seperti Jalan ZA Pagar Alam setengah jam pascahujan mengguyur deras.

Lalu Jalan Pangeran Antasari Morotai, Jalan Tulang Bawang Enggal, Jalan RA Kartini, Jalan Hi Komaruddin, daerah Terminal Rajabasa, hingga ke perumahan di daerah Jalan Pangeran Antasari Vila Citra dan Perumahan Nusantara Permai Sukabumi.

Di Kelurahan Penengahan, Kecamatan Kedaton, meskipun air tidak sampai naik ke rumah, jalanan tergenang air setinggi kurang lebih 20-30 cm.

Sementara di perumahan Jalan Durian Gang Arjuna Tanjung Senang, air meluap sampai masuk ke perumahan dan ada yang sampai setinggi lutut orang dewasa.

"Tempat saya rumahnya deket sawah juga, jadi pagi ini bukannya nyusut air malah nambah naik," beber Uci, warga setempat.

Kondisi serupa terjadi di perumahan Tanjung Raya Permai Blok A7 dan Perumnas Way Kandis, Tanjung Senang.

Bahkan ketinggian air yang masuk ke rumah ada yang sampai sepinggang orang dewasa.

Setidaknya ada enam sampai tujuh keluarga yang mengungsi ke musala Tanjung Raya Permai yang berada di dataran lebih tinggi.

"Iya semalam jam 02.00 dini hari ada yang pada ngungsi ke musala karena rumahnya kena banjir sampai sepinggang. Ini air juga belum sepenuhnya menyusut," beber Meriska, warga sekitar.

Kerusakan

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Bandar Lampung Sutarno mengatakan, hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung pada Sabtu malam mengakibatkan 19 titik mengalami genangan air dan lima rumah rusak.

"Bukan banjir tapi genangan, ketinggian genangan rata-rata 30-60 cm. Disebut banjir jika intensitas hujan hingga 6 jam tanpa henti dan masyarakat tidak bisa beraktivitas," kata dia.

Meski begitu, Sutarno mengaku, pihaknya terus bersiaga untuk mengantisipasi dan membantu warga yang terkena genangan air.

"Saat ini masih proses penyedotan, karena masih ada beberapa rumah warga yang tergenang. Sedang kami upayakan, lumpur juga sedang kami proses," tandasnya. (Tribunlampung.co.id/ Hanif Mustafa/Sulis Setia Markhamah/Joviter Muhammad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved