3 Kisah Siswa SD Lolos dari Penculikan, Terjadi di Lampung, Palembang, dan Jawa Tengah
Berikut, 3 kisah Siswa SD berhasil lolos dari upaya penculikan yang terjadi di Lampung, Palembang, dan Jawa Tengah.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Sejumlah berita Penculikan terhadap Siswa SD muncul di beberapa daerah dalam seminggu terakhir.
Upaya Penculikan tersebut di antaranya diketahui terjadi di Lampung, Palembang, dan Jawa Tengah.
Dalam 3 kasus tersebut, para Siswa SD berhasil lolos dari upaya Penculikan.
Sejumlah cara mereka lakukan guna lolos dari para penculik.
• Gigit Tangan Pelaku, 3 Bocah Lolos Dramatis dari Penculikan
• Bocah 9 Tahun Nyaris Jadi Korban Penculikan Saat ke Warung, Pelaku Sebut Ada Pesanan dari Wanita
• Pemilik WO Hidup Glamour Beli Rumah dan Mobil Mewah, Pesta Pernikahan Kliennya Kacau Balau
• Peserta CPNS di Lampung Sembunyikan Ponsel dan Modem di Celana Dalam
Berikut, 3 kisah Siswa SD berhasil lolos dari upaya Penculikan yang terjadi di Lampung, Palembang, dan Jawa Tengah.
1. Mau diculik saat berangkat sekolah
Aksi heroik dua bocah SD menyelamatkan rekannya dari Penculikan viral di media sosial.
Dua bocah itu adalah pelajar kelas IV SDN Jetis, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Mereka berhasil menyelamatkan temannya, yang sudah diambil penculik di dalam mobil.
Berkat aksi keduanya, temannya selamat dari Penculikan.
Bagaimana kisahnya?
Kasus itu mencuat ke publik setelah tersebar luas video amatir kesaksian tiga Siswa SDN Jetis, yang berhasil lolos dari upaya Penculikan para penjahat berkendara minibus.
Kompas.com (grup Tribunlampung.co.id) berkesempatan mengobrol dengan ketiga pelajar SDN Jetis, yang ada dalam video berdurasi 1 menit 30 detik tersebut.
Ketiganya adalah DE (10), AD (10) dan RS (10).
Tiga bocah lucu tersebut adalah teman sebangku kelas IV SDN Jetis dan satu tetangga desa di Kecamatan Karangrayung.
Selama ini, mereka selalu berangkat sekolah berbarengan dengan mengayuh sepeda.
Jarak rumah mereka menuju sekolah hampir satu kilometer dengan melintasi jalan pedesaan yang cukup sepi.
Pada Rabu (5/2/2020) pagi sekitar 06.30 WIB, ketiganya seperti biasa menggenjot sepeda menuju sekolah.
Saat itu, DE berboncengan dengan AD dan RS gowes sendirian.
Ketiganya bersepeda beriringan.
Namun di perjalanan, kurang 20 meter dari SDN Jetis, laju sepeda mereka terhenti setelah diadang oleh satu minibus hitam.
"Kami kaget dan sepeda kami menabrak mobil hitam itu," kata AD.
Seketika itu, seorang laki-laki berkaus hitam keluar dari pintu tengah minibus yang digesernya.
Saat itu pula, ketiga bocah itu samar-samar melihat ada beberapa orang di dalam mobil yang disebut berpelat B.
Laki-laki yang turun dari mobil itu langsung menghampiri dan merayu DE, agar mau ikut masuk ke dalam mobil.
Sosok yang tidak mereka kenal itu menawari DE untuk diajak jalan-jalan, dengan iming-iming uang Rp 1 juta, jajanan, dan permen.
Bahkan, pria itu berusaha membujuk DE dengan meyakinkan bahwa bapak dan ibunya ada di dalam mobil itu.
