Video Berita

VIDEO CONTENT Gadai Motor untuk Talangi BOS

Sudah bertahun-tahun penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telat.

Penulis: Wahyu Iskandar | Editor: Reny Fitriani

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sudah bertahun-tahun penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telat. Kepala sekolah pun harus putar otak untuk bisa menalangi biaya operasional sekolahnya. Ada yang menalangi dengan uang pribadi, pinjam ke koperasi, bahkan sampai menggadaikan BPKB motor.

Wahyu Darma, Kepala SD Sidodadi Kampung Sungai Nibung Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang mengatakan, dana BOS selalu telat setiap tahun.

Padahal dana BOS itu digunakan untuk banyak hal. Mulai dari membiayai uang semester, membeli alat tulis sekolah, membayar honor guru, termasuk kegiatan siswa seperti olimpiade, festival seni, hingga kegiatan olahraga yang sudah terjadwal.

"Ketika telat, kami harus berpikir keras mencari pinjaman agar operasional sekolah tetap berjalan sembari menunggu dana BOS cair," tuturnya, Rabu (12/2).

VIDEO Teaser Ratusan Randis Rusak Berat, Cat Pudar hingga Bamper Lepas

VIDEO CONTENT Aset Terbengkalai di Lampung, Jadi Tempat Pacaran hingga Rumah bagi Tunawisma

Gadis Indonesia Jual Keperawanan Lewat Agensi Internasional Cinderella Escorts

Warga Temukan Emas Batangan Bergambar Soekarno, Ini Hasil Pengecekan Polisi

Wahyu mengaku, sampai pernah menggadaikan BPKD sepeda motornya untuk meminjam uang di Koperasi BMR di wilayahnya.

Untuk operasional sekolah, kada Wahyu, triwulan pertama dan ketiga dibutuhkan sekitar Rp 5 juta-Rp 10 juta. Namun untuk triwulan kedua bisa mencapai di atas Rp 10 juta. "Kenapa biaya operasional triwulan kedua lebih besar, karena ada kegiatan OSN, O2SN dan FLS2N," papar Wahyu.

Tonton juga video YouTube lainnya di bawah ini.

Uang Panen Singkong

Hal serupa dialami SMK Negeri 1 Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Menurut Kepala SMK Negeri 1 Kotabumi Zainal Abidin, sudah dari tahun ke tahun dana BOS telat.

Dan sudah selama 6 tahun terakhir, dirinya pontang panting mencari dana talangan agar sekolah bisa bertahan. Bahkan ia menggunakan dana pribadi dari hasil panen singkongnya.

"Yang paling utama itu adalah jangan sampai gaji guru honorer telat. Sebab, mereka kan tidak mendapat gaji seperti PNS," jelasnya.

Ia menuturkan, dari 80 guru di SMKN 1 Kotabumi, sebanyak 20 guru berstatus honorer dan sisanya sebagai PNS. Lalu staf tata usaha ada 22 dan yang PNS hanya 9 orang serta sisanya berstatus honorer.

Selain membayar guru honorer, dana BOS juga digunakan untuk membeli alat tulis kantor. Karena BOS kerap telat, pihak sekolah biasanya berutang dengan penyedia barang. Pembayaran akan dilakukan setelah dana BOS cair.

"Pokoknya kita berutang kemana saja. Kadang kita juga berutang sama koperasi sekolah," jelasnya.

Pihak sekolah mendapat jatah BOS pada Januari, Mei dan September. Namun dalam pencairannya, untuk Januari, baru cair pada April. Begitu juga dengan bulan lainnya, selalu telat.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved