Tegal Mas Lampung
Bos Tegal Mas Thomas Riska Ulang Tahun, Sungkem ke Orangtua dan Kenang Nyaris Tewas Dimakan Hiu
Thomas Riska berulangtahun ke-48 pada Sabtu 11 Januari 2020. Ia langsung berkunjung ke rumah orangtuanya dan langsung sungkem ke ibundanya.
Penulis: Andi Asmadi | Editor: Andi Asmadi
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Owner Tegal Mas, Thomas Azis Riska, berulangtahun ke-48 pada Sabtu 11 Januari 2020. Pagi-pagi ia berkunjung ke rumah orangtuanya dan langsung sungkem ke ibundanya.
"Saya bersyukur atas segala rahmat dan karunia dari Allah, dan rasa syukur saya yang tak terhingga juga kepada orangtua yang telah membesarkan hingga saya bisa berada dalam kondisi saat ini," kata Thomas yang dihubungi Tribun Lampung, Sabtu sore.
Thomas saat ini mengelola tiga tempat wisata di Bandar Lampung dan Pesawaran. Selain Tegal Mas di Pesawaran, ia juga owner kawasan Wisata Puncak Mas dan Bukit Mas.
Yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kue ulang tahun adalah orang-orang terdekatnya, yakni istri dan anak-anaknya.
"Tepat pukul 00.00 mereka mendatangi saya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Saya sangat terharu, mereka adalah semangat dan keberanian saya menjalani kehidupan," tuturnya.

Sabtu pagi Thomas berangkat ke kediaman orangtuanya. Di situ sudah berkumpul keluarga, termasuk saudara-saudaranya.
Mereka ngobrol banyak hal, termasuk mengenang masa lalu ketika mereka masih kecil dan remaja.
"Kami juga memotong tumpeng sebagai pertanda rasa syukur," ujar Thomas.
Dia mengaku sangat menekankan kata "syukur" karena Allah masih memberinya kehidupan hingga saat ini.
"Bagaimana tidak, dua tahun lalu saya hampir mati dimakan hiu di tengah laut," katanya.
Bagaimana ceritanya?
Thomas mengatakan, kejadian 11 Januari 2018 tepat di hari ulang tahun ke-46 menjadi peristiwa yang tak akan bisa dilupakannya.
Siang itu itu, ia menggunakan jetski sendirian tanpa pengawalan, mengarungi laut di Teluk Lampung.
Ia ingin introspeksi dan mengevaluasi diri di hari ulangtahunnya. Ia ingin jauh dari segala hiruk pikuk, ia ingin sendirian.

Saat berada di perairan antara Tanjungputus dan Kota Agung Tanggamus, tiba-tiba mesin jetski rusak dan meledak. Waktu itu sekitar pukul 12.00 WIB.
"Mungkin mesinnya terlilit kawat atau benda lain sehingga meledak dan mati total. Saya terlempar ke laut," ceritanya. Untungnya, ketika itu dia memakai pelampung.
Sekuat tenaga ia berenang, dalam pikirannya daratan pasti dekat dari lokasinya. Ternyata, setelah beberapa lama, tak ada daratan yang terlihat. Semua laut.
Thomas pun dilanda kepanikan. Apalagi, ia tahu, laut di sekitar Tanjungputus banyak hiu.
Dan, benar, saat tak berdaya terombang-ambing di laut, dia melihat di sekelilingnya banyak sirip hiu di permukaan.
Dalam hatinya Thomas berkata, "Habislah saya."
Ia pun memasrahkan diri kepada Allah. "Saat itu yang ada di pikiran saya, kalau Allah menghendaki saya mati pada saat itu juga, saya ikhlas," katanya.
Dengan tubuh yang sudah melemah, terlihat sirip hiu mulai mendekat. Bahkan beberapa yang menabrak tubuhnya.
"Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya, hiu itu tidak mengigit tapi hanya menabrak saya," kenangnya.
Entah kenapa, hiu tutul di kawasan itu yang terkenal ganas tidak memangsanya. Setelah beberapa lama, gerombolan sirip yang terlihat di permukaan akhirnya menjauh.
Thomas mengenakan jam tangan yang bisa mengukur kedalaman laut. Terlihat kedalamannya hingga 60 meter.
Yang paling menyiksanya adalah suhu terik di siang hari. Dengan cepat dia mengalami dehidrasi. Tubuhnya hanya bisa mengambang, tidak bisa berenang lagi.

Thomas benar-benar tak berdaya. Hanya karena ada pelampung yang melekat, tubuhnya masih bisa mengambang. Kakinya sudah keram, tidak bisa digerakkan lagi.
Tubuhnya terus terombang-ambing di tengah laut. Dalam kondisi lemah tak bertenaga, ia sempat memejamkan mata lalu tertidur. Lalu bangun lagi. Lalu tertidur lagi, bangun lagi.
Thomas tak tahu berapa lama ia terombang-ambing di laut, hingga samar-samar ia mendengar deru mesin kapal mendekat.
"Allah masih menyayangi saya. Ternyata itu kapal pemancing yang secara kebetulan lewat dan melihat ada tubuh manusia yang terombang-ambing di tengah laut," ujarnya.
Singkat cerita, ia ditolong oleh sekelompok orang di kapal tersebut. Ia masih ingat betul nama kapal itu, KM Berdikari 09. Ia diangkat naik ke kapal menjelang petang.
"Di atas kapal itu saya menangis sejadi-jadinya. Di situlah saya memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah, atas pertolongan dan perlindungannya saya masih bisa hidup," katanya.
Untuk kondisi normal, Thomas belakangan tahu bahwa sebenarnya dia sudah "lewat". Sebab, ternyata ia terapung tanpa daya sekitar 5,5 jam. Dalam keadaan dehidrasi pula.
"Ini semua karena Allah. Saya juga selamat dari hiu-hiu ganas di lokasi itu tentu berkat perlindungan-Nya," ujar Thomas dengan mata memerah.
Thomas mengatakan, Allah menolongnya melalui 11 orang yang berada di atas KM Berdikari 09. Kepada mereka, Thomas sangat berterima kasih. Hingga sekarang, nama-nama penolongnya disimpan di memori HP-nya, di depan nama ditambahi kata "Malaikat".
Mereka awak kapal bersama karyawan PT Bukit Asam dan tamu perusahaan dari DPRD Muara Enim.
Mereka menyewa kapal untuk memancing di tengah laut, dan secara kebetulan lewat di lokasi Thomas mengalami kecelakaan.

Dari atas KM Berdikari 09 itu Thomas dievakuasi dan dibawa ke RS Bumi Waras. Thomas menolak untuk menjalani rawat inap. Dia merasa cukup kuat untuk kembali ke rumahnya.
Ia nekat meninggalkan rumah sakit, karena malamnya ia ditunggu di Puncak Mas oleh istri dan anak-anaknya serta keluarga besarnya yang mengadakan tumpengan ulangtahun.
Itu sebabnya, saat kembali berulangtahun ke-48 pada Sabtu 11 Januari 2020, ia kembali memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah.
"Hidup mati saya pasrahkan kepada-Nya, semoga dalam perjalanan hidup saya bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat," katanya.(*)