DE yang pendiam itu tak percaya begitu saja karena tahu orangtuanya merantau di Jakarta.
Selama ini, DE tinggal di kampung bersama kakek neneknya.
"Ayo le melu aku, tak jak jalan-jalan, tak kei duit sak juta karo jajan lan permen. Ojo kesuwen kae lho bapak ibumu ning njero. (Ayo nak ikut saya jalan-jalan. Aku kasih uang sejuta, jajan dan permen. Ayo jangan lama-lama, bapak ibumu itu loh ada di dalam mobil)," kata Pria itu seperti yang ditirukan DE.
DE yang merasa kebingungan pun hanya bisa terdiam dan menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mau.
Saat itu pula, muncul penolakan dari mulut AD dan RS sebagai teman baik DE.
AD dan RS selama ini juga paham bahwa orangtua DE bekerja di Jakarta.
"Ojo gelem. Diapusi kowe, kan bapak ibumu ning Jakarta (jangan mau. Kamu ditipu, bapak ibumu di Jakarta)," sahut AD dan RS dengan lantang bersamaan.
Melihat penolakan-penolakan itu, laki-laki itu kemudian langsung menarik tangan DE.
Ia berupaya membawanya masuk ke dalam mobil di bangku tengah.
Seketika itu pula, AD dan RS memeluk, mencengkeram, dan menarik tubuh DE sembari berteriak meminta pertolongan.
Kedua bocah itu bahkan mengambil batu memukul-mukulkan ke tubuh pria itu serta pintu mobil.
Bocah itu juga menendang dan menggigit tangan pria tersebut.
"Kami gigit tangannya, kami pukul batu ke tubuhnya serta pintu mobil. kami tendang-tendang dan berontak sebisanya. Kami juga berteriak, ada maling !!!," terang AD dan RS.
Penjahat itu akhirnya luntur dengan keberanian AD dan RS yang berusaha keras merebut DE dari aksi Penculikan itu.
Ujung-ujungnya, tangan kuat pria itu pun melepaskan tubuh DE.
DE pun berhasil keluar dari pintu mobil.
Ketiganya lantas terjatuh ke jalan bersamaan dengan kaburnya para penjahat itu.
"Saya langsung sadar kalau itu penculik seperti yang saya lihat di televisi dan di YouTube. Makanya saya berkeras ingin menyelamatkan teman saya. Saat itu kami langsung lapor ke warga dan pak guru," pungkas AD.
Sementara itu, Kepala SDN Jetis, Anggarini Sri Sugati mengatakan, ketiga siswanya tersebut dikenal rajin, berkepribadian baik, dan pemberani.
DE merupakan siswa pindahan dari SD sebelah, sehingga sementara masih mengenakan seragam yang berbeda.
"Mungkin karena parasnya yang ganteng dan kulitnya yang putih, DE jadi sasaran penculik. Mereka itu anak-anak baik dan jujur. Syukur alhamdulilah, mereka lolos dari Penculikan. Kami imbau kepada orangtua untuk mengawasi anak-anaknya," kata Anggarini.
2. Ditolong buruh bangunan
Seorang pelajar SDN 244 Palembang nyaris menjadi korban Penculikan.
Berkat perjuangannya, murid yang diketahui bernama Dika itu berhasil selamat setelah ditolong oleh seorang buruh bangunan.
"Aku tau ceritanya. Dia itu anak kelas 6 tapi satu kelas di tempat ngaji dengan aku," ucapnya, di kantin sekolah, sebagaimana dilansir Sripoku.com (grup Tribunlampung.co.id), Jumat (7/2/2020).
Menurutnya, anak yang hampir diculik itu bernama Dika, siswa kelas 6 yang tinggal di kompleks Pemda Sukarami Kota Palembang
Setelah menyatakan identitas kawannya tersebut, Febi pun lanjut bercerita bahwa kejadian tersebut terjadi pada Sabtu (1/2/2020) lalu.
Bermula sekitar pukul 16.00 WIB, Dika bersama teman-temannya hendak pulang.
Namun saat itu, orangtuanya terlambat menjemput.
Mengetahui Dika terlambat dijemput, teman-temanya mengajak Dika untuk pulang bareng.
Namun, Dika menolak.
Tak lama setelah kawannya jauh, Dika memutuskan untuk pulang sekolah berjalan kaki sendirian.
"Waktu itu kawannya ngajak Dika pulang bareng dia nggak mau. Taunya dia mau pulang sendirian jalan kaki," ucapnya.
Sekitar 700 meter dari sekolah, tiba tiba ada mobil berhenti dan sempat menarik Dika.
Untungnya saat itu, Dika langsung mengelak tangannya ditarik.
Ia langsung lari ke arah tempat pembangunan rumah.
Saat itu, Dika langsung bicara dengan buruh bangunan yang berada di sana bahwa ada penculik.
Mengetahui hal tersebut, para buruh bangunan langsung membawa parang dan mengejar mobil tersebut.
Namun, mobil langsung kabur.
"Iya, jadi Dika lari ke tukang perumahan, nah masih mobil tu ngejar. Setelah dilihatnya tukang bawa parang, lari mobil Xenia itu," ucapnya.
3. Korban gigit tangan penculik
Di Lampung, percobaan Penculikan dialami seorang siswi SD.
Peristiwa detik-detik siswi SD kabur dari penculik dialami korban RO (10).
RO merupakan siswi SD kelas 5 yang berasal dari Rajabasa, Lampung Selatan.
Dalam upayanya kabur dari percobaan Penculikan, ia gigit tangan seorang pelaku lalu lari.
Bagaimana kronologi kasus Penculikan tersebut?
Kapolsek Kalianda, Iptu Dedi Suhendi mewakili Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edi Purnomo, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (29/1/2020) sekitar pukul 12.30 WIB.
Saat itu, kata Dedi Suhendi, RO dan seorang temannya DA, sedang berjalan kaki sepulang sekolah.
Namun tiba-tiba, ia dihampiri pelaku yang diduga akan menculiknya.
“Tiba-tiba, seorang pelaku merangkul leher koban," kata Dedi Suhendi, Rabu (29/1/2020).
"Pelaku lalu menyeret korban sejauh 20 meter untuk masuk ke mobil mini bus."
"Satu pelaku lainnya mengejar DA (10) yang melarikan diri,” lanjut Dedi Suhendi.
Pelaku berhasil membawa RO ke dalam mobil.
Namun saat di dalam mobil tersebut, siswi SD itu gigit tangan pelaku.
Korban pun terlepas dari cengkeraman pelaku.
Ia lalu melarikan diri keluar mobil.
Dedi menuturkan, pelaku sempat mengambil kayu.
Pelaku lalu memukul kaki korban.
Tetapi, korban berhasil melarikan diri.
Ia pun berteriak minta tolong.
Korban RO dan temannya DA, selamat dari aksi Penculikan para pelaku.
“Setiba di rumah, korban bercerita kepada orangtuanya," kata Dedi Suhendi.
"Kemudian, bersama warga, orangtua korban berusaha mengejar pelaku. Tetapi, mobil pelaku tidak terkejar,” imbuh Dedi Sehendi.
Menurut Dedi Suhendi, pelaku diduga berjumlah 5 orang.
Polisi, terus Dedi Suhendi, masih menyelidiki para pelaku.
Sejauh ini, kata Dedi Suhendi, motif para pelaku belum diketahui .
“Kami telah meminta keterangan beberapa saksi, dan kami masih menyelidiki para pelakunya,” kata Dedi Suhendi.
Para Siswa SD yang nyaris jadi korban Penculikan di Lampung, Palembang, dan Jawa Tengah, berhasil lolos dari upaya Penculikan. (Tribunlampung.co.id)