Flyover Rajabasa Sudah Beroperasi, Pedagang Turun Omzet 50 Persen
Ternyata tidak semua warga merasa diuntungkan dengan keberadaan flyover yang membentang antara Jalan Kapten Abdul Haq-Jalan H Komarudin itu.
Penulis: Vincensius Soma Ferrer | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Selesainya pembangunan flyover Rajabasa disambut suka cita oleh warga Bandar Lampung.
Namun, ternyata tidak semua warga merasa diuntungkan dengan keberadaan flyover yang membentang antara Jalan Kapten Abdul Haq-Jalan H Komarudin itu.
Salah satunya Simanjuntak (34), pedagang yang berada di bawah jalan layang tersebut.
Ia mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak ada flyover Rajabasa.
• Sempat Molor, Flyover Rajabasa Akan Diresmikan Pertengahan Bulan Ini
• Bakal Diresmikan Pertengahan Maret, Pekerja Kebut Finishing Flyover Abdul Haq-Komarudin
"Warung saya, walau tetap ada yang beli di sini, hitungannya tidak sebanyak kemarin saat flyover itu belum dibuka untuk bisa dilewati," ujarnya, Rabu (18/3/2020).
Sebelumnya ia mengaku bisa mendapatkan omzet Rp 500 ribu per harinya.
Sementara sekarang hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari.
"Sekarang Rp 200 (ribu) rata-rata. Sebelumnya bisa sampai setengah juta," ucapnya.
Ia hanya mengharapkan pendapatan dari pengendara dari Jalan Soekarno-Hatta (Bypass).
"Sekarang sih cuma mengandalkan lajur Bypass ini," jelasnya.
Ovi (20), pengendara motor, mengaku merasakan dampak positif dengan beroperasinya flyover Rajabasa.
"Lancar ya, Mas. Berbeda dengan saat masih ditutup. Kemarin masih harus ambil jalan memutar dulu di Bypass," ujar Ovi.
Tak jarang juga ia melihat beberapa pengendara motor yang menerobos palang yang ada untuk mempersingkat waktu tempuh.
"Sering kemarin itu ada yang menerobos jalan," akunya.
Namun, dilihat dari sisi bawah, Ovi menerangkan lebar jalan masih terlalu sempit. Terlebih saat kendaraan besar melewati jalan tersebut.