Putra Mahkota Mohammed bin Salman Dikabarkan Bertemu PM Israel, Penjelasan Menlu Arab Saudi

Pangeran Faisal juga mengomentari rencana pertemuan antara Netanyahu dengan Ketua Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman Dikabarkan Bertemu PM Israel, Penjelasan Menlu Arab Saudi
(Reuters via BBC)
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman ( MBS) tidak punya rencana bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pertemuan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ( MBS) dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hanya rumor. 

Pekan lalu, media Israel Hayom mengabarkan, terdapat diskusi antara AS, Saudi, Mesir, maupun Tel Aviv untuk menggelar pertemuan di Kairo.

Nantinya, agenda tersebut juga akan diikuti oleh perwakilan dari Uni Emirat Arab, Sudan, Oman, serta Bahrain. Berdasarkan sumber diplomat Arab, Putra Mahkota MBS bisa membantu PM Israel untuk menangkal suara oposisi, maupun tuduhan korupsi yang tengah disangkutkan kepadanya.

"Kebijakan Arab Saudi telah sangat jelas sejak bermulanya konflik ini. Tidak ada hubungan antara pemerintah Arab Saudi dengan Israel dan kerajaan Saudi berpihak kepada Palestina," ujarnya dilansir AFP Kamis (13/2/2020).

Anak Raja Arab Saudi Ditipu Jual Beli Tanah di Bali, Alami Kerugian Rp 512 Miliar

Tiga Pangeran Arab Saudi dan Putri Kerajaan yang Bernasib Tragis Meski Bergelimang Harta

Bakal Dipamerkan di Abu Dhabi, Ini Lukisan Termahal di Dunia yang Dibeli Pangeran Arab

Seperti kebanyakan negara Arab, Saudi tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan pemerintah Israel. Meski begitu, Riyadh berbagi musuh yang sama, yakni Iran, di mana kedua negara mulai menunjukkan hubungan yang hangat.

Pada akhir Januari lalu, Pangeran Faisal memberi tahu CNN warga Israel masih belum diizinkan untuk berkunjung ke negeri petrodollar tersebut.

Pernyataan itu disampaikan setelah Tel Aviv memberikan lampu bagi warganya yang Muslim maupun Yahudi untuk datang ke Saudi, baik untuk umrah maupun bisnis.

Lebih lanjut, Pangeran Faisal juga mengomentari rencana pertemuan antara Netanyahu dengan Ketua Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan.

Pertemuan antara Sudan dan Israel sendiri, dilansir dari The East African, membahas tentang hubungan bilateral antar negara.

Kedua pemimpin negara sepakat untuk melakukan normalisasi hubungan yang sebelumnya belum pernah dijalin selama kurun lima dekade terakhir.

"Sudan adalah negara merdeka. Mereka bebas mengatur nilai kepentingan kedaulatan negara mereka sendiri," jelas Faisal. Rencana pertemuan itu mendapat reaksi politik berupa penolakan di Khartoum.

Seperti yang diutarakan pimpinan pasukan perdamaian, Satie al-Hajj. Dia mengatakan bahwa Sudan tidak akan pernah melakukan normalisasi hubungan dengan Israel demi alasan kepentingan kemanusiaan.

Sudan merupakan satu dari sekian negara di Liga Arab yang melawan Israel. Mereka memprotes Israel yang menduduki wilayah Palestina. (Artikel ini telah tayang di Kompas.com)

Editor: Romi Rinando
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved