Dishub Bandar Lampung Usulkan Water Barrier Rp 30 Juta
Kepala Dinas Perhubungan Bandar Lampung Ahmad Husna mengatakan, anggaran pembelian water barrier bersumber dari APBD 2020 senilai Rp 30 jutaan.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Dinas Perhubungan Bandar Lampung mengusulkan pembelian water barrier baru.
Alasannya, jumlah sarana untuk memblokade jalan ini sangat terbatas.
Kepala Dinas Perhubungan Bandar Lampung Ahmad Husna mengatakan, anggaran pembelian water barrier bersumber dari APBD 2020 senilai Rp 30 jutaan.
"Pengadaannya tahun ini. Lupa saya anggaran pastinya sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 jutaan. Sedapatnya nanti dengan harga satuannya berapa, sejumlah anggaran tersebut," kata Husna kepada Tribunlampung.co.id, Minggu (12/1/2020).
Saat ini, kata dia, water barrier yang ada hanya ratusan unit.
• VIDEO Viral Water Barrier di Tol Pandaan Bergerak Sendiri
• Atasi Kemacetan, Dishub Pasang Water Barrier Setiap Sore di U-Turn Burger King
• Bekuk Pengedar di Sukajawa Baru, Polisi Sita 40 Paket Sabu
• Dilabrak Istri di Indekos, Pemilik Karaoke Nyaris Jadi Bulan-bulanan Massa
Itu pun banyak yang sudah rusak alias tak layak pakai.
"Belum lagi ada yang kondisinya sudah rusak," terangnya.
Water barrier, sambung Husna, penempatannya akan disesuaikan dengan kebutuhan.
"Ya nanti kita sesuaikan kebutuhan, karena water barrier ini kan bisa diangkat dan dipindah-pindahkan ke tempat yang membutuhkan," kata dia.
Dia mencontohkan penggunaan water barrier di putaran arah (u-turn) depan gerai Burger King di Jalan ZA Pagar Alam.
"Jadi depan Burger King sempat kita tutup total menggunakan water barrier secara rapat beberapa bulan lalu. Saat sekarang arus lalu lintas lancar, water barrier kita kurangi," jelasnya.
Demikian juga titik u-turn setelah flyover MBK menuju Rajabasa, sempat ditutup total menyesuaikan kemacetan saat itu akibat banyaknya kendaraan yang berputar arah.
"Saat dia padat, kita tutup rapat. Saat mulai lancar kembali, ya kita buka," ujar Husna.
Isman, warga Rajabasa, mendukung rencana dishub menambah water barrier.
"Kalau pakai water barrier kan lebih rapi dan bagus. Saat itu di lampu merah Terminal Rajabasa sempat ditutup total, tapi pakai pembatas kayak besi dan disambung-sambung pakai tali. Jadi ngeliatnya kumuh," terang dia.
Dewi Mulyani, warga Kedaton, juga mengatakan hal sama.
Menurut dia, water barrier diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas dengan tidak menutup jalan secara permanen.
"Kalau dibeton kan permanen. Sementara kemacetan bisa saja hanya karena kondisi tertentu. Misal ada resto baru buka. Begitu udah berjalan beberapa bulan nggak terlalu ramai lagi," kata dia. (Tribunlampung.co.id/Sulis Setia M)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/water-barrier-6.jpg